Virus Corona di Surabaya
Syarat UTBK SBMPTN 2020 Wajib Rapid Test, Kata Pakar Tak Efektif, Cukup Disiplin Protokol Covid-19
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mewajibkan UTBK SBMPTN 2020 untuk menunjukkan hasil rapid test non reaktif atau tes swab negatif.
Penulis: Zainal Arif | Editor: Arie Noer Rachmawati
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Keputusan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mewajibkan UTBK SBMPTN 2020 untuk menunjukkan hasil rapid test non reaktif atau tes swab negatif mendapat respons dari berbagai kalangan.
Setelah TribunJatim.com melakukan penelusuran kepada beberapa peserta UTBK, peraturan tersebut dinilai memberikan beban.
Pasalnya, aturan yang di keluarkan pada 2 Juli itu dianggap mendadak karena jarak rapid test dengan waktu pelaksanaan UTBK yang terbilang mepet.
• Sebaran Covid-19 Masih Tinggi, Satpol PP Kota Kediri Imbau Acara Gantangan Burung Dihentikan
Satu di antara peserta UTBK Universitas Airlangga Surabaya Jurusan Psikologi, Achmad Anfasa mengaku merasa kebingungan dengan munculnya peraturan hasil rapit test non reaktif sebagai syarat UTBK.
"Sebelumnya (saat sebelum ada aturan test rapid) saat pendaftaran UTBK itu saya tanya kepada panitia 'pakai test rapid nggak pak' mereka bilang tidak diwajibkan, eh tiba-tiba kemarin tanggal 2 dikabarin test rapid jadi syarat wajib ikut UTBK," ujar calon mahasiswa dari Surabaya saat melakukan rapid test di Klinik Modern Dasa Medika Surabaya, Sabtu (4/7/2020).
Tak hanya itu, ia juga merasa kesusahan saat mencari tempat untuk melakukan rapid test yang murah.
• VIRAL Kisah Pasangan Awalnya Dikira Sejenis, Semua Terbantah saat Nikah, Si Cewek Disoroti: Pangling
• Ashanty Bangga Single Aurel Trending YouTube, Bocorkan Peran Besar Anang Hermansyah: Diomelin Terus
"Saya nanya-nanya teman di mana rapid test yang paling murah, jadi saya tanya yang sudah-sudah test rapid, ditambah lagi saya awalnya takut ngomong sama orangtua, karena harus keluar uang yang tidak sedikit untuk tes," ujarnya.
Sementara itu, dr Shelivia Destiana selaku Dokter Umum yang bertugas untuk melakukan test terhadap mahasiswa menilai rapid test ini tidak efisien untuk dilakukan.
"Menurut saya sih tidak efisien karena sebetulnya dengan menerapkan phisycal distancing saat ujian saya rasa itu sudah cukup. Mungkin karena jumlah kasus di Surabaya tertinggi dibanding daerah lain (black zone) yang membuat aturan ini kemudian diberlakukan," ungkap dr Shelivia.
• Beredar Kabar Whisnu Sakti Buana Dapat Rekom PDIP di Pilkada Surabaya 2020, WS Buka Suara: Belum Ada
"Saya tidak bisa menjamin, karena rapid test sebetulnya hanya screnning awal, tingkat akurasinya hanya 30-40 persen," imbuhnya.
Dibalik itu semua, dr Shelivia Destiana justru merasa iba kepada para peserta UTBK yang harus terburu-buru untuk melakukan test.
"Mereka (peserta UTBK) sampai harus keluar kota untuk bisa test, karena di mana-mana penuh, dan antre hingga kejalan," ujarnya.
• Pusat UTBK SBMPTN Universitas Airlangga Sediakan 6 Lokasi, Peserta Dicek Suhu saat Masuk Gerbang
Di lain pihak, Pemerhati Pendidikan dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Dr Martadi M.Sn menilai Pemerintah Kota Surabaya mengeluarkan aturan tersebut didasari prinsip kehati-hatian dikarenakan ada ribuan orang dari berbagai daerah di Jatim atau luar jatim dengan kondisi daerah yang beragam (ada merah, orange, kuning, hijau) yang masuk wilayah Surabaya.
"Kondisi Surabaya masih kategori merah, dilihat dari sisi positifnya saja, mungkin pemerintah kota berniat untuk memastikan penyebaran Covid-19 di Surabaya tidak bertambah," kata Martadi kepada TribunJatim, Sabtu (4/7/2020).
Namun sejatinya penyelenggaraan UTKB sepenuhnya ada di Dirjendikti Kemdikbud atau PT pelaksana di mana tidak mensyaratkan adanya rapid test atau tes swab.
• Keasyikan Bercanda Main Perahu di Sungai sampai Air Masuk, Dua Bocah di Tulungagung Tewas Tenggelam
"Secara aturan bagi calon mahasiswa yang membawa atau tidak hasil rapid test, peserta tetap punya hak untuk mengikuti UTBK, Karena test rapid hanya syarat untuk memasuki wilayah Surabaya dalam rangka akan mengikuti test UTBK, bukan syarat mengikuti UTKB itu sendiri," ujarnya.
Karena aturan tersebut terbilang mendadak, pria yang juga menjabat sebagai Kepala Bidang Pengembangan Profesi Pendidik Unesa ini menawarkan beberapa solusi agar UTBK dapat berjalan dengan baik.
Pertama, perlu diperbanyak tempat untuk bisa test rapid agar tidak terkonsentrasi di satu tempat.
• Download PDF Contoh Soal UTBK-SBMPTN 2020 Disertai Jawaban, Ada Soal Tes Potensi Skolastik/TPS
Kedua yang dari luar daerah disarankan test rapid di wilayah masing-masing.
Ketiga, bagi anak Surabaya yang tidak mampu, harus difasilitasi agar tidak terbebani biaya.
Keempat, apabila ada anak yang reaktif, maka harus diperbolehkan ujian susulan agar tidak menghilangkan hak anak. Segera difasilitasi untuk rescheduling UTBK susulan.
Kelima, kalau terjadi kemungkinan paling buruk, anak tidak sempat rapid karena sesuatu hal, maka tetap harus dibolehkan tetap mengikuti UTKB.
Karena yang memutuskan boleh tidaknya test adalah panitia penyelenggara, bukan pemerintah kota.
Dan yang terakhir panitia UTBK dan gugus tugas Covid Jatim dan Surabaya harus saling bersinergi untuk memastikan UTKB berjalan lancar dan Covid-19 di Jatim tetap bisa dikendalikan.
Penulis: Zainal Arif
Editor: Arie Noer Rachmawati