Sekolah Secara Daring, Pengajar Sekolah Inklusi di Surabaya : Ternyata Lebih Rumit

Salah satunya Anisa Tristianti, guru inklusi di Sekolah Dasar Negeri Sutorejo, Surabaya ini mengaku mendapatkan pengalaman baru.

Tayang:
Penulis: Mayang Essa | Editor: Yoni Iskandar
mayang essa/Tribunjatim.com
Anisa Tristianti, Guru inklusi di Sekolah Dasar Negeri Sutorejo saat memberikan pembelajaran secara daring, Rabu (15/7/2020). 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Mayang Essa

 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Belajar melalui daring sejak pandemi Covid-19 menimbulkan beragam respon pro dan kontra dari masyarakat. 

Bukan hanya dikeluhkan siswa dan orang tuanya, metode daring juga memiliki kendala bagi para pengajar yang harus memberikan materi untuk para siswanya yang berkebutuhan khusus di sekolah inklusi misalnya. 

Salah satunya Anisa Tristianti, guru inklusi di Sekolah Dasar Negeri Sutorejo, Surabaya ini mengaku mendapatkan pengalaman baru.

Pasalnya  dalam satu pelajaran siswa yang memiliki kebutuhan khusus, mereka hanya mampu bertahan di depan laptop hanya 15 menit. 

Namun yang berbeda, pembelajaran untuk siswa inklusi ini dilakukan dengan metode lain, yaitu dengan memberikan soal atau materi yang disesuaikan dengan kemampuan siswanya. 

Terminal Bus Trenggalek Masih Minim Penumpang, Penumpang Bisa Dihitung dengan Jari

Hana Hanifah Terjerat Dugaan Prostitusi Online, Minta Maaf & Tegaskan Statusnya: Hanya Sebagai Saksi

Pasien Covid-19 di Malang Kabur dari Rumah Sakit dan Datangi Tukang Ojek Mangkal, Videonya Viral

"Pasti kesusahan belajar dengan siswa yang normal saja susah apalagi untuk siswa berkebutuhan khusus, akhirnya kita memberikan materi dan jumlah soalnya di sesuaikan dengan kemampuan siswa jadi masih bisa mengikuti tema dan pembelajaran seperti anak reguler," ungkap Anisa, Rabu (15/7/2020).

Lebih lanjut, Ia memberikan kemudahan untuk siswa inklusinya. Yaitu dengan memberikan materi di luar daring dengan melihat tayangan televisi di TVRI namun tetap dengan menyederhanakan materi. 

"Kalo yang d luar daring biasanya tak suruh lihat TVRI saja trus soalnya juga tak sederhanakan sesuai materi, namun sebelumnya jika mengajar kelas 6 semester 2 mungkin anak- anak sudah biasa mengerjakan soal jadi aku kasih soal lewat daring. Kalau sekarang kelas baru dan murid baru jadi lebih sulit mengidentifikasi siswa,"ungkapnya.

Adapun sinergi positive dengan pembelajaran melalui daring untuk para siswa inklusi, setidaknya jika daring orang tua bisa mendekatkan diri dan lebih dekat mendampingi siswa. 

Bahkan kondisi seperti ini bisa memajukan kualitas pengajar, menjadi lebih milenial harus membuat materi yang lebih kreatif agar siswa lebih tertarik dan bersemangat. 

 "Tapi ya namanya guru harus mau berubah menjadi milenial dalam menghadapi Pandemi covid ini jadi harus lebih kreatif membuat materi agar siswa lebih tertarik dan lebih bersemangat," ungkapnya.

Sumber: Tribun Jatim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved