Sulawesi Utara
Selamat Datang di Superhub PDIP Jatim

Petani Kabupaten Malang Merana Harga Cabai Anjlok, Pilih Tidak Panen: Tak Sebanding Biaya Produksi

Petani Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang merana harga cabai anjlok. Pilih tak panen, tak sebanding dengan biaya produksi.

Penulis: Erwin Wicaksono | Editor: Hefty Suud
SURYAMALANG.COM/ERWIN WICAKCONO
Ketua KTNA (Kontak Tani Nelayan Andalan) Kecamatan Poncokusumo, Syaiful Asyari menunjukkan cabai yang tidak dipanen petani ketika ditemui pada Kamis (4/9/2020). 

TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Di tengah gembar-gembor keberhasilan ekspor komoditas pertanian yang didengungkan pemerintah, terbesit kenyataan yang sungguh ironis.

Petani di Desa Wonorejo, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang merana, ungkap harga cabai anjlok

Alhasil, petani memilih tidak melakukan panen, karena tak sebanding dengan biaya produksi.

Kursi DPRD Terbagi untuk Salim-Ifan dan Hendy-Gus Firjaun, 0 untuk Petahana Pilkada Jember 2020

Gudang Pabrik Produksi Springbed di Menganti Gresik Ludes Terbakar

"Cabai harganya sangat murah sehingga tidak sebanding dengan biaya produksi," papar Ketua KTNA ( Kontak Tani Nelayan Andalan ) Kecamatan Poncokusumo, Syaiful Asyari ketika ditemui pada Kamis (4/9/2020).

Syaiful menuturkan, harga cabai di pasaran normalnya berkisar Rp 50 ribu per kilogram.

"Sedangkan saat ini di tingkat petani hanya kisaran Rp 6 ribu hingga Rp 7 ribu per kilogramnya," ungkap Syaiful. 

Video Bocah di Malang Dihajar Ibunya Pakai Selang Gegara Tak Paham Matematika, Polisi Turun Tangan

Kronologi Penemuan Mayat Waria Tewas di Salon Bangkalan, Saksinya Pelanggan Potong Rambut: Kosong

Pandemi virus Corona (  Covid-19 ) ditengarai jadi penyebab anjloknya harga cabai. Permintaan pasar yang menurun drastis juga jadi biang kerok.

"Sekarang sebenarnya panen raya. Tapi serapannya sangat kurang," terang Syaiful.

Wilayah Poncokusomo sejatinya merupakan penghasil cabai yang potensial. Karena produktifitas panen cabai begitu melimpah. 

"Cabai akumulasi satu kecamatan per hari kita hitung itu 40 ton per hari," kata Syaiful.

Akibat pandemi corona, petani cabai di Poncokusumo terpaksa meratapi kerugian.

"Ruginya ya Rp 50 juta per hektar," jelas Syaiful.

Karena merugi, petani cabai melakukan tindakan rasional. Mereka beralih menanam bawang dan buah-buahan.

"Harga sayuran yang masih stabil  saat ini ucet. Mungkin di pasaran langka. Ucet Rp 8 ribu per kilogram," terang Syaiful.

Ironi juga terjadi di sektor pertanian kubis. Harga kubis malah lebih mengenaskan. Saat ini dipatok Rp 300 per kilogram.

"Padahal produksinya bisa per hari 50 ton untuk kubis. Namun dijual 300 Rupiah per kilogram," tutur Syaiful.

Syaiful menerangkan, jika petani saat ini seakan tidak punya pilihan meratapi kenyataan harga yang anjlok. 

"Petani sementara duduk manis. Karena panennya murah," terang Syaiful. (ew)

Penulis: Erwin Wicaksono

Editor: Heftys Suud

Sumber: Tribun Jatim
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved