Breaking News:

Jual Beli Pil Ekstasi, 2 Terdakwa Sindikat Jaringan Lapas Porong dan Madiun Dituntut 9 Tahun Penjara

Dua pria terlibat sindikat peredaran pil ekstasi jaringan Lapas Porong dan Madiun. Pengadilan Negeri Surabaya tuntut penjara 9 tahun.

Penulis: Samsul Arifin | Editor: Hefty Suud
TRIBUNJATIM.COM/SAMSUL ARIFIN
Dua terdakwa William dan Achmad saat jalani sidang di PN Surabaya secara daring, Senin (7/9/2020).  

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Syamsul Arifin 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - William Putra Penjaya dan Achmad Muchammad dituntut sembilan tahun penjara atas kasus narkotika.

Diketahui, dua orang tersebut merupakan sindikat peredaran pil ekstasi jaringan Lapas Porong dan Madiun.

Dua terdakwa ini terbukti melanggar pasal 114 ayat (2) dan Pasal 112 ayat (2) Jo Pasal 132 ayat (1) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. 

Peringati HPN di Tengah Pandemi Covid-19, BPJS Tanjung Perak Surabaya Gelar Rapid Test Gratis

5 Tips Menjaga Kenyamanan Pakai Masker di Tengah Cuaca Panas, Pilih Bahan yang Tepat & Bawa Cadangan

Tuntutan kedua terdakwa ini dibacakan secara terpisah dalam sidang di Pengadilan Negeri Surabaya, Senin, (7/9/2020). 

“Memohon kepada ketua majelis hakim memberikan hukuman selama sembilan tahun penjara dengan denda Rp 1 Miliar subsider hukuman penjara selama enam bulan,” kata JPU Kejari Surabaya Suparlan saat bacakan surat tuntutan. 

Mendengar tuntutan tersebut kedua terdakwa melalui penasehat hukumnya akan ajukan pembelaan pada sidang selanjutnya. 

Vanessa Angel Sudah Jatuh Tertimpa Tangga, IG Sumber Penghasilannya Lenyap: Sehat Tapi Tak Semangat

Mbak Lala Si Pengasuh Ingin Kuliah, Raffi Ahmad Langsung Tanggung Biaya, Rafathar: Bisa Ngomong Bule

Sementara itu, Ketua Hakim Martin Ginting dalam persidangan memberi kesempatan seminggu untuk pengajuan pledoi kepada kedua terdakwa. 

“Oke ya, senin depan untuk pembelaan. Sidang kami tutup,” kata Ginting. 

Diketahui keduanya merupakan sindikat peredaran pil ekstasi jaringan Lapas Porong dan Madiun.

Keduanya terlibat transaksi jual beli dan mendapat ratusan pil ekstasi dari seseorang bernama Cece yang ada di dalam lapas. 

Selain itu, terdakwa Wiliam juga pernah empat kali menjual Extacy kepada Andi alias Ferdandi, yaitu, pada Oktober 2019 sebanyak 5 ribu butir Extacy logo Gold dengan harga Rp 775 juta dan 7.500 butir Extacy logo Superman dengan harga Rp 1.1 miliar. 

Lalu pada bulan Desember 2019 sebanyak 10 butir pil Extacy logo Superman dengan harga Rp. 1.5 juta dan pada Januari 2020 sebanyak 10.150 butir pil extacy logo Heineken dengan harga Rp. 1.5 miliar serta terakhir pada 30 Januari 2020 menjual 60 butir pil Extacy dengan harga Rp. 9.3 juta. 

Penulis: Syamsul Arifin

Editor: Heftys Suud

Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved