Pelanggan Batik Ki Ronggo sudah tersebar di luar Pulau Jawa
Cicilia Eka Putri warga Desa Sumbersuko, Klabang, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur membangun bisnis batik yang bermerk 'Batik Ki Ronggo'
Penulis: Danendra Kusuma | Editor: Yoni Iskandar
TRIBUNJATIM.COM, BONDOWOSO - Cicilia Eka Putri warga Desa Sumbersuko, Klabang, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur membangun bisnis batik yang bermerk 'Batik Ki Ronggo'. Saat ini, bisnis bidang busana itu cukup berkembang.
Daya tarik batik Ki Ronggo bukan hanya dari segi warna yang cerah. Cicilia berinovasi untuk membuat batik modern, di antaranya model gaun dan jas. Sebelumnya, Cecilia membuat kemeja batik saja.
"Karena saya menyasar pasar anak muda, model batik saya kembangkan dengan membuat jas dan gaun. Selain itu, adapula masker, hijab, dan syal batik. Pelanggan juga bisa pesan sesuai permintaan," katanya kepada TribunJatim.com, Sabtu (19/9).
Cicilia memproduksi batik jenis cap dan tulis yang dipadu dengan teknik melukis. Batik buatannya dibanderol dengan harga beragam. Untuk batik cap dijual mulai Rp 120.000. Sedangkan batik tulis dibanderol dengan harga Rp 250.000.
Di masa pandemi, produk yang paling laris yakni masker batik. Masker batik ia jual dengan harga Rp 20.000.
"Masker batik sebulan bisa laku 10 lusin. Jas dan gaun batik juga tak kalah laris. Tiap bulan terjual 10 pcs," sebutnya kepada TribunJatim.com.
• Segel Pole Position MotoGP Emilia Romagna 2020: Vinales Jangan Gembira Dulu, Kutukan Menantimu
• Deklarasi Dukung Eri-Armuji di Depan Hotel Mojopahit Surabaya, TMP Tiru Semangat Pahlawan
• Homebase Belum Jelas, Pelatih Persebaya Tegaskan Siap Main di Mana Saja, Termasuk di Luar Jawa Timur
Cicilia memanfaatkan media sosial (medsos) untuk memasarkan produknya. Media sosial itu yakni Facebook dan Instagram. Pemasaran lewat medsos membuat Batik Ki Ronggo makin dikenal luas. Tak pelak, pelanggan Batik Ki Ronggo saat ini sudah tersebar diberbagai daerah.
"Awalnya hanya warga Bondowoso. Tetapi kini pelanggan saya sudah sampai Palembang, Pekanbaru, Banjarmasin, dan Makassar," sebutnya.
Ia menceritakan, saat ini ia sedang mengembangkan konsep batik baru. Konsep baru itu ia sebut dengan batik lorengen. Kendati begitu, ia tak mengubah ciri khas batik Bondowoso, yakni bermotif kopi, singkong, singo dan blue fire.
Ide konsep baru itu muncul dari kesalahan proses pewarnaan. Goresan tinta tiba-tiba meluber di luar garis motif. Setelah ia dinginkan, justru muncul bercak-bercak.
"Waktu saya lihat, bercak-bercak itu makin mempercantik tampilan kain. Awalnya, bercak-bercak dalam kain hanya satu warna, yakni hitam. Kini, saya kembangkan dengan berbagai warna cerah di antarnaya merah, hijau muda dan kuning. Harga batik lorengen dibanderol Rp 200.000," bebernya.
Ia mengaku, di masa pagebluk Covid-19, penjualan Batik Ki Ronggo masih stabil. Sebab, Pemkab Bondowoso mewajibkan Pegawai Negeri Sipil (PNS) untuk mengenakan batik khas Bondowoso. Sehingga banyak PNS yang memesan batik di Cicilia.
Selain itu, rencananya Pemkab Bandowoso bakal membuat pameran UMKM mini. Itu agar pelaku UMKM bisa bertahan di masa pandemi. Gelaran pameran UMKM nantinya berbeda dengan biasanya, jumlah pengunjung dibatasi serta menerapkan protokol kesehatan.
"Penjualan terbantu dengan aturan Pemkab Bondowoso itu yang mewajibkan pegawai tiap Selasa, Kamis, dan Jumat berbatik. Itu membuat bisnis saya bisa bertahan di masa pandemi Covid-19," ucapnya.
Di sisi lain, Bisnis Batik Kironggo dibangun oleh Cecilia dengan jerih payah. Modal awal bisnis Batik Ki Ronggo hanya Rp 500.000. Karena modal membangun bisnis tak banyak, ia terpaksa berhutang.
"Modal saya sedikit, hanya Rp 500.000. Tapi saya bertekad untuk membangun bisnis batik ini. Alhamdulillah, bisnis Batik Ki Ronggo kini sudah berkembang. Saya mendapatkan omzet Rp 50 juta tiap bulan," pungkasnya. (nen/Tribunjatim.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/khofifah-borong-batik-tulis-tanjung-bumi-dorong-pemulihan-ekonomi-di-unit-usaha-pengrajin-batik.jpg)