Petani Tomat di Pacet Mojokerto Rugi Puluhan Juta, Harga Tomat Terjun Bebas
Harga komoditas hortikultura tomat di kalangan petani Pacet, Kabupaten Mojokerto kini terjun bebas bahkan menyentuh Rp 700 per kilogram.
Penulis: Mohammad Romadoni | Editor: Yoni Iskandar
TRIBUNJATIM.COM, MOJOKERTO - Harga komoditas hortikultura tomat di kalangan petani Pacet, Kabupaten Mojokerto kini terjun bebas bahkan menyentuh Rp 700 per kilogram.
Merosotnya harga jual tomat di kalangan petani lokal ini ditengarai dipicu banyaknya pasokan dari berbagai daerah di Jawa Timur khususnya masa panen yang nyaris bersamaan di kawasan Pacet Mojokerto.
Sehingga, dampaknya begitu dirasakan oleh petani yang menanggung kerugian mencapai puluhan juta akibat harga tomat di pasaran anjlok signifikan. Bahkan kebanyakan petani sengaja tidak memanen hasil tanaman tomat justru membiarkannya begitu saja di lahan tersebut.
"Iya, tomat sangat-sangat murah hancur harganya kemarin sempat menyentuh harga Rp.700 rupiah per kilogram," kata Suryanto, petani tomat di Desa Pacet kepada Surya.co.id, Minggu (20/9/2020).
Menurut Suryanto (53), harga normal tomat dari petani di sini yaitu minimal Rp.4.500 sampai Rp.5.000 per kilogram dan jika tanaman bagus maka petani bisa balik modal tanam.
Sebab, apabila kondisi tanaman bagus jika dikalkulasi satu pohon minimal dapat menghasilkan satu kilogram sampai 1,5 kilogram tomat. Sedangkan, Break Even Point (BEP) dalam biaya tanam untuk satu pohon itu membutuhkan modal sekitar Rp. 4000 hingga Rp. 4300.
• Krian United Juara BHS Cup 2020
• NEWS VIDEO - Lecehkan Gerakan Salat, 4 Bocah Sampang Ini Dihukum 1 Bulan Bersih-bersih Masjid
• Inilah Foto Via Vallen saat SMP di Surabaya, Lihat Bedanya dengan Sekarang
"Kalau satu pohon minimal mendapat satu kilogram tomat kita kan sudah rugi apalagi harga tomat dipasaran segitu sangat jauh dibawah harga biaya tanam. Kalau bisa harga tomat di atas Rp.5.000 atau Rp 6.000 agar petani dapat untung sedikit dan bisa balik modal tanam," paparnya kepada TribunJatim.com.
Suryanto menyebut tanaman tomat miliknya di lahan seluas kurang lebih satu hektare itu sengaja dibiarkan begitu saja tidak dipanen. Namun, secara mendadak harga tomat di pasaran sangat murah saat menjelang musim panen.
Dia membongkar tanaman tomat siap panen itu lantaran kalau dipanen justru semakin merugi tidak mencukupi biaya operasional dan balik modal tanam.
"Iya buat apa, barangkali ada orang, tetangga atau siapapun yang membutuhkan tomat untuk dikonsumsi silahkan dipetik saja. Kalau kerugian tomat biaya tanam saja sekitar Rp.40 juta sampai Rp.50 juta," bebernya kepada TribunJatim.com.
Dia menduga penyebab harga tomat murah dipasaran lantaran saking banyaknya ketersediaan barang di pasaran sehingga menekan harga komoditas tersebut. Hasil produksi berlimpah tidak sepenuhnya diserap pasar sehingga terjadi kelebihan barang dan murah.
"Kalau soal konsumen tetap tidak berkurang justru yang semakin bertambah banyak adalah pengirim komoditas tomat lebih besar itu daripada peminatnya," terangnya.
Sampai saat ini, hasil komoditas tomat dari petani lokal ini belum ada yang menyerap dari kalangan industri maupun lainnya.
Padahal, petani berharap ada badan usaha atau koperasi yang dapat menyerap hasil panen mereka untuk diteruskan ke perusahaan atau korporasi yang membutuhkan bahan baku tomat segar.
"Kalau ada koperasi bisa menyerap komoditas hasil panen petani dipastikan harga tomat tidak terlalu anjlok begini," ucap Suryanto.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/berita-mojokerto-petani-tomat-pacet-kabupaten-mojokerto-bagikan-tomat-secara-gratis.jpg)