Petani Tomat di Pacet Mojokerto Rugi Puluhan Juta, Harga Tomat Terjun Bebas
Harga komoditas hortikultura tomat di kalangan petani Pacet, Kabupaten Mojokerto kini terjun bebas bahkan menyentuh Rp 700 per kilogram.
Penulis: Mohammad Romadoni | Editor: Yoni Iskandar
Keluhan dari petani ini segera ditindak lanjuti oleh Dinas Pangan dan Perikanan Kabupaten Mojokerto akan mengevaluasi penyebab harga komoditas tomat yang merosot tajam mencapai Rp.700 per kilogram.
Nurul Istiqomah Kadis Pangan dan Perikanan Kabupaten Mojokerto mengatakan ketahanan pangan terkait kalau tanaman itu sudah selesai dibudidaya. Namun selama ini memang, ia hanya langsung mengetahui harga di pasaran.
"Terus terang kita belum pernah mengevaluasi terkait itu yang jelas memang seperti sawi harganya kalau untuk tomat tidak ada bidang yang fokus mengurus itu sehingga belum evaluasi seksama," ujarnya.
Menurut Nurul, sebenarnya lebih berkompeten adalah Disperta lantaran ada bidang Budidaya yang memayungi seluruh budidaya tanaman komoditas hortikultura yang bisa mengevaluasi mulai masa tanam dan panen. Sebab, pemekaran Dinas Pangan dan Perikanan yang telah dari Disperta yang kini menangani pertanian dan peternakan semenjak 2016.
"Cuma saya tahu laporan harga itu yang dari pasaran dan memang ada. Saya dengar memang turun harganya sudah dua pekan lalu mungkin pas bareng-bareng (Panen Raya, Red) ya salah satu dugaan faktor penyebabnya," tandasnya.
Nantinya, dinas terkait akan melakukan evaluasi secara simultan terkait penyebab harga komoditas tomat anjlok yang merugikan petani tersebut. Sehingga, aspirasi keluhan dari petani ini bisa didengar dan komoditas hasil panen ini untuk kedepannya dapat diserap pasar yang tentunya dengan harga yang manusiawi tidak merugikan petani.
"Kita evaluasi bareng-bareng kedepannya kenapa kok sampai bisa seperti itu," tandasnya.
Terpisah, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Mojokerto, Teguh Gunarko memaparkan ada lembaga tersendiri yang menangani ketahanan pangan. Sebab, Disperta menangani peternakan, kesehatan hewan dan perkebunan.
"Kita ya tetap kasihan sama petani karena harga rendah itu sehingga biaya produksi tidak sesuai dengan harga pasar, kita berbicara soal produktifitas saja tapi kalau nilai jual itu mekanisme pasar yang lebih tepat di ketahanan pangan," imbuhnya. (Mohammad Romadoni/Tribunjatim.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/berita-mojokerto-petani-tomat-pacet-kabupaten-mojokerto-bagikan-tomat-secara-gratis.jpg)