Sulawesi Utara
Selamat Datang di Superhub PDIP Jatim

Warga Desa Kanyoran Kediri Manfaatkan Kotoran Sapi Jadi Biogas untuk Memasak dan Lampu

Warga Desa Kanyoran, Kecamatan Semen Kabupaten Kediri mengembangkan energi alternative dari kotoran sapi.

Penulis: Farid Mukarrom | Editor: Pipin Tri Anjani
SURYA/Farid Mukarrom
Tempat penyimpanan kotoran sapi di Desa Kanyoran untuk diubah menjadi energi alternatif listrik dan api. 

TRIBUNJATIM.COM, KEDIRI - Warga Desa Kanyoran, Kecamatan Semen Kabupaten Kediri mengembangkan energi alternatif dari kotoran sapi.

Limbah lethong ini diubah menjadi kompos gas untuk memasak serta lampu penerangan.

Satu di antaranya Ibu Siti, warga Dusun Karanglo Desa Kanyoran Kecamatan Semen dimana ia mengambil program instalasi Biogas Rumah (BIRU) yang diselenggarakan oleh Yayasan Rumah Energi (YRE) dan Perkumpulan ‘SuaR Indonesia’ Kediri.

Saat ini ia mendapatkan manfaatnya untuk kebutuhan sehari-hari.

Menangis, Ferdy Ayah dari NTT Soroti Perilaku Betrand Peto setelah Terkenal, Minta Ingat Jati Diri

Rizky Billar Ditegur Soimah, Berani Genit ke Cewek Lain Depan Lesty Kejora, Juri LIDA: Apaan Sih Lu

Siti mengaku, sudah dua tahun berternak sapi. Ada tiga ekor sapi pedagang yang dikembang biakan secara konvensional untuk diperoleh anakannya. Bila sebelumnya limbah kotoran sapi dibuang sembarangan, kini langsung dialirkan ke bak instalasi biogas.

“Selama ini pembuangan limbah dari kotoran sapi saya buang begitu saja. Karena rumah saya berada di daerah miring, sering kali kotoran sapi merusak tanaman milik tetangga. Akhirnya saya memilih program biogas ini,” ujar Siti.

Mayoritas masyarakat Dusun Karanglo bekerja sebagai petani dan beternak sapi seperti keluarga Siti.

Melimpahnya rumput hijau dan dedaunan di daerah pegunungan ini menjadi faktor pendorong masyarakat mengembakbiakkan sapi.

Direktur SuaR Indonesia, Sanusi mengatakan, ada dua poin yang dapat dipetik oleh masyarakat apabila mengikuti program tersebut.

"Pertama, warga dapat mengolah limbah kotoran sapi yang ramah lingkungan. Kedua, mereka dapat memetik hasilnya melalui energi alternatif untuk kebutuhan sehari-hari yaitu, biogas. Bahkan, bonusnya berupa pupuk organik bio slurury yang bernilai ekonomis," ujar Sanusi.

Kemudian Biogas sendiri merupakan teknology tepat guna (TTG) yang sebenarnya kalau di kembangkan bisa menjadi indikator inovasi desa. Sehingga melalui otonomi baik pada tingkat regulasi maupun skema dukungan pendanaannya desa sudah seharusnya mulai melihat potensi biogas ini.

“Biogasnya sendiri, dipakai untuk lampu penerangan dan memasak. Kalau misalnya keterlambatan gas 3 kilogram (kg), dengan harga kecenderungan mahal, maka biogas menjadi solusi. Kemudian untuk pupuk slururynya bisa dipakai untuk menyuburkan tanah. Kita ketahui bahwa di daerah ini penghasil durian yang terkenal. Dengan pemberian pupuk organik, tentu hasilnya jauh lebih baik lagi,” jelas Sanusi.

Sementara itu dari pemetaan yang dilakukan SuaR di Desa Kanyoran ada 300 orang peternak sapi, dengan estimasi populasi sapi mencapai 900 ekor.

VIRAL Kades Kesurupan Lihat Tari Jaipong, Kejar Penari saat Dengar Wangsit Siliwangi, Warga Menjerit

Keinginan Gisella Anastasia untuk Rujuk Terungkap, Gading Marten Malah Ngaku Ikhlas: Doa

Berdasarkan hasil komunikasi dengan kelompok tani setempat, ada 20-24 peternak yang mengambil program instalasi biogas tersebut.

Saat ini, Yayasan Rumah Energy (YRE) bareng SuaR Indonesia tengan melatih warga setempat menjadi tukang instalasi melalui pelatihan supervisi dan tukang biogas Rumah (BIRU) Type Fixed Done.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jatim
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved