Breaking News:

Pria di Magetan ini Ubah Limbah Menjijikan Diolah Jadi Benda Seni Bernilai Tinggi

Gatot Suhardi, warga Jalan Irian, Kelurahan Tawanganom, Kecamatan/Kabupaten Magetan, limbah menjijikan itu dipungut, diolah menjadi benda seni bernila

Surya/ Doni Prasetyo
Gatot Suhardi hanya ditemani Ny Sunartin, istrinya, warga Jalan Irian, Kabupaten Magetan ini membuat berbagai benda seni dari limbah pampers, pembalut, dan handuk yang menjijikkan jadi income yang menjanjikan. 

TRIBUNJATIM.COM, MAGETAN - Kerap kali limbah pembalut, pampers dan handuk yang dibuang warga sembarang menjadi masalah dilingkungan. Namun, ditangan Gatot Suhardi, warga Jalan Irian, Kelurahan Tawanganom, Kecamatan/Kabupaten Magetan, limbah menjijikan itu dipungut, diolah menjadi benda seni bernilai tinggi.

"Awalnya timbul dari keprihatinan menumpuknya sampah atau limbah di sungai, mengakibatkan banjir di musim hujan. Dari situ, saya berusaha mengangkat limbah sungai, agar tidak mampet. Ternyata, dari kebanyakan sampah kali itu, pampers dan pembalut,"kata Gatot Suhardi, Ketua Rukun Warga (RW) 2, Kelurahan Tawanganom, Kecamatan/Kabupaten Magetan kepada Surya, Minggu (27/9).

Akhirnya, lanjut Gatot, mencoba membuat benda seni dari limbah yang oleh kebanyakan orang dianggap menjijikan itu. Awalnya, belajar membersihkan limbah pampers, pembalut, dan handuk bekas dari kotorannya. Tapi bingung, setelah limbah menjijikkan bersih.

"Awalnya buat vas bunga, pot bunga yang gantung, maupun vas bunga tempel. Namun karena bahan limbah pembalut dan pampers, yang didapat besar besar. Pilihan jatuh ke pot bunga yang berukuran besar," jelas Gatot kepada TribunJatim.com.

Viral Wanita Ini Biasa Minum Boba 2 Kali Sehari, Nyaris Lumpuh, Kini Puasa Non Sugar Selama 3 Bulan

Ponsel Sule Bunyi saat Syuting, Iis Dahlia Langsung Sebut Cewek, Entis Sutisna: Produser

BMKG Karangkates Pastikan Alat Deteksi Tsunami di Malang dalam Kondisi Baik

Dikatakan Gatot, awalnya asal dibuat, dipajang di toko bunganya. Tidak disangka, setiap pembeli bunga minta pot dan vas yang dibuat dari limbah itu. Malah tidak mau pot atau vas bunga plastik ato semen cor itu," kata Gatot yang mengerjakan barang seni dari limbah menjijikan itu dibantu Ny Sunartin, istrinya.

Karena kebetulan Gatot Suhardi dilingkungannya dipercaya menjabat Ketua Rukun Warga (RW) 2, Kelurahan Tawanganom, pembuatan beraneka benda seni dari pampers, pembalut dan handuk bekas itu di tularkan kepada warga di lima Rukun Tetangga (RT) di RW 2, setempat.

"Memang kebanyakan ibu ibu yang buat, tapi bapak bapak yang menekuni pembutan benda seni dari limbah menjijikan ini tidak sedikit. Lumayan hasilnya bisa untuk membantu keuangan rumah tangga,"kata Gatot yang terakhir pensiun di staf Kecamatan Panekan ini.

Menurut Gatot, satu pot bunga yang dibuat dari limbah pampers, pembalut dan handuk ini dihargai antara Rp 15 ribu sampai Rp 150 ribu. Dari rentang harga itu yang paling laris, di harga Rp 45 ribu - Rp 50 ribu.

"Dari luar kota yang sudah beberapa kali meminta dikirimi pot limbah pampers, pembalut dan handuk dari kota Jambi, Sumatera. Lainnya masih dari seputar Madiun, Ponorogo dan Ngawi. Selain Magetan," kata Gatot kepada TribunJatim.com.

Saat ini, tambah Gatot, stok pot bunga dari berbagai ukuran dan model garapan warga di 5 RT di wilayah RW 2, seluruhnya disimpan di gudang milik warga RT2. Kalau ada yang butuh pot bunga berbagai ukuran, berapa pun bisa dilayani.

"Paling tidak, setelah limbah yang dulu sering jadi masalah itu diangkat dari sungai sungai desa dan saluran air, semua bisa lancar. Tidak hanya lancar tanpa sumbatan, sungai sungai dan saluran air juga jadi bersih,"tandas Gatot Suhardi.(Doni Prasetyo/Tribunjatim.com)

Penulis: Doni Prasetyo
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved