Saat Pandemi, Balita dengan Asupan Makan Tidak Seimbang menjadi Lebih Rentan

orang tua memiliki pilihan terbatas lantaran kehilangan mata pencaharian sehingga asupan gizi yang masuk pada anak-anak jadi tidak seimbang.

Editor: Mujib Anwar
TRIBUNJATIM/istimewa
Nutrition Officer UNICEF Field Office Java, dr Karina Widowati MPH menjelaskan tentang kebutuhan gizi anak selama masa pandemi Covid-19. 

“Bahkan balita-balita dari keluarga kuintil atas, seringkali juga tidak mendapatkan variasi minimal makanan yang dianjurkan. Rendahnya kualitas pola makan pada balita di Indonesia ini merupakan ancaman besar bagi kemampuan anak untuk hidup, tumbuh dan berkembang secara optimal,” terang Karina Widowati.

Penanggulangan malnutrisi pada balita (anak dan remaja) melalui investasi pada pola makan sehat (keberagaman, porsi dan kualitas makanan), menurut Karina adalah kunci bagi pencapaian tumbuh kembang anak-anak secara optimal sesuai dengan potensi yang dimilikinya, serta akan mengurangi bencana terjadinya penyakit degeneratif di masa depan.

Selain keberagaman asupan makanan, hal lain pada anak balita yang harus diperhatikan saat pandemi adalah pemenuhan kebutuhan olahraga dan kesehatan mental anak sejak dini.

Menurut Dosen Fakultas Psikologi Unair Afif Kurniawan, MPsi, Psikolog, kebugaran jasmani dan kesejahteraan psikologis anak usia dini di masa pandemi harus diperhatikan dan dijaga.

“Sama seperti orang dewasa, anak-anak juga stress di masa pandemi ini. Aksi reaksi anak muncul karena pembatasan-pembatasan di masa pandemi. Harus ada strategi aplikasi gerak anak di masa pandemi yang harus dipahami orang tua,” terang Afif Kurniawan.

Menurut Afif, sekitar 55,5 persen aktivitas fisik itu justru mendukung prestasi akademik, sementara dirinya khawatir anak-anak saat pandemi terbatas dalam aktivitas gerak.

Padahal anak-anak untuk mengembangkan ketrampilan itu dengan cara bergerak dan bermain bersama teman-temannya.

Pandemi ini kata Afif, menuntut orang tua harus terlibat lebih banyak terhadap tumbuh kembang anak. Orang tua harus mengenal betul perkembangan gerak.

Orang tua harus memberikan kesempatan anak-anak untuk melakukan aktivitas gerak fisik, karena saat ini gerak mereka bersama teman-teman sebaya sangat dibatasi.

Harus ada rencana aktivitas gerak untuk anak-anak yang dibuat oleh orang tua bersama dan harus selaras dengan anak-anak.

Caranya, dengan memanfaatkan benda-benda yang dimiliki anak dan kegiatan itu harus memiliki tujuan. Aktivitas anak saat ini akan sangat berpengaruh pada tumbuh kembang mereka saat dewasa nanti.

“Kenapa gerak? Karena ini ada kaitan dengan prestasi akademik, perkembangan otak, aktivitas fisik dan kesehatan, kesejahteraan psikologis (bahagia, percaya diri, kemandirian),” jelas Afif.

Sementara itu person in charge (PIC) Gerakan Peduli Ibu dan Anak Sehat Membangun Generasi Cemerlang Berbasis Keluarga (Geliat) Universitas Airlangga Surabaya, Dr Nyoman Anita Damayanti, drg, MS. mengungkapkan, tidak semua kalangan mampu melaksanakan daring karena kemampuan.

“Keluarga di rumah yang anak-anaknya kurang beruntung menjadi problem, itu banyak sekali. Ini rangkaian kegiatan pendampingan bagi bunda PAUD di wilayah Kota Surabaya. Kita sharing dengan pengelola PAUD dan pembina untuk saling menjaga anak-anak kita tetap terlindungi dan produktif,” kata Nyoman Anita Damayanti.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved