Fotografer di Banyuwangi ini Banting Stir Untuk Penuhi Dapurnya
Pandemi Virus Corona atau Covid-19 kini bukan menjadi alasan untuk tidak produktif. Meskipun virus ini berhasil meluluh lantakkan pundi ekonomi.
Penulis: Haorrahman | Editor: Yoni Iskandar
Bagi warga Banyuwangi yang perekonomiannya banyak di bidang pariwisata, pandemi membuat mereka harus berpikir keras. Banyak pelaku wisata yang terpuruk karena pandemi. Berbagai jenis usaha pariwisata, seperti jasa guide, travel, destinasi, sangat terpengaruh oleh pandemi ini.
Seperti yang dirasakan Rohimah, warga Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, Banyuwangi. Rohimah awalnya memiliki usaha travel. Namun sejak masa pandemi, usahanya itu terpuruk karena tidak ada lagi ada order.
Di saat terjepit seperti itu, Rohimah membuka usaha budidaya tanaman anggrek. Perempuan berusia 45 tahun tersebut, mengajak tetangga sekitar yang banyak juga banyak terpuruk akibat pandemi untuk turut serta.
Meski Rohimah yakin suatu saat kondisi akan normal kembali, namun kebutuhan keluarganya tidak bisa ditunda.
Rohimah melihat selama masa pandemi yang memaksa orang harus banyak di rumah, membuat berkebun menjadi pilihan untuk menghabiskan waktu di rumah.
Dari situlah, Rohimah akhirnya banting stir dari jasa travel dan memilih budidaya anggrek sejak Juni 2020 lalu. Apalagi rumahnya yang berada di kaki gunung Raung cocok menjadi lokasi budidaya anggrek.
”Kebetulan saya juga hobi merawat anggrek. Pekarangan rumah saya juga luas untuk menjadi tempat budidaya anggrek,” katanya.
Terdapat 27 jenis anggrek yang dikembangkan, seperti dendro, catleya, bulan, tanah, anggrek hutan dan lainnya. Meski masih baru memulai usaha, karena pasar budidaya tanaman mulai tumbuh di masa pandemi membuat Rohimah tidak terlalu sulit memasarkannya. Bahkan banyak pemesan dari luar Banyuwangi, seperti Lombok, Surabaya, Jakarta, dan daerah lainnya.
Banyaknya pesanan, membuat Rohimah mengajak warga sekitar untuk ikut budidaya anggrek. Dia menitipkan bibit anggrek untuk perawatan dan pembesaran dalam pot ke tetangga. Terdapat ribuan bibit anggrek yang dititipkan pada warga sekitar. “Selain mendapat upah, mereka juga bisa ikut menjual anggrek,” terangnya.
Rohimah dan warga kampungnya kini mulai serius membudidayakan anggrek. Kampung ini kini dibantu laboratorium dari Malang untuk pengembangan varietas anggrek.
”Selanjutnya kami ingin kampung ini menjadi pusat edukasi anggrek. Bahkan saya ingin kampung ini menjadi kampung anggrek,” tambah Rohimah. (haorrahman/Tribunjatim.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/berita-banyuwangi-fotografer-banyuwangi-banting-stir-saat-pandemi.jpg)