Pekerja Keras IHT, Tulang Punggung Keluarga di Masa Pandemi Covid-19

para pelinting yang bekerja di Industri Hasil tembakau (IHT) masih menyiratkan harapan. Bekerja dengan riang dan membawa pulang rejeki

Tayang:
Penulis: Yoni Iskandar | Editor: Yoni Iskandar
KOMPAS.COM/AMIR SODIKIN
Seorang pekerja sedang memproses pembuatan rokok kretek. 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Pandemi Covid-19 mengubah banyak landskap kehidupan. Di tengah masa sulit ini, para pelinting yang bekerja di Industri Hasil tembakau (IHT) masih menyiratkan harapan. Bekerja dengan riang dan membawa pulang rejeki untuk kelangsungan hidup keluarganya.

Ita Rosiana, 38, masih memiliki celengan ayam yang diletakan di atas lemari kayu di rumahnya di Mojokerto. Kebiasaan menabung sudah tertanam sejak kecil. Dari lembaran uang rupiah yang dimasukan dalam celengan, ia ingin terus menabung harapan dalam kehidupannya.

Benar saja, keinginan itu pun bisa terwujud ketika dirinya sudah bisa membeli rumah, sawah dan menyekolahkan kedua anaknya. Tangga kehidupan itu pun dimulai ketika dirinya menamatkan pendidikan di bangku SMA dan langsung bekerja di sektor IHT, tepatnya sebagai pelinting Sigaret Kretek Tangan (SKT).

“Dulu rasanya sulit sekali bisa dapat pekerjaan. Apalagi kalau tak memiliki sawah atau ladang. Dapat uang rasanya sulit sekali. Makanya, saya beruntung bisa bekerja sebagai pelinting SKT,” kataIta Rosiana.

Ia seperti menemukan tabir kehidupan yang baru. Kesempatan untuk bisa bekerja dan mendapatkan penghasilan. Ia ingat betul di bulan pertamanya dirinya bekerja, tepatnya di tahun 2001.

Waktu itu, ia tak pernah memegang uang banyak dan di akhir bulan lembaran uang gajinya sebagai pelinting cukup banyak.

“Rasanya seperti mimpi, tapi ini nyata dan saya bisa berpenghasilan. Uang pun saya tabung dan akhirnya bisa dibelikan rumah dan sawah,” ungkapnya.

Suasana kerja yang bersahabat membuat Ita seperti tak merasakan sedang bekerja. Ribuan perempuan yang memiliki semangat sama dan selalu menebar senyum kebahagiaan dalam bekerja. Sisi keakraban dan iklim kerja yang menyenangkan itulah yang membuat dirinya merasa nyaman bekerja di IHT.

Ita pun tak pernah kesepian di tengah ribuan pelinting yang selalu membagi banyak cerita lucu dan unik dalam kehidupan. Mereka sudah menjadi keluarga yang terbangun dalam puluhan tahun.

“Bahkan kami selalu merasa kurang lengkap ketika ada salah satu teman yang sakit dan izin kerja. Mereka sudah menjadi bagian dari keluarga besar dan kami saling memahami antara satu dengan yang lainnya,” jelasnya.

Selama pandemi ini, katanya, ia dan teman-temannya selalu cemas dengan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Apalagi ia melihat banyak teman dan tetangganya yang terkena PHK. Pabrik tempat bekerja tetangga maupun teman-temannya terdampak pandemi.

“Saya nggak tahu harus bagaimana kalau kena PHK. Bagaimana dengan uang sekolah anak-anaknya dan biaya hidup setiap hari,” katanya.

(Klik video kehidupan para buruh linting dan aspirasi mereka)

Selama ini, Ita memang menjadi tulang punggung keluarganya. Suaminya, Soni Wahyono hanya menjadi buruh kontrak di Pelaburan Brondong, Lamongan, dengan penghasilan yang tak menentu.

Sepanjang tahun ini, Ita juga sempat was-was ketika mengetahui ada kenaikan harga cukai tinggi. Kenaikan itu pun dirasakan dampaknya oleh Ita. Termasuk laju IHT yang terseok-seok kalau terus tergencet seperti ini.

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved