Pekerja Keras IHT, Tulang Punggung Keluarga di Masa Pandemi Covid-19
para pelinting yang bekerja di Industri Hasil tembakau (IHT) masih menyiratkan harapan. Bekerja dengan riang dan membawa pulang rejeki
Penulis: Yoni Iskandar | Editor: Yoni Iskandar
Ita merasakan betul selama 19 tahun dirinya bekerja sebagai pelinting SKT membawa dampak besar bagi kehidupan keluarganya. Kebiasaannya menabung masih dilakukan sampai sekarang. Setidaknya tiap bulan, ketika gajian selalu ada lembaran rupiah yang ditabung.
Kebiasaan Ita itu pun membawa berkah tersendiri baginya. Setelah celengan ayam dipecah, Ita mampu mengumpulkan jutaan rupiah yang kini diwujudkan dengan membangun usaha air mineral.
Lompatan kehidupan yang dijalani Ita tak lepas dari pekerjaanya di SKT yang menjadi ladang rejeki bagi keluarganya. Dari setiap rupiah yang ditabungnya kini memiliki wujud nyata berupa unit usaha yang akan digelutinya di desa.
Kedua anaknya, Exelent Bintang Pratama, 14, dan Ronald Redi Setiawan, 9, juga bisa bersekolah. Keduanya pun tercukupi semua kebutuhannya setiap hari dari jerih payah yang dilakukan Ita dengan bekerja di IHT.
Kini, di tengah pandemi Covid-19, Ita dan teman-temannya di IHT berharap pemerintah memiliki nurani untuk berpihak pada para pekerja yang menjadi tulang punggung keluarga. Kerja kerasnya tak akan sia-sia dan dirinya yakin ke depan banyak keluarga yang terbantu dengan semakin berkembangnya IHT.
Ia pun ingin menyampaikan ke pemerintah tentang semangat kerja keras para perempuan di pusaran IHT. Mereka tak hanya menjadi pekerja, tapi juga penopang utama keluarga dan ekonomi masyarakat di desa.
“Semoga saja tahun depan tak ada kenaikan cukai lagi. Teman-teman di IHT takut imbasnya nanti kena PHK. Kami semua yang kerja di SKT berharap pemerintah bijak. Kami ingin terus bisa bekerja dan mencukupi kebutuhan rumah,” imbuhnya.
(Klik video kehidupan para buruh linting dan aspirasi mereka)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/rokok-industri_20170427_145043.jpg)