Breaking News:

Mengenal Parosmia yang Disebut Gejala Baru Covid-19, Penderita Cium Bau Tidak Sedap

Pasien yang sembuh dari Covid-19 melaporkan indera penciumannya mengalami distorsi bau, seperti bau amis ikan yang menjijikan, bau benda terbakar.

Freepik
ILUSTRASI - Pasien yang sembuh dari Covid-19 melaporkan indera penciumannya mengalami distorsi bau, seperti bau amis ikan yang menjijikan, bau benda terbakar atau belerang. 

TRIBUNJATIM.COM - Sebagian besar pasien yang sembuh dari Covid-19 atau Corona mengeluhkan mencium aroma atau bau tidak sedap.

Dilansir dari SkyNews, Senin (4/1/2021), pasien yang sembuh dari Covid-19 melaporkan indera penciumannya mengalami distorsi bau, seperti bau amis ikan yang menjijikan, bau benda terbakar atau belerang.

Sebelumnya, kehilangan bau atau anosmia menjadi gejala umum infeksi virus corona SARS-Cov-2.

Tetapi beberapa orang yang mengalami gejala long Covid dengan kemampuan hidung yang mendeteksi bau tak sedap selama berbulan-bulan yang didiagnosis sebagai gangguan parosmia.

Baca juga: Daftar 76 Wilayah yang Masuk Zona Merah Risiko Tinggi Penyebaran Covid-19 di Indonesia

Lantas, apa itu parosmia?

"Parosmia bisa mengidentifikasi bau, tetapi baunya tidak seperti yang selama ini dikenal. Biasanya bau yang dicium berhubungan dengan bau amis, bau busuk atau bau darah," kata Dr.dr.Retno S Wardani, SpTHTKL(K) dari Divisi Rinologi, Departemen THT-KL, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI) RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo, kepada Kompas.com, Senin (4/1/2021).

Dr Dani menjelaskan penyakit dengan gangguan penciuman, baik parosmia, anosmia maupun hiposmia adalah penyakit yang sudah ada sejak dulu, bahkan sebelum masa pandemi Covid-19.

"Namun, memang dari dulu, tidak banyak orang yang punya keluhan pada kemampuan indera penciumannya itu langsung melakukan pemeriksaan. Biasanya baru setelah berbulan-bulan atau bertahun-tahun, keluhan tidak kunjung pulih, mereka baru datang ke dokter," ungkap dr Dani.

Gangguan mengidentifikasi dan mendeskriminasi bau atau aroma, yakni parosmia ini umumnya disebabkan oleh infeksi virus.

Di masa pra-pandemi, gangguan parosmia umumnya disebabkan oleh infeksi rhinovirus dan virus lainnya.

Halaman
12
Editor: Pipin Tri Anjani
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved