Demi Kehormatan, Ayah Penggal Anak Gadisnya Usia 17 Tahun Soal Asmara, Lalu Kepala Diarak di Jalanan
Demi kehormatan, ayah berbuat sangat kejam dengan memenggal anak gadisnya berusia 17 tahun, lalu tenteng kepala sang anak dan mengaraknya di jalanan.
Penulis: Alga | Editor: Mujib Anwar
Presiden Hassan Rouhani pun langsung mendesak kabinetnya untuk segera membuat hukum yang lebih sepadan untuk kasus pembunuhan demi menjaga kehormatan.
Fariba Sahrei, editor senior di Iran International mengatakan:
"Setiap tahun di Iran, wanita dan anak perempuan dibunuh oleh saudara lelaki mereka dengan kedok untuk menjaga kehormatan mereka.
"Tetapi pembunuhan dalam kasus Romina Ashrafi adalah salah satu yang mengejutkan negara tersebut dan seluruh dunia."
Jumlah pasti kasus pembunuhan untuk menjaga kehormatan di Iran memang tidak diketahui.
Tetapi, seorang pejabat kepolisian Teheran sebelumnya mengatakan, ada sekitar 20 persen dari seluruh kasus pembunuhan di Iran.
Baca juga: Tersangka Unggah Status Berdoa di Malam Bunuh Gadis Bandung di Hotel, Istri Cuci Baju Eksekusi Suami
Di Asia Selatan, pembunuhan demi kehormatan biasanya mengacu pada seorang wanita, cukup sering terjadi.
Hal ini karena wanita tersebut dianggap telah melanggar norma sosial budaya, komunitas, atau agama.
Tindakan kekerasan biasanya dilakukan oleh kerabat korban sendiri.
Mereka yang beraksi merasa, korban telah mempermalukan atau mencemarkan nama baik keluarga.
Pada Januari 2021, seorang wanita Arab Saudi dibunuh oleh saudara laki-lakinya sendiri karena dia memiliki akun Snapchat, menurut laporan.
Tagar #SaveManalSisterofQamar mulai beredar luas di kalangan pengguna media sosial berbahasa Arab setelah dugaan kejahatan tersebut.
Slogan aktivis tersebut mengacu pada seorang wanita berusia 26 tahun bernama Qamar, yang hilang di provinsi Al-Kharj di Arab Saudi Tengah, pada 19 Januari 2021.
Tubuhnya kemudian ditemukan terkubur di gurun pasir.
Saudara perempuan korban, Manal, mencurigai saudara laki-laki yang berpikiran konservatif melakukan kejahatan tersebut.
Manal menulis tentang keyakinannya secara online.
Dia mengklaim orang-orang tersebut membunuh Qamar karena marah setelah mengetahui dia memiliki akun Snapchat.
Manal dilaporkan ditahan oleh polisi Al-Kharj yang diminta agar berhenti mempublikasikan kematian saudara perempuannya.
Aktivis hak-hak perempuan kemudian membanjiri media sosial dengan tagar pemberontakan dalam upaya untuk menjelaskan polemik pembunuhan tersebut.
Anak Bunuh Ayah Kandung
Kasus yang tidak kalah kejamnya juga sebelumnya terjadi di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, yakni anak bunuh ayah kandung. Si pelaku adalah Fera.
Fera tega membacok bapak kandungnya bernama Wajib (50) hingga tewas, Senin (15/2/2021).
Kejadian itu akibat hal sepele, yakni masalah makan sahur.
Fera, yang punya riwayat gangguan jiwa, merasa makanan yang dibuatkan orang tuanya terasa asin.
Entah mengapa, ia kemudian curiga bahwa sang orang tua hendak meracun.
Ia kemudian mendatangi kerabatnya dan mengajaknya ke rumah. Usai kembali ke rumah, ia mondar-mandir menggerutu sambil memegang sabit, pisau, dan palu.
Secara tiba-tiba, Fera kemudian menghampiri sang ayah, memukul, dan membacoknya menggunakan sabit.
Bacokan itu mengenai kepala bagian belakang-kanan hingga korban jatuh tersungkur tepat di jalan depan rumah. Korban pun meninggal di lokasi.
Hasil pemeriksaan polisi menyebut, ada kemungkinan Fera tega membacok bapaknya karena dendam.
Ia, menurut laporan polisi saat itu, sering merasa dikucilkan akibat gangguan jiwa yang diderita.
Akhirnya, pada Senin (1/3/2021), Fera Setyadi (27), anak bunuh ayah kandungnya tersebut meninggal dunia.
Pria yang diketahui punya riwayat gangguan jiwa itu meninggal seusai menjalani perawatan di RSUD dr Soedomo, Trenggalek.
Kasat Reskrim Polres Trenggalek Tatar Hernawan menjelaskan, sebelum meninggal, Fera sempat menjalani tes kesehatan jiwa dan observasi di RSUD dr Soedomo dan RSJ Lawang.
Usai rangkaian tes kesehatan itu, ia ditahan di Polres Trenggalek sejak Minggu (28/2/2021), atau sehari sebelum ia dilaporkan meninggal.
"Kronologinya, setelah salat subuh, ia jatuh. Setelah ditolong rekannya dan dilaporkan ke petugas piket, dia mengeluh kepalanya sakit," kata Tatar, Senin (1/3/2021).
Polisi, kata Tatar, kemudian memanggil petugas kesehatan untuk memeriksa Fera.
Namun kondisi kesehatannya memburuk, Fera dibawa ke RSUD dr Soedomo.
"Di sana langsung masuk ke ICU (Intensive Care Unit) untuk dilakukan perawatan. Kira-kira satu jam kemudian, ia meninggal dunia," sambung Tatar.
Kabar duka itu kemudian dilaporkan ke keluarganya di Panggul. Tatar bilang, keluarga Fera menerima dan hanya bersedia dilakukan visum luar.
Berdasarkan informasi yang diterima dari keluarga, Fera diketahui punya riwayat penyakit epilepsi. Pihaknya menduga, penyakit ini yang menyebabkan Fera meninggal dunia.
Usai divisum luar, jenazah Fera dibawa pulang ke Desa Kertosono, Kecamatan Panggul untuk dimakamkan.
Artikel ini telah tayang di tribun-medan.com dengan judul Seorang Ayah Penggal dan Arak Kepala Putrinya, Membunuh Demi Kehormatan Karena Si Anak Punya Kekasih dan di Sosok.ID dengan judul Mati Tragis Gegara Kepincut Om-om, Gadis 13 Tahun Dipenggal Ayahnya Sendiri yang Tak Sudi Punya Mantu Pria yang 21 Tahun Lebih Tua dari Putrinya.