Sulawesi Utara
Selamat Datang di Superhub PDIP Jatim

Penangkapan Terduga Teroris di Surabaya

Keluarga Tolak Terduga Teroris di Surabaya Dianggap Kelompok Berbahaya, Istri Tanyakan Kata Radikal

Pihak keluarga terduga teroris yang diamankan Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri di Jalan Simopohan Utara II, Sukomanunggal, Surabaya,

Penulis: Luhur Pambudi | Editor: Januar
ISTIMEWA/TRIBUNJATIM.COM
Suasana tempat tinggal di Simorejo Surabaya yang sempat digeledah Tim Densus 88. 

Reporter: Luhur Pambudi | Editor: Januar AS

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA-Pihak keluarga terduga teroris yang diamankan Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri di Jalan Simopohan Utara II, Sukomanunggal, Surabaya, menolak bila anggota keluarganya berinisial S (41) dianggap tergabung dengan kelompok teror.

Apalagi sampai terlibat dengan insiden peledakan bom bunuh diri di depan pagar Gereja Katedral, Jalan Kahaolalido, MH Thamrin, Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (28/3/2021) kemarin. 

Dengan pelaku berjumlah dua orang berstatus pasangan suami istri (pasutri) berinisial L (26) dan YSF (21), anggota JAD, dan memiliki rekam jejak aksi pengeboman di Sulu, Jolo, Filipina, beberapa tahun sebelumnya.

Baca juga: Polisi Bongkar Makam dan Otopsi Jenazah Agita di Kompleks Pemakaman Praloyo Sidoarjo

Seraya mengusap air matanya, Istri S, Sulis (37) mengungkapkan, suaminya itu tidak pernah mengikuti kelompok ataupun forum pertemuan tertutup yang terbilang mencurigakan.

Sosok S, dimatanya sebagai sebagai istri sejak menikah 12 tahun lalu, adalah suami yang bertanggung jawab, menyayangi keluarga dan taat beribadah.

Setiap hari, lanjut Sulis, aktivitas suaminya itu hanya berjualan di sebuah toko yang dikelola pribadi. Berangkat pagi hari dan pulang saat malam hari.

"Kegiatannya ya di toko, gitu aja," ujarnya saat ditemui awak media, di kediamannya, Jalan Simorejo Sari, Gang 5, Sukomanunggal, Surabaya, Jumat (2/4/2021).

Melihat kenyataan yang ada pada suaminya itu. Sulis menampik, bila suaminya itu, bergabung dengan organisasi yang banyak disebut-sebut sebagai kelompok radikal.

Apalagi terlibat dengan kelompok yang bertanggungjawab atas insiden teror yang terjadi di Kota Makassar, beberapa waktu lalu. 

"Saya kurang tahu. Saya enggak punya televisi. TV ada cuma buat anak-anak pembelajaran Quran," tuturnya.

Sulis justru mempertanyakan istilah kata radikal yang banyak digunakan dalam percakapan publik sehari-hari.

Baginya, terbilang aneh bilamana anggapan radikal selalu mudah dikait-kaitkan dengan aspek penampilan yang tecermin dari cara berpenampilan seseorang.

"Enggak (gabung kelompok radikal). Yang radikal kayak gimana sih. Masak orang pakai cadar, teroris. Celana cingkrang, teroris. Masa teroris semua," katanya.

Sulis berharap, suaminya segera dipulangkan oleh pihak kepolisian, jika tak terbukti dengan tuduhan sebagai kelompok yang dicurigai negara.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jatim
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved