Ngaji Gus Baha

Gus Baha : Kalau Berbuat Maksiat Jangan Diceritakan, Imbasnya Ini

KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau lebih dikenal dengan Gus Baha adalah salah satu ulama Nahdlatul Ulama yang berasal dari Rembang.

Tayang:
Penulis: Yoni Iskandar | Editor: Yoni Iskandar
yoni Iskandar/Tribunjatim
Gus Baha' saat foto bareng dengan Keluarga Bsar Bani Shiddiq Jember 

Penulis : Yoni Iskandar | Editor Yoni iskandar

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau lebih dikenal dengan Gus Baha adalah salah satu ulama Nahdlatul Ulama yang berasal dari Rembang.

Gus Baha dikenal sebagai salah satu ulama ahli tafsir yang memiliki pengetahuan mendalam seputar al-Qur'an. Ia merupakan salah satu murid dari ulama kharismatik, KH Maimoenn Zubair.

Kali Ini Gus Baha akan membahas Tentang Maksiat. KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang biasa dipanggil Gus Baha menjelaskan tentang Hadist di bawah ini.

Rasullula SAW bersabda: "Setiap umatku akan mendapat ampunan, kecuali orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa. Seseorang berbuat (dosa) pada malam hari, kemudian pada pagi hari dia menceritakannya, padahal Allah telah menutupi perbuatannya tersebut." (HR Bukhari dan dan Muslim).

KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang biasa dipanggil Gus Baha mengomentari tersbeut, bahwa ia tidak bisa membayangkan jika setiap ahli maksiat jujur menceritakan kemaksiatan yang pernah dilakukan manusia.

Baca juga: BERITA TERPOPULER JATIM: 3 Anak Kandung Agung Dibawa Paksa Pria Kekar hingga 7 Bioskop Surabaya Buka

Baca juga: Benda Mencurigakan di Terminal Purbaya Madiun Bukan Bom, Ini Isinya Kata Kapolres

Baca juga: Ketua DPD RI, LaNyalla Sebut Inovasi Dibutuhkan untuk Pulihkan Ekonomi Daerah

"Maka itu sangat berbahaya. Bayangkan, jika anak dan cucunya mendengar cerita maksiat itu, maka setiap kali si anak atau cucunya mau berzina, maka dia bilang: halah, mbah juga dulu begitu," ujar Gus Baha dalam sebuah ceramahnya di Narukan TV dalam kanal YouTube.

Menurut Gus Baha, dalam hal maksiat memang kita dilarang jujur atau menceritakan maksiat tersbeut ke orang lain.

"Sebaiknya tidak usah cerita tapi juga jangan belagak sok suci," kata Kiai mud akelahiran 29 September 1970 tersebut.

Menurut Gus Baha, jika kita jujur dalam berbuat dosa, boleh diceritakan, nanti bisa menjadi syariat.

"Saya sering mendapati pengakuan orang yang berbuat maksiat, namun ia meminta kepada orang tersebut untuk merasa tidak pernah bercerita kepadanya. Lagian saya juga nggak begitu mendengar," ujar santri kesayangan KH Maimoen Zubair tersebut.

Menurut Gus Baha yang juga Ketua Tim Lajnah Mushaf Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, bahwa ada seorang sopir bercerita kepadanya, bagaimana ia menggunakan uang dari hasil maksiat untuk maksiat.

"Saya sekarang tobat. Ada dua tobat yang mesti dilakukan. Pertama, tobat untuk tidak menceritakan maksiatnya itu lagi. Kedua, untuk tidak melakukan maksiat lagi. Saya mewanti-wanti dosa itu tidak diampuni," katanya.

Hadis tentang larangan menceritakan perbuatan maksiat selengkapnya berbunyi sebagai berikut.

Dari Salim bin Abdullah, dia berkata, Aku mendengar Abu Hurairah radhiyallahu’ anhu bercerita bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda.

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved