Berita Terkini
Eks Komandan JI Kaget Ilmu Militer yang Diajarkan Malah Buat Ngebom Warga Sipil
Nasir Abas bukan orang baru dalam fenomena gerakan kelompok teror mengatasnamakan agama di Indonesia.
Penulis: Luhur Pambudi | Editor: Januar
#Kualifikasi seorang anggota JI menjadi Ketua Mantiqi?
Menurut saya kualifikasi yang pantas layak menjadi ketua Mantiqi ke-III. Karena orang yang pernah berlatih di akademi militer. Karena Mantiqi ke-III ini adalah wilayah strategis militer. Jadi dalam proposal saya, saya menggambarkan bahwa Mantiqi ke-III ini adalah wilayah pendukung militer.
Kenapa? (1) Di situlah ada tempat pelatihan di Filipina, yang tidak bisa disentuh oleh aparat setempat. (2) Untuk pembelian pengadaan senjata api, bahan peledak itu juga mudah. (3) Pembuatan senjata, pembuatan bahan peledak, itu semua terlindungi di Filipina.
Makanya wilayah Filipina atau wilayah sekitarnya itu, diharapkan atau diarahkan untuk menjadi sebagai wilayah persiapan militernya. Oleh karena itu, siapa yang layak untuk sebagai pemimpin atau pemimpin ketua di wilayah Mantiqi ke-III adalah orang yang pernah di akademi militer. Khususnya akademi militer di Afganistan dan Filipina. Karena akademi militer di Afganistan sudah melahirkan ataupun sudah mewisuda lebih dari 200 orang Indonesia. Dari angkatan pertama yaitu Zulkarnain, kemarin ditangkap di Lampung. Angkatan kedua, Mustofa dan Abu Rusdan, Abu Thoulut, mereka sudah sejak tahun 1986 diwisuda. Saya angkatan kelima. Hambali yang ditahan di Penjara Guantanamo itu angkatan keempat. Imam Samudra, itu angkatan kesepuluh di akademi militer.
Kemudian pada tahun 1998, JI kemudian membuat satu program pendidikan akademi militer JI yang di Filipina. Maka lulusan akademi pertama itu tahun 2000, lulusan angkatan kedua tahun 2001, lulusan angkatan ketiga tahun 2002. Sehingga 3 angkatan saja.
Kalau ditanya, siapakah yang layak menjadi ketua Mantiqi ke-III? Yaitu orang yang punya latar belakang kemiliteran. Karena ini sangat penting. Karena itu adalah wilayah pendukung militer. Jalur keluar masuk tidak mudah. Karena menyeberang laut. Kemudian di lintas negara; Malaysia, Filipina dan Indonesia.
Kalau orang tidak punya pendidikan yang cukup dalam pendidikan-pendidikan militer, dia ada kewalahan dalam menghadapi lapangan.
Pada tahun 2001, Abu Thoulut, dipindah tugas menjadi Ketua Projek Uhud di Poso. Kemudian saya diangkat oleh Ketua JI Abu Bakar Ba’asyir, menjadi Ketua Mantiqi ke-III sejak april 2001.
Saya mengerti betul wilayah Timur sana sebab sejak dari tahun 1994 saya sudah berada di Filipina. sudah keluar masuk dan mengerti wilayah tersebut.
#Bagaimana cara JI merekruit anggota baru?
Sebagai ketua Mantiqi ke-III, saya kan tidak langsung turun ke lapangan, walaupun dulu pernah saya lakukan. yang bertugas sebagai perekrut itulah bagian pendakwah. bagian orang yang guru agama, ustad, penceramah.
Atau kegiatan pendidikan, ada sekolah-sekolah. Bukan sekolah sebagai tempat pelatihan, tetapi di sekolah itu bisa kita lihat; siapa yang berpotensi. Makanya, jika nanti ada yang pernah belajar di situ di sekolah tersebut. Lalu kita akan melihat siapa yang terbaik? Siapa yang terpintar? Dipilihlah ranking sepuluh besar. Inilah yang kemudian akan direkrut. Tidak semua orang dan direkrutnya pun tidak dalam sekolah, (tapi) di luar sekolah. Yang memilih siapa? Yang memilih tenaga pengajar, yang memilih si guru.
Guru ini yang kemudian mengarahkan kepada orang ketiga, orang lain. Orang lain yang kemudian menerima. Dari yang lulusan sekolah yang terbaik diarahkan kepada yang orang pihak di luar sekolah. Yang di luar sekolah ini yang kemudian menggodok.
Kemudian ketika sudah dibaiat, kemudian sudah mengikuti pelatihan, nanti diarahkan ke Filipina. Saya kemudian menerima yang sudah lewati beberapa proses begitu.
Kemudian di Filipina nanti ada juga bentuk jenjang pendidikannya, apakah dia masuk dalam akademi militernya. Atau ikut kursus singkatnya. Itu beda-beda. Jadi kalau ditanya siapa yang akan direkrut itu? Masyarakat awam.
Cara proses teknik perekrutan itu berbagai macam. Bukan hanya di sekolah-sekolah itu hanya sebagai macam; salah satu tempat. Tapi itu adalah bukan sekolahnya yang merkruit. Bukan sekolah yang merekrut, tidak ada kurikulum untuk merekrut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/tangkapan-layar-wajah-nasir-abbas-mantan-kombatan-jamaah-islamiyah-ji.jpg)