Breaking News:

Ngaji Gus Baha

Gus Baha : Sopir Bus Antar Kota Wajib Berpuasa

KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau lebih dikenal dengan Gus Baha dalam salah satu tayangan video Ngaji Ulama NU,

Penulis: Yoni Iskandar | Editor: Yoni Iskandar
Instagram gusbahaonline
KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha 

Penulis  : Yoni Iskandar | Editor : Yoni Iskandar

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau lebih dikenal dengan Gus Baha dalam salah satu tayangan video Ngaji Ulama NU, Gus Baha menjelaskan tentang puasanya orang yang bekerja.

Menurut Gus Baha, pada orang yang sedang bepergian, ada ketentuannya untuk tidak melakukan ibadah puasa dan ia mengqodho (mengganti) di hari atau bulan yang lain.

"Kita tak boleh memaksakan orang yang bepergian untuk berpuasa. Tetapi menjadi problem, misalnya, jika orang yang bekerja sebagai sopir bus dengan mengatakan sedang bepergian sehingga tidak berpuasa. Problemnya jika ia menqodo, kapan waktunya? Sementar selama hidupnya ia jalani untuk menyetir mobil?," papar Kiai muda asal Rembang, Jawa Tengah tersebut.

Menurut santri kesayangan KH Maimoen Zubair tersebut telah mengutip pendapat Ahamd Ibn Hambal, yang dimaksudkan dengan musafir itu orang yang pergi ke suatu tempat yang asing. Jika seperti sopir atau pekerja-pekerja tidak dinamakan sedang bepergian, tetapi sedang bekerja.

Baca juga: Gus Baha : Hukumnya Shalat Tarawih itu Sunah, Sedang Mencari Nafkah Itu Wajib

Baca juga: Golongan Penerima THR 2021 Versi Menaker, Cek Cara Hitung Besarannya, Kerja 3 Bulan Dapat Berapa?

Baca juga: Gus Baha Ingatkan Warga NU Jangan Anti Hisab, Muhammadiyah Jangan Anti Rukyah

Gus Baha memberi penjelasan bahwa orang yang bekerja hendaknya melakukan puasa, sebab hakikatnya bukan sedang tidak bepergian.

"Tentu saja beda hukumnya jika kemudian pekerja itu tidak kuat atau sakit selama menjalankannya, maka boleh berbuka dan tidak puasa, serta harus menqodonya," ujar ahli tafsir yang memiliki pengetahuan mendalam seputar Al-Qur'an tersebut.

Menghormati Makanan

Menurut Gus Baha, beberapa cara pandang orang-orang dulu itu barangkali sudah sering kita dengar. Seperti melihat puasa Ramadan sebagai upaya kita menjadi semakin menghormati makanan. Namun tetap saja, di mata Gus Baha, perspektif ini jadi lebih istimewa.

“Kita melihat makanan yang biasa kita sepelekan ketika tidak puasa atau tidak Ramadan, namun ketika Ramadan (jadi) spesial semua, bahkan air putih pun spesial, sekedar pisang goreng pun spesial. Iini menunjukkan bagaimana cara pandang Nabi Muhammad yang sangat menarik. Bahwa manusia itu, sehebat apapun, ternyata kebutuhan paling pokok ya cuma makanan. Nggak ada yang lain," terangnya.

“Yang ketika buka (puasa) itu seneng sekali meski nggak punya mobil mewah, nggak punya uang banyak. Sekedar ketemu makanan itu seneng sekali. Jadi tahunya menghormati makanan itu tahunya ya setelah itu (masuk Ramadan),” papar Gus Baha

Menurut Gus Baha,  betapa puasa Ramadan itu bikin orang belajar, betapa istimewanya sesuap makanan yang kadang suka diremehkan di bulan-bulan lain, kini menjadi berharga dan sangat istimewa.

“Lah itu kalau kita nggak baca literatur-literatur ulama-ulama dulu, mungkin kita ndak tahu,” jelas Gus Baha murid kesayangan KH Maimoen Zubair tersbeut.

Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved