Ngaji Gus Baha

Gus Baha Ingatkan Warga NU Jangan Anti Hisab, Muhammadiyah Jangan Anti Rukyah

KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau lebih dikenal dengan Gus Baha adalah salah satu ulama Nahdlatul Ulama yang berasal dari Rembang, Jawa Tengah.

Penulis: Yoni Iskandar | Editor: Yoni Iskandar
jatim.nu.or.id
Gus Baha atau yang kerap disebut kiai kekinian. 

Penulis : Yoni Iskandar | Editor : Yoni Iskandar

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau lebih dikenal dengan Gus Baha adalah salah satu ulama Nahdlatul Ulama yang berasal dari Rembang, Jawa Tengah.

Gus Baha dikenal sebagai salah satu ulama ahli tafsir yang memiliki pengetahuan mendalam seputar al-Qur'an. Secara kebetulan besok seluruh umat Muslim akan menjalankan ibadah puasa Ramadhan.

Kali ini KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang sering disapa Gus Baha dalam suatu majelis pengajian bersama para santri menjelaskan tentang polemik rukyah dan hisab khususnyasaat penetuan Ramadhan dan Idul Fitri .

Berikut penjelasan Gus Baha :

Sekarang saya akan menerangkan hisab.

تَبَارَكَ ٱلَّذِى جَعَلَ فِى ٱلسَّمَآءِ بُرُوجًا وَجَعَلَ فِيهَا سِرَٰجًا وَقَمَرًا مُّنِيرًا

Jadi begini ya, kalau dalam fiqih syafi’iyah, sebenarnya orang boleh percaya hisab, asal hisab itu qoth’i atau dikonsensus. Kalian meskipun memiliki tradisi pesantren, jangan menolak hisab. Salah! Hisab itu dibenarkan Al-Qur’an.

لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ

Jadi, hisab itu ilmu yang dibenarkan Qur’an.

Cuma masalahnya kalau satu, dua orang itu ada subjektivitas. Atau kadang kurang ahli sehingga salah. Di sini dibutuhkan konsensus disebut hisab qoth’i .

Baca juga: Gus Baha : Jadi Dai dan Belajar Agama Tidak Bisa Secara Otodidak, Ini Syaratnya Kata Gus Baha

Baca juga: Gus Baha : Kalau Berbuat Maksiat Jangan Diceritakan, Imbasnya Ini

Baca juga: Gus Baha Tolak Bantuan Uang Miliaran Untuk Bangun Pesantren, Ini Alasan Gus Baha

Makanya, kayak kasus Syawal kemarin, andaikan tidak ada pengumuman Pemerintah pun saya Lebaran. Karena kalender Muhammadiyah juga 3 derajat, kalender NU sudah di atas 2,5 derajat.

Walaupun tidak ada rukyah pun saya berani lebaran. Karena 2 derajat saja muttafaq ‘alaih. Bisa dirukyah apalagi 3 derajat.

Itu beda dengan Dzulhijjah yang sekarang. Ada yang bilang ada 1,5 derajat ada yang bilang belum 2 derajat. Itu beda, itu subjektif. Boleh diikuti boleh tidak. Tetapi, kalau seperti yang satu Syawal kemarin harus diikuti hisabnya.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved