Ramadan 2021

Kampung Arab Surabaya, Denyut Nadi Ekonomi Indonesia Sejak Sebelum Ada Belanda

Kampung Arab Surabaya merupakan kekuatan ekonomi Indonesia sejak sebelum ada Penjajah Belanda dan Sunan Ampel.

Penulis: Fikri Firmansyah | Editor: Yoni Iskandar
Tribunjatim.com/Fikri Firmansyah
Warga asli Kampung Arab Surabaya saat berjalan menyusuri lorong dekat masjid Sunan Ampel. Di kawasan ini, warga keturunan Arab (sebagian besar asal Yaman) telah tinggal ratusan tahun secara turun-temurun. 

Reporter : Fikri Firmansyah | Editor : Yoni Iskandar

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Tahukah kalian, ternyata Kampung Arab Surabaya merupakan kekuatan ekonomi Indonesia sejak sebelum ada Penjajah Belanda dan Sunan Ampel.

Hal tersebut dikatakan langsung salah satu seorang tokoh warga keturunan Arab di kawasan Ampel Surabaya, Abdul Kadir Firdi.

Tribunnews.com berkesempatan melakukan wawancara eksklusif kepada pria paruh baya yang akrab disapa Abah Firdi itu.

Bahkan, Abah Firdi mengajak Tribunnews.com untuk melakukan buka puasa dan shalat magrib berjamaah bersama dirumahnya.

Abah Firdi menceritakan, selain terkenal sebagai pusat daerah islamia yang kuat, Kampung Arab Surabaya sendiri merupakan pusat ekonomi Indonesia sejak sebelum Indonesia merdeka dan juga sejak sebelum dijajah oleh Belanda.

Baca juga: Menu Buka Puasa Favorit Warga di Kampung Arab Surabaya Kurma dan Es Permen Karet

Baca juga: Asiknya Ngabuburit di Jalan Suromenggolo, Tempat Favorit Warga Ponorogo Berburu Takjil

Baca juga: Bahagianya Nagita Slavina Hamil Anak Kedua, Gemetar Nangis Oh My God, Rieta Amilia Terharu

"Untuk kunci utama wilayah ini bisa menjadi denyut nadi ekonomi Indonesia sejak sebelum ada Penjajah Belanda berkat akulturasi budayanya," terangnya kepada Tribunnews.com, Jumat (16/4/21).

Akulturasi budaya yang sangat kuat memang ada dari dahulu kala.

Selain itu, juga karena kawasan ini dekat dengan pelabuhan.

"Jadi karena merupakan kawasan yang dekat dengan pelabuhan (kalimas, pelabuhan terbesar era lampau) dan ditambah dengan punya akulturasi budaya yang kuat membuatnya menjadi pusat bisnis, sehingga menjadi denyut nadi ekonomi Nusantara (kini Indonesia)," jelasnya.

Abah Firdi menjelaskan, beragam komunitas masyarakat memang telah ada dikawasan ini sejak sebelum Sunan Ampel datang untuk mendirikan Masjid.

Setelah ada Sunan Ampel itulah, akulturasi budaya mulai semakin kuat.

Menyebarkan islam dengan kedamaian yang diamalkan Sunan Ampel itu membuat masyarakat sekitar bisa saling menghormati meski berbeda komunitas dan agama.

Kata Abah Firdi, diera pertamanya (sebelum ada Belanda dan Sunan Ampel) komposisi masyarakat disini, terbanyak dari komunitas Jawa, yakni sebesar 70 persen, 20 persen Arab (Yaman) dan sisanya India dan Tionghoa.

Era kedua (setelah Indonesia merdeka), komposisinya sudah berubah. Sebab, masyarakat tionghoa-nya minggir ke Kembang Jepun lantaran merasa islam semakin menyebar rata pasca kehadiran Sunan Ampel

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved