Kisah Pilu Hidup Putra RA Kartini, Ditinggal Wafat Ibu Usia 4 Hari, Wariskan 1 Pesan Mendalam
Selain perjalanan RA Kartini yang disorot, kisah hidup putra tunggal RA Kartini juga menarik disimak.
Setelah lulus dari ELS, Soesalit melanjutkan pendidikannya di Hogare Burger School (HBS) Semarang dan berlanjut ke Recht Hoge School (RHS) Jakarta.
Beberapa tahun kemudian Soesalit ditawari pekerjaan oleh kakak tirinya.
Namun di luar dugaan ternyata sang kakak Abdulkarnen memasukkan adik tirinya ini ke Politieke Inlichtingen Dienst (PID) yang merupakan polisi rahasia Belanda.
Rasa bimbang selalu dirasakan Soesalit saat menjadi polisi rahasia ini.
Karena ia sebagai pejuang bangsa dan harus memata-matai bangsanya sendiri.
Setelah Jepang masuk ke Indonesia, akhirnya Soesalit dapat keluar dari PID dan bergabung dengan Tentara sukarela Pemela Tanah Air (PETA).
Baca juga: Ancaman Ruben Onsu Akan Pulangkan Betrand Peto ke NTT Soal Trauma dengan Ibunya: Nurut Sama Ayah
Melansir dari kompas.com, sejarawan Hendri F Isnaini menjelaskan, selama perang kemerdekaan putra Kartini ini menjadi panglima di Divisi III Diponegoro.
Soesalit juga pernah bergeriliya di Gunung Sumbing saat Agresi Militer Belanda II.
Namun karier militer Soesalit tidak begitu baik.
Pada saat berpangkat Jenderal Mayor atau sekarang dikenal Mayor Jenderal, Soesalit pernah diturunkan pangkatnya.
Dari Jenderal Mayor menjadi Kolonel kemudian diturunkan lagi menjadi Kementerian Perhubungan.
Namun pada peristiwa Madiun 1948 menjadi awal penderitaan Soesalit.
Pada saat pemberontakan komunis, pemerintah mendapat dokumen berisi nama Soesalit sebagai "Orang yang Diharapkan".
Singkat cerita, Soesalit pun menjadi tahanan rumah dan pangkatnya diturunkan.
Ia menjadi pejabat di Kementerian Perhubungan dengan pangkat militer tak berbintang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/ra-kartini-dan-anaknya-raden-mas-soesalit_20180421_124334.jpg)