Breaking News:

Aktif Olahraga Tak Jamin Bebas Risiko Serangan Jantung? Ini Kata Dokter dan Cara Pertolongan Pertama

Benarkah aktif olahraga tak jamin bebas risiko serangan jantung? Ini penjelasan dokter dan cara pertolongan pertamanya.

Penulis: Arie Noer Rachmawati | Editor: Dwi Prastika
Freepik by user12715979
LUSTRASI - Serangan jantung. 

Reporter: Arie Noer Rachmawati | Editor: Dwi Prastika

TRIBUNJATIM.COM - Kematian mantan atlet bulu tangkis Markis Kido akibat serangan jantung mengingatkan kita untuk lebih peduli lagi terhadap kesehatan jantung. Satu di antaranya dengan olahraga. Namun, meski sudah berolahraga, benarkah tak jamin bebas risiko serangan jantung?

Dokter Adrian Setiaji atau @doktermedok mengatakan, penyebab serangan jantung saat olahraga yang paling banyak adalah gangguan irama atau henti jantung. Namun, kematian mendadak pada orang muda aktif berolahraga pada intinya tidak semuanya karena serangan jantung.

"Kemungkinan bisa saja karena memang punya penyakit jantung koroner tetapi tidak terdeteksi atapun bisa juga adanya sakit jantung bawaan," terangnya saat webinar "Masih Muda Aktif Olahraga, Yakin Bebas Risiko Penyakit Kritis Seperti Penyakit Jantung?" melalui Zoom, Jumat (18/6/2021).

Secara umum, kata dr Adrian, gejala serangan jantung ditandai dengan rasa nyeri di dada seperti ketindihan atau dada terasa diikat.

"Itu khas gejala pada serangan jantung. Nyerinya ini juga tidak hanya berada di sekitar dada, tetapi bisa menjalar ke tangan dan punggung. Selain itu, penderita penyakit jantung mengeluarkan keringat berlebih meski aktivitasnya tergolong ringan," paparnya.

Menurut dr Adrian, bagi yang memiliki bawaan penyakit jantung tetap disarankan berolahraga. Tetapi, lebih dahulu melakukan pemeriksaan ke dokter spesialis jantung dan spesialis rehabilitasi medis.

"Jika Anda memiliki riwayat penyakit jantung, Anda dapat tetap berolahraga karena olahraga baik untuk kesehatan kita. Namun, sebaiknya sebelum berencana berolahraga secara rutin, konsultasikan dulu kondisi Anda," lanjutnya.

Head of Sequis Digital Channel Evan Tanotogono dan dr Adrian Setiaji (@doktermedok) saat Webinar Super Grand Launch #SehatSuperMudah dari Super You by Sequis Online, Jumat (18/6/2021).
Head of Sequis Digital Channel Evan Tanotogono dan dr Adrian Setiaji (@doktermedok) saat Webinar Super Grand Launch #SehatSuperMudah dari Super You by Sequis Online, Jumat (18/6/2021). (TRIBUNJATIM.COM/ARIE NOER RACHMAWATI)

Hal ini agar dokter dapat membantu menyarankan jenis olahraga yang cocok dengan kondisi penderita, termasuk durasi dan intensitasnya. Sebab, orang yang memiliki kelainan jantung perlu membatasi aktivitas sesuai toleransi kondisinya.

"Tapi sebetulnya, olahraga apapun tidak masalah. Yang penting teknisnya lengkap mulai pemanasan, inti kemudian pendinginan atau cooling down. Untuk rekomendasinya bisa mulai olahraga yang low impact," sambung dr Adrian.

Baca juga: Bolehkah Penderita Penyakit Jantung Jalankan Ibadah Puasa Ramadan? Begini Efek dan Aturan Amannya

Halaman
12
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved