Breaking News:

Berita Surabaya

Dibekali Aplikasi e-Commerce, Tutik Ingin Kiripiknya Laris di Pasar Digital

Tutik bersama 19 difabel tuna netra yang lain di Surabaya mengikuti Pelatihan IT dalam pemanfaatan aplikasi e-commerce dan medsos. Mereka sangat antui

Penulis: Nuraini Faiq | Editor: Yoni Iskandar
Sajian Sedap
Keripik Bawang Balado 

Reporter : Nuraini Faiq | Editor : Yoni Iskandar

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Tutik Mulyani terus menempelkan smartphonenya di telinga. Sementara jarinya terus bergerak mengikuti perintah suara. Tanpa bisa melihat, Tutik tampak sudah begitu mahir memejet setiap tool yang tertuang dalam HP android miliknya.

Tutik bersama 19 difabel tuna netra yang lain di Surabaya mengikuti Pelatihan IT dalam pemanfaatan aplikasi e-commerce dan medsos. Mereka sangat antuias dan penuh semangat agar keberadaan HP mereka lebih produktif menghasilkan uang.

"Saya ingin Kripik usus dan makanan olahan saya bisa laris dipasar digital. Tak hanya dipesan teman di FB dan Grup WA. Saya ingin jadi wirausaha sukses," ucap Tutik, salah satu peserta pelatihan IT husus tuna netra kepada TribunJatim.com, Senin (21/6/2021).

Sebanyak 20 difabel netra yang sudah merintis usaha berkesempatan mengikuti pelatihan pemanfaatan IT. Komunitas Mata Hati bersama USAID Mitra Kunci berkolaborasi menggelar pelatihan bagaimana menjadi penjual online sukses. Pelatihan digelar di Gedung Wanita Surabaya.

Tidak hanya bagaimana menembus produk dan barang jasa mereka bisa masuk bursa toko digital. Tapi mereka juga akan dibekali khusus bagaimana mem-posting produk mereka agar lebih menarik. Pelatihan digelar 21-23 Juni 2021.

Baca juga: KoinWorks Catat Performa Positif UKM Digital E-commerce, Tumbuh Signifikan di Masa New Normal

"Mereka peserta terpilih dan sudah sangat akrab dan mahir memainkan HP. Dengan aplikasi yang sudah mereka kuasai, menu HP apapun sudah bisa mereka operasikan. Mereka harus menjadi pelaku pasar digital," ucap Aswar, trainer USAID yang juga difabel tuna netra.

Selain sudah mahir dan aware dengan semua aplikasi di HP mereka, kebanyakan peserta difabel netra itu tengah kuliah dan pendidikan sarjana. Seperti Tutik masih kulihat di Unesa semester 6.

"Dengan memanfaatkan medsos tanpa aplikasi saya sebulan bisa hasilkan omset sekitar Rp 1 juta. Lumayan. Tapi saya ingin pasar yang lebih besar di toko digital," kata Tutik yang jualan Kripik usus bersama saudaranya.

Pelatihan khusus para disabilitas menghadirkan pembicara dari Telkom Dadi Ahdyan. Dia menyampaikan bahwa digitalisasi membuka kesempatan siapa pun untuk menjadi pelaku pasar digital. Komunitas Mata Hati yang menjadi binaan Telkom sudah menjadi bukti.

"Banyak difabel netra sukses jualan. Kami ingin produk mereka bisa masuk toko online. Jangan salah, fisik hanya keterbatasan kecil. Mereka sangat adaptif dan mahir IT," kata Dadi.

Melalui Bina Lingkungan, Telkom bisa memberi fasilitas kepada pelaku difabel netra yang serius berwirausaha. Mulai dari penyediaan perangkat IT hingga hibah kepada pelaku wirausaha yang sudah menemukan passion nya.

berita tentang e-commerce

Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved