Berita Surabaya
SeshaID, Mesin Pencari Edukatif Buatan Alumni Ilmu Perpustakaan UB
Beberapa tahun belakangan banyak bermunculan mesin pencari karya anak bangsa yang mencoba mengusung konsep berbeda.
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Beberapa tahun belakangan banyak bermunculan mesin pencari karya anak bangsa yang mencoba mengusung konsep berbeda.
Alumni Jurusan Ilmu Perpustakaan Univertas Brawijaya yaitu Afib Rif’an Nashruddin, Erlangga Setiya Budi, dan Reyhan Kamil bermimpi membuat mesin pencari yang menjadikan setiap informasi memiliki nilai edukatif yang terorganisir dari berbagai sumber terpercaya.
Berawal dari diskusi sesama rekan kuliah di jurusan Ilmu Perpustakaan, Kemudian lahir sebuah gagasan untuk membuat mesin pencari pada Februari 2017. Setelah melalui tahapan konsep dan riset yang panjang sejak tahun 2017, mereka akhirnya resmi merilis mesin percari bernama SeshaID tepatnya pada 21 Juni 2021.
Afib menceritakan bagaimana proses pengembangan mesin pencari ini membutuhkan waktu lama karena memakai teknologi sistem crawling sendiri dan memanfaatkan sumber-sumber teknologi open source. “Tidak menggunakan API dari mesin pencari yang sudah ada,” tegasnya.
Baca juga: Kreatifitas Jadi Asa Pemuda Surabaya untuk Berusaha di Tengah Pandemi
Mengapa SeshaID
Afib menjelaskan bahwa SeshaID bukanlah sekadar mesin pencari seperti Google. Secara teknis, cara kerjanya serupa dengan mesin pencari pada umumnya. Namun secara prinsip, Afib menekankan bahwa mesin pencari yang ia buat merupakan education search engine.
Istilah "education" yang ia sebutkan diartikan dari visi SeshaID menjadikan setiap informasi memiliki nilai edukatif dan terorganisir dari berbagai sumber terpercaya, yang benar-benar bisa dimanfaatkan oleh semua kalangan.
“Mesin pencari kita setiap hari mengindeks data secara masif dari berbagai sumber informasi yang sudah melalui filter, apakah informasinya dapat dipertanggungjawabkan dan yang paling penting punya nilai edukasi,” tegas Erlangga yang bekerja sebagai Pustakawan di UNISMA.
Selain sebagai layanan mesin pencari, SeshaID berupaya penuh untuk menyediakan informasi seputar warisan budaya Indonesia melalui layanan bernama Sesha Culture.
“Kalau di Google Doodle menginformasikan hari libur, peristiwa penting, memperingati kehidupan para seniman, pelopor, dan ilmuwan terkenal. Bedanya Sesha Culture menyajikan informasi seputar Budaya Indonesia, ” tutur Afib
Perlunya melestarikan budaya Indonesia menjadi perhatian khusus dari SeshaID, selain sebagai mesin pencari konten edukatif.
“Kita lihat nilai budaya kita kurang terlestarikan, di Indonesia ini banyak nilai konten budaya yang bisa diangkat. Semua orang tahu itu warisan, itu juga menjadi alasan kita mengembangkan Sesha Culture, ” terang Erlangga.
Sumber income darimana?
Saat ini mesin pencari SeshaID belum memiliki pendapatan, Afib mengaku tidak menutup peluang ke depan memasang layanan iklan di hasil pencarian seperti mesin pencari pada umumnya.
SeshaID sampai saat ini belum ada pendanaan dari pihak luar sehingga untuk biaya operasional masih memakai dana pribadi.
Selain terus mengembangkan fitur mesin pencari SeshaID, Afib juga menambahkan saat ini ia dan timnya juga mengembangkan layanan-layanan turunan lain untuk membiayai operasional.
Salah satu layanannya bernama OneGLAM. OneGLAM merupakan layanan turunan Sesha dalam penyediaan layanan hosting di bidang jasa pengembangan infrastruktur teknologi Gallery, Library, Archive dan Museum. Pendapatan dari OneGLAM sebagai penunjang operasional, selama mesin pencari SeshaID belum bisa menghasilkan income.
“Kita punya layanan hosting khusus untuk melayani Gallery, Library, Archive dan Museum. 2 tahun ke belakang kita sudah menyelesaikan kurang lebih 70an projek bervariasi meliputi website kampus, organisasi, dan yang berkaitan dengan 4 lembaga informasi tadi," jelas Alumnus Ilmu Perpustakaan UB.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/seshalid-mesin-pencari-buatan-anak-negeri.jpg)