Cara Mudah

Anak Tuban dengan Nama 19 Kata Sulit Urus Akta, Ini Saran Dukcapil Kemendagri, 'Risiko Seumur Hidup'

Anak dengan nama 19 kata di Tuban kesulitan mengurus akta kelahiran. Dukcapil Kemendagri: kolom terbatas, paling enak 1-5 kata.

Editor: Hefty Suud
Istimewa/Net
Ilustrasi Akta Kelahiran. 

TRIBUNJATIM.COM - Belakangan viral anak di Tuban dengan nama panjang 19 kata.

Di usia menginjak tahun, bayi bernama Rangga Madhipa Sutra Jiwa Cordosega Akre Askala Mughal Ilkhanat Akbar Sahara Pi - Thariq Ziyad Syafudin Quthuz Khoshala Sura Talenta itu tengah kesulitan mengurus akta kelahiran.

Diketahui, anak dengan nama 19 kata itu lahir pada 6 Januari 2019.

Pasangan Arif Akbar dan Suci Nur Aisiyah, asal Desa Ngujuran, Kecamatan Bancar itu, kini tengah berupaya mengirim surat terbuka ke Presiden Joko Widodo.

Baca juga: Rangkaian Nama Qurrota Ayun dan Maknanya untuk Bayi Perempuan, Lengkap dengan Ciri Kepribadiannya

Stiker nama anak terpanjang asal Desa Ngujuran, Kecamatan Bancar, Kabupaten Tuban
Stiker nama anak terpanjang asal Desa Ngujuran, Kecamatan Bancar, Kabupaten Tuban (Istimewa/TribunJatim.com)

"Benar, kami telah mengirim surat terbuka ke Presiden. Di antaranya lewat FB pribadi. Sudah ngurus akta tiga tahun lalu, tapi tidak beres," ujarnya dikonfirmasi, Senin (4/10/2021).

Lantas mengapa bayi tersebut kesulitan membuat akta kelahiran? Apakan nama anak terlalu panjang jadi masalah?

Berikut aturan pemberian nama anak yang disarankan oleh Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri ( Dukcapil Kemendagri ), dilansir TribunJatim.com dari Kompas.com.

Baca juga: Tanggapi Nama Anak Pakai 19 Kata Sulit Buat Akta, Disdukcapil Tuban: Ada Batasan Karakter Huruf

Baca juga: Masih Ingat Nama Anak Terpanjang Asal Tuban, Kini Kesulitan Buat Akta di Usia Tiga Tahun

Belum ada batasan

Direktorat Jenderal Dukcapil Zudan Arif Fakrulloh menjelaskan bahwa pemberian nama atau identitas merupakan hak warga negara.

Pemberian nama disarankan memiliki makna yang tidak bertentangan dengan kesusilaan, sopan-santun, atau SARA.

"Nama itu kan doa dari orang tua. Tentu saja nama yang baik-baik, tidak bertentangan dengan agama, kesusilaan, sopan-santun, sehingga tidak boleh yang berkonotasi jelek," jelas Zudan, saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (20/2/2021).

Sampai saat ini, belum ada atuan resmi mengenai batasan atau kaidah pemberian nama pada anak.

Akan tetapi, melihat dinamika yang dihadapi masyarakat terkait nama beberapa tahun terakhir, Dukcapil mengaku akan menyusun aturan menteri tentang pedoman pemberian nama anak.

"Oleh karena itu kami saat ini sedang menyusun aturan menteri tentang pedoman pemberian nama, untuk memudahkan masyarakat di dalam melakukan pelayanan publik," katanya.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved