Berita Malang

Begini Cara Mahasiswa UB Budidayakan Ikan Axolotl yang Terancam Punah

Lima mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) berusaha mengembangbiakan ikan Axolotl.

Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: Ndaru Wijayanto
Surya/hayu yudha
Budidaya ikan Axolotl dilakukan oleh mahasiswa Universitas Brawijaya (UB). Ikan hias ini termasuk kategori terancam punah. 

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Sylvianita Widyawati

TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Lima mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) berusaha mengembangbiakan ikan Axolotl.

Mereka adalah Daffa Khairan(FPIK), Brillian Prastica (FPIK), Muhammad Setiawan Gusmi(FPIK), Rere Tara Mahameru (FPIK) dan Ali Akbar (FILKOM). 

Mereka dibimbing oleh Mochammad Fattah SPi MSi mam. Menurut Daffa, ikan Axolotl adalah ikan yang hidup di wilayah sub tropis.

"Yang kita lakukan adalah kita mendomestikan ikan unik ini ke tropis Indonesia," jelas Daffa pada suryamalang.com (Tribun Jatim Network), Senin (25/10/2021).

Dikatakan, timnya memilih ikan ini karena peluang di pasar ikan hias/penghobi. "Maka kami mencari komoditasnya. Dan Axolotl adalah komoditas unik," jelas dia.

Baca juga: Bak Air Terjun, Kios Pedagang Pasar Besar Malang Alami Kebocoran saat Hujan

Untuk itu, mereka memakai teknik water close look system. Dari 10 Axolotl yang mereka beli impor, sebanyak tiga ekor bisa didomestikan.

"Memang masih sedikit. Tapi dari tiga ekor itu bisa menghasilkan 300 telur. Padahal bukan ikan habitat Indonesia," jelas dia. 

Jika sebelumnya ikan ini memijah di rentang suhu 13-15 derajat celcius, maka sekarang adaptif di suhu 16-19 derajat celsius.

Permintaan untuk ekspor juga tinggi kala mereka mempromokan iklan lewat google. Dan ternyata saat mereka mengurus perizinan eksport, diperoleh keterangan bahwa ikan ini termasuk terancam punah.

Baca juga: Mahasiswi Diduga Jadi Korban Begal di Jalan Gajayana Kota Malang, Polisi Sebut Hanya Salah Paham

Dari 300 telur itu, sebanyak 40 ekor sudah terjual. Namun mahasiswa masih terus meneliti parameter airnya yang pas. Misalkan keasamannya, nitrit dll. Sehingga bisa mendomestikannya.

Kegiatan budidaya ikan ini melaju ke pimnas untuk bidang PKM kewirausahaan. Dikatakan dia, untuk ekspor masih perlu waktu. Sebab ada persyaratan sertifikat internasional.

Karena itu, mereka ingin membangun kerjasama dengan FPIK (Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan) UB agar ada balai riset ikan ini. Sehingga bisa meneliti lebih jauh. Ikan ini juga memiliki keunikan bisa meregerasi tubuhnya. Misalkan dipotong, maka ia bisa tumbuh lagi.

Saat ini mereka mengembanhkan seperti jenis albino,like marble, golden. Peminat di Indonesia cukup banyak.

Ukuran ikan 8 cm sudah ada yang minat. Harganya ratusan ribu sampai jutaan tergantung jenis dan kualitasnya. Keunikan ikan ini tak memiliki gigi. 

Sumber: Tribun Jatim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved