Berita Kota Blitar

Bangkit dari Pandemi, Perajin Tas Batok di Blitar Buat Inovasi Kursi dari Bambu dan Tempurung Kelapa

Bangkit dari pandemi Covid-19, perajin tas batok di Kota Blitar membuat inovasi kursi dan meja berbahan bambu serta tempurung kelapa.

Tayang:
Penulis: Samsul Hadi | Editor: Dwi Prastika
Tribun Jatim Network/Samsul Hadi
Ismarofi sedang melakukan finishing pembuatan meja dan kursi berbahan bambu tutul dan batok kelapa di rumahnya, di Kelurahan Tanjungsari, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar, Selasa (11/1/2022). 

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Samsul Hadi

TRIBUNJATIM.COM, BLITAR - Usaha kerajinan tas berbahan batok kelapa atau tempurung kelapa milik Ismarofi, warga Kelurahan Tanjungsari, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar, kini mulai bangkit berproduksi lagi. 

Sebelumnya, usaha tersebut berhenti beroperasi hampir dua tahun, akibat pandemi Covid-19 (virus Corona).

Pesanan kerajinan tas berbahan batok mulai datang seiring dengan pelonggaran aktivitas masyarakat karena kasus Covid-19 di Kota Blitar mulai melandai. 

Tapi, produksi kerajinan tas berbahan batok milik Ismarofi belum normal, baru sekitar 20 persen. 

"Sejak pelonggaran PPKM dan Kota Blitar masuk Level 1, mulai ada pesanan lagi. Saya mulai memproduksi lagi, tapi baru 20 persen," kata Ismarofi, Selasa (11/1/2022). 

Saat ini, Ismarofi hanya memproduksi kerajinan tas batok sesuai pesanan. Bapak tiga anak itu belum berani menyetok produksi. 

Baca juga: Kreativitas Jadi Kunci Sukses Kerajinan Batik di Kota Kediri Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19

"Pasarnya masih belum pulih, saya memproduksi sesuai pesanan. Kalau dulu tiap hari produksi," ujarnya. 

Sebelum pandemi Covid-19, Ismarofi bisa memproduksi 50-75 biji tas batok tiap hari. 

Dia memiliki 35-40 pekerja untuk memproduksi kerajinan tas batok kelapa di rumahnya. 

Sejak pandemi Covid-19 melanda Indonesia pada 2020, produksi kerajinan tas batok miliknya berhenti total.

Sekarang, hanya ada satu sampai lima orang pekerja yang membantu Ismarofi memproduksi kerajinan tas batok. 

Para pekerja itupun tidak setiap hari masuk. Sebagian pekerja menggarap produksi di rumahnya masing-masing.

"Pasar kerajinan tas batok mayoritas di tempat wisata. Begitu tempat wisata tutup saat pandemi, usaha kerajinan tas batok saya ikut berhenti," katanya. 

Karena pasar kerajinan tas batok belum pulih, Ismarofi juga mencoba membuat inovasi kerajinan meja dan kursi berbahan bambu tutul yang dikombinasi dengan tempurung kelapa. 

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved