Ritual di Jember Membawa Maut

Terjawab Sosok Sebenarnya Pimpinan Tunggal Jati yang Gelar Ritual Maut, Selalu Berselendang Hijau

Dinding tembok berwarna putih dan bangunan rumahnya menghadap selatan adalah rumah Nur Hasan (38), ketua Kelompok Tunggal Jati Nusantara. Rumah itu

Penulis: Tony Hermawan | Editor: Januar
TribunJatim.com/ Tony Hermawan
Suasana depan rumah Nur Hasan, pimpinan Kelompok Tunggal Jati tampak sepi pasca terjadi peristiwa ritual berujung maut di Pantai Payangan, Jember 

Laporan wartawan Tribun Jatim Network, Tony Hermawan

TRIBUNJATIM.COM, JEMBER - Dinding tembok berwarna putih dan bangunan rumahnya menghadap selatan adalah rumah Nur Hasan (38), ketua Kelompok Tunggal Jati Nusantara. Rumah itu berada di Dusun Botosari, Desa Dukuh Mencek, Kecamatan Sukorambi. Rumah itu persis di pinggir jalan raya.

Nur Hasan dua hari terakhir ini menjadi pembicaraan sebab telah mengkoordinir 28 orang melakukan ritual di Pantai Payangan, Jember, hingga berujung maut. Dalam peristiwa itu, 11 orang tewas tergulung ombak ganas pantai selatan ketika melakukan ritual.

Hampir setiap hari rumah Hasan dikunjungi tamu. Entah dari mana saja asal mereka. Apalagi kalau malam Jumat, jumlah tamu yang datang bisa sampai 20an orang.

Tetangga kanan-kirinya sudah biasa melihat rumah Hasan sering dikunjungi banyak tamu.
Maklum, Hasan di lingkungannya dikenal seorang paranormal

Baca juga: Terjawab Penyebab Kelompok Tunggal Jati Gelar Ritual di Pantai Payangan, Polisi Sebut Soal Bacaan

.

Cerita yang beredar, dia dianggap punya kekuatan spiritual sehingga mampu menerawang nasib orang di masa depan, termasuk mengajak orang meraih ketenangan jiwa.

"Dia kalau kemana-mana pakai selendang hijau," kata Budi Harto, Sekretaris Desa Dukuh Mencek.

Paranormal sangat begitu melekat di diri Hasan. Tamu-tamu yang datang bukan hanya dari kalangan bawah. Cukup banyak tamunya datang membawa mobil. Saking eksisnya, kemampuan ini sudah dijadikan dirinya sebagai pekerjaan. Sampai-sampai, dia bisa menghidupi dua istri dan dua anak.

"Kalau Pak Hasan dulunya ini kerja di Malaysia. Terus 2010 itu pulang. Kayaknya setelah itu, dia dikenal sebagai paranormal," ujarnya.

Sementara itu, Kapolres Jember AKBP Hery Purnomo mengatakan, hasil penyelidikan sementara Kelompok Tunggal Jati ini merupakan tempat pengobatan alternatif.

Akan tetapi, terkadang tujuan orang yang datang ke Hasan juga bermacam-macam. Ada yang ingin konsultasi masalah ekonomi, rumah tangga, atau pun kesehatan.

"Nah ini kesehatan secara fisik maupun batin. Bermacam-macamlah alasan orang yang datang dan bergabung," beber Hery.

Kebanyakan, pengikut Hasan dulunya adalah seorang pasien. Banyak pasien mengaku sembuh setelah datang ke Hasan. Keberhasilan itu sering diceritakan pasien-pasien ke orang lain. Sehingga cukup banyak yang tertarik menjadi pengikutnya.

"Eksisnya dari getok tular," pungkas Hery.

Kumpulan berita Jember terkini

Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved