Berita Surabaya

Mahasiswa ITS Optimalkan Kelayakan Finansial PLTSa Lewat Aplikasi Social Empowerment

Tim mahasiswa ITS berhasil menggagas solusi untuk mencapai kelayakan finansial dalam pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) guna menarik

Penulis: Zainal Arif | Editor: Ndaru Wijayanto
istimewa
Tim mahasiswa ITS terdiri dari (dari kiri) Rizki Amrizal, Muhammad Revanza Maulana, dan Reyhan Hamdan Ibda'u Atma yang berhasil menggagas aplikasi Social Empowerment 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Tim mahasiswa ITS berhasil menggagas solusi untuk mencapai kelayakan finansial dalam pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) guna menarik investor. 

Solusi ini dibarengi dengan pemberdayaan masyarakat lewat aplikasi Social Empowerment.

Ketua tim Rizki Amrizal menjelaskan, pada kasus ini timnya mendapatkan informasi, terdapat produksi sampah sebanyak 12 ton per hari di Makassar. 

Meskipun begitu, terdapat beberapa keraguan dari para investor untuk PLTSa di sana mengenai kelayakan finansial dari pembangkit listrik tersebut. 

“Jadi di sini kita berusaha meyakinkan mereka (para investor, red) kalau berinvestasi di sini itu menguntungkan,” ujar Rizki kepada TribunJatim.co.id, Selasa (22/2/2022).

Mahasiswa asal Bojonegoro ini menyebutkan, dari hasil analisis kelayakan finansial bersama timnya didapatkan, nilai internal rate of return (IRR) yang merupakan tingkat keuntungan yang akan didapatkan dari investasi berada di angka 19,9 persen. 

Nilai ini cukup tinggi jika dibandingkan dengan minimum attractive rate of return (MARR) yang berada di angka 6 persen.

“Indikator IRR yang didapatkan ini jauh lebih tinggi hingga mencapai tiga kali lipat. Dari segi profit, sangat bisa meyakinkan investor,” tuturnya.

Dalam mencapai tujuan tersebut, mahasiswa yang akrab disapa Amrizal ini bersama timnya mengajukan beberapa solusi. 

Solusi pertama yaitu mengalihkan proses pada pembangkit listrik dari proses pembakaran ke gasifikasi. 

Dengan peralihan ini, meskipun memiliki biaya yang lebih mahal, akan mengurangi emisi yang signifikan. 

“Kalau mesin pembakaran itu menghasilkan karbon monoksida yang tinggi, jika gasifikasi bisa berkurang drastis,” ungkapnya.

Solusi kedua yaitu memberikan tipping fee kepada setiap PLTSa yang akan dibangun di Makassar.

Tipping fee yang ditawarkan dari tim yang diberi nama Bilos ini adalah sebesar Rp 160 ribu. 

Kemudian, solusi ketiga, tim ini mengombinasikan antara electricity supply chain dengan green business supply chain.

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved