Sulawesi Utara
Selamat Datang di Superhub PDIP Jatim

Berita Kediri

Nasib Bekas Kereta Bupati Kediri Merana Kurang Mendapatkan Perawatan, Warga Ungkap Keanehan

Kereta antik Mbah Gleyor peninggalan mantan Bupati Kediri Djojohadiningrat kondisinya kini merana karena kurang mendapatkan perawatan. Kereta yang

Penulis: Didik Mashudi | Editor: Januar
TribunJatim.com/ Didik Mashudi
Kereta antik Mbah Gleyor peninggalan mantan Bupati Kediri Djojohadiningrat yang berlokasi di Jl Glinding, Desa/Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri 

Laporan wartawan Tribun Jatim Network, Didik Mashudi

TRIBUNJATIM.COM-KEDIRI - Kereta antik Mbah Gleyor peninggalan mantan Bupati Kediri Djojohadiningrat kondisinya kini merana karena kurang mendapatkan perawatan.

Kereta yang dibuat sekitar tahun 1900-an dari kayu jati ini dipajang depan peneduh bangunan berbentuk joglo di Jalan Glinding, Desa/Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri.

Imam Mubarok, Ketua Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kabupaten Kediri menjelaskan, kereta bupati berbentuk perahu menyimpan banyak sejarah.

Salah satunya ketika Bupati Kediri Djojohadiningrat ditangkap Belanda dan diasingkan ke Manado-Sulawesi Utara karena dianggap makar.

Baca juga: Profil Lengkap Arifin Panigoro, Anggota Wantimpres yang Wafat, Termasuk Orang Terkaya di Indonesia

Bupati Kediri diasingkan ke Manado sampai meninggal. Perjuangan itu membuatnya mendapat julukan "Kanjeng Manado".

Menurut Imam Mubarok, kereta peninggalan bupati selama ini hanya dirawat penduduk desa setempat serta belum mendapat campur tangan dari pemerintah.

"Kereta peninggalan bupati mendapat julukan Mbah Gleyor itu dibiarkan dalam bangunan joglo terbuka dengan pagar besi yang dibangun oleh keturunannya. Salah satunya Pak Haji Muhadi, mantan Bupati Blitar,” kata Imam Mubarok, Senin (28/2/2022).

Kereta antik itu berusia lebih dari 100 tahun dengan ukuran panjang 7 meter dan lebar 2 meter berbentuk menyerupai perahu sehingga bisa digunakan di sungai.

Menurut Hj Musiswatin (72) warga desa setempat menuturkan, berdasarkan keterangan orang yang merawat pertama kereta Mbah Gleyor almarhum Mbah Matal.

Semenjak ditinggal bupati yang ditangkap Belanda, keretanya ditinggal di pekarangan rumahnya di Jl Watu Gede.

Selanjutnya pada 1949, Mbah Matal yang menjadi juru kunci mendapatkan wangsit untuk memindahkan kereta ke gang sebelah dari tempat kali pertama kereta itu berada persis saat ditangkap Belanda.

"Kereta itu tak bisa jalan dan ditarik dengan bantuan masyarakat setempat saat dipindahkan. Kereta hanya mau ditarik oleh dua kerbau jantan dan dan didorong oleh Mbah Matal dan Istrinya.

Keanehan itu yang pertama, keanehan kedua bekas tanah yang dilewati kereta itu tak bisa tumbuh rumput," jelasnya.

Muniswatin menjelaskan, sebelum Mbah Matal, yang menjadi juru kunci Mbah Nala, yang juga kusir kereta bupati.

"Dulu wilayah ini adalah hutan, dan Mbah Nala orang yang kali pertama babad alas. Dia pula yang memberi nama desa dengan nama "Kandeg" yang berarti berhenti," ungkapnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jatim
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved