Arab Saudi Hapus Aturan Karantina Wajib Covid-19 & Tes PCR, Ini Dampaknya Pada Haji dan Umrah 2022

Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi tak lagi mewajibkan pendatang untuk memberikan hasil tes PCR dan menjalani karantina wajib Covid-19.

Editor: Hefty Suud
Shutterstock
Pemandangan di sekitar Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi. 

TRIBUNJATIM.COM - Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi mencabut kebijakan jarak sosial dan memakai masker di luar ruangan terkait pencegahan penularan virus Corona ( Covid-19 ) pada Sabtu (5/3/2022).

Pencabutan kebijakan juga berlaku di Dua Masjid Suci, yakni Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, maupun di semua masjid di Kerajaan.

Selain itu, Pemerintah Arab Saudi tidak lagi mewajibkan pendatang untuk memberikan hasil tes PCR dan menjalani karantina wajib Covid-19 saat tiba di negaranya.

Meski begitu, semua kedatangan ke Arab Saudi dengan visa kunjungan apa pun diharuskan untuk memiliki asuransi yang mencakup biaya perawatan penggunanya dari infeksi virus Corona.

 Apa dampak pencabutan aturan pembatasan Covid-19 pada jemaah haji dan umrah?

Baca juga: Belasan CJH di Lamongan Tarik Setoran Haji, Tak Ada yang Disebabkan oleh Pandemi

Baca juga: Daftar Haji Tahun Ini, Warga Trenggalek Diperkirakan Akan Berangkat pada 2053

Kementerian Agama (Kemenag) Terkait kebijakan Arab Saudi tersebut, Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Hilman Latief menilaihal itu akan berdampak pada penyelenggaraan umrah.

Pihaknya berharap, Kementerian Kesehatan dan Badan Nasional Pencegahan Bencana (BNPB) bisa mengambil langkah penyelarasan.

"Terkait keputusan Saudi Arabia mencabut sebagian besar dari kebijakan protokolnya, khususnya berkenaan dengan karantina dan PCR, maka akan ada konsekuensi juga terhadap kebijakan penyelenggaraan umrah di Indonesia," ujar Hilman di Jakarta, Minggu (6/3/2022).

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa besama Menteri Lukman Hakim Saifuddin menyambut kedatangan para CJH Kloter 1 di Asrama Haji, Sukolilo, Surabaya, Jumat (5/7/2019).
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa besama Menteri Lukman Hakim Saifuddin menyambut kedatangan para CJH Kloter 1 di Asrama Haji, Sukolilo, Surabaya, Jumat (5/7/2019). (SURYA/FATIMATUZ ZAHROH)

Ia juga menambahkan, pihaknya akan berdiskusi dengan berbagai pihak terkait kebijakan resiprokral (reciprocal policy) antara Pemerintah Saudi dan Indonesia untuk urusan haji dan umrah.

Sebab, pemerintah Indonesia masih memberlakukan kebijakan One Gate Policy atau satu pintu pemberangkatan jemaah umrah dari asrama haji.

Selain itu, ia mengatakan, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan BNPB dan Kemenkes terkait sudah tidak dipersyaratkan lagi karantina dan cek PCR saat masuk ke Arab Saudi.

Menurut Hilman, kedua lembaga ini yang berwenang dalam teknis pengaturan kebijakan terkait pencegahan penyebaran Covid-19.

“Jadi, jangan sampai di sananya tidak perlu karantina di kita masih dipaksa karantina. Atau jangan sampai di sana tidak dibutuhkan PCR, di kita harus PCR untuk berangkatnya, dan lain-lain," ujar Hilman.

Ia menjelaskan bahwa posisi Kemenag lebih pada mempersiapkan penyelenggaraan kebijakan terkait pencegahan Covid-19, termasuk jika nantinya Indonesia juga harus mencabut kebijakan one gate policy sebagaimana yang selama ini sudah berjalan.

Baca juga: Kemenag Tuban Sebut Belum Ada CJH yang Tarik Biaya Pelunasan Haji di 2021

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved