Ramadan 2022

Jernihkan Hati, Menerima Hidayah Ilahi

Selain karena dilarang oleh Allah SWT, kita memang harus menjaga diri dari melakukan maksiat sebab kemaksiatan bisa berdampak buruk bagi pelakunya.

Istimewa
KH Abdurrahman Navis, Ketua MUI Jawa Timur. 

Oleh: KH Abdurrahman Navis

(Ketua MUI Jawa Timur)

TRIBUNJATIM.COM - Bulan Ramadan merupakan momentum istimewa untuk membersihkan hati manusia dari pengaruh buruk kemaksiatan pada diri masing-masing. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, di bulan suci ini pintu surga terbuka lebar, pintu neraka ditutup rapat dan setan-setan dibelenggu.

Kondisi tersebut diharapkan agar kaum muslimin dapat memanfaatkan kesempatan emas ini dengan berusaha sekuat mungkin untuk mendekatkan diri pada Allah, menguatkan kepedulian pada sesama dan menjaga jarak sejauh mungkin dengan segala bentuk kemaksiatan.

Selain karena dilarang oleh Allah SWT, kita memang harus menjaga diri dari melakukan maksiat sebab kemaksiatan bisa berdampak buruk bagi pelakunya. Di antaranya:

Baca juga: Melawan Patologi Sosial

Pertama, melemahkan rasa ta’dzim (mengagungkan) kepada Allah. Sebab jika rasa ta’dzim itu ada dalam hati, tentu tidak akan mungkin berani melakukan kemaksiatan.

Orang yang suka melakukan perbuatan maksiat (durhaka) kepada Allah akan berakibat kehilangan kewibawaanya di hati makhluk atau manusia.

Sehingga apapun kedudukanya sebagai pejabat, kiai, tokoh masyarakat atau lainnya, jika dia sering melakukan maksiat akan jatuh dalam pandangan manusia dan Allah. Jika sudah demikian siapa yang akan bisa mengangkat derajatnya? Tentu jawabanya tidak ada lain kecuali dia mau bertobat .

Allah SWT berfirman dalam Alquran surat al-Haj ayat 18 (yang artinya): “Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.”

Foto: KH Abdurrahman Navis, Ketua MUI Jawa Timur
Foto: KH Abdurrahman Navis, Ketua MUI Jawa Timur (Istimewa)

Baca juga: Pasar Murah Ramadan Digelar di Kota Pasuruan, Gus Ipul: Bangkitkan Geliat UMKM

Kedua, menimbulkan rasa takut dan gelisah dalam hati. Maka jika seseorang yang berakal sehat mau berfikir dan menimbang antara enaknya maksiat dan rasa takut serta gelisah setelah melakukan maksiat itu, maka dia akan tahu betapa ruginya, karena dia telah menjual kenikmatan atau kenyamanan taat, manisnya ibadah dengan kegelisahan dan takut akibat kemaksiatan.

Ketiga, memalingkan hati dari kesehatanya dan istikamahnya hati dalam sakitnya. Maka hati akan selalu sakit, tidak bisa mengambil manfaat dengan makanan hati (nasihat dan petuah agama) yang menjadi sumber kehidupanya, karena dosa itu penyakitnya hati dan tidak ada obatnya kecuali meninggalkanya.

Para ahli tasawuf sepakat bahwa hati ini tidak bisa mencapai keinginanya sehingga sampai kepada Tuhanya (ma’rifat kepadanya) dan tidak akan sampai kepada-Nya sehingga hati ini bersih dan sehat, dan tidak bisa sehat hingga hilang semua penyakitnya, dan tidak akan bisa hilang semua penyakitnya kecuali dengan melawan hawa nafsunya. Dan jika penyakit ini dibiarkan akan bisa membunuh hati ini sehingga akan selalu gelisah, susah dan tiada ketenangan .

Pengaruh keempat dari perbuatan maksiat adalah membutakan hati. Semakin besar dosa dan maksiat maka semakin redup cahaya hati, dan jika sampai mati dalam keadaan maksiat dan dosa maka kegelapan itu akan terbawa sampai ke kubur. Nabi Muhammad SAW bersabda (yang artinya):

“Sesungguhnya kuburan-kuburan itu dipenuhi kegelapan bagi penghuninya dan sesungguhnya Allah meneranginya dengan doaku kepada mereka (HR Muslim). Demikianlah. Semoga di bulan suci Ramadan ini, Allah SWT menyelamatkan kita semua dari godaan berbagai macam kemaksiatan, sehingga pascabulan Ramadan nanti hati kita menjadi semakin jernih dan mampu menerima cahaya hidayah sepanjang hidup kita. Aamiin, yaa rabbal ‘alamiin."

Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews TribunJatim.com

Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved