Puan Minta Kader PDI-P Pilih Pemimpin Bukan Karena Popularitas, Begini Tanggapan Pakar Komunikasi

Puan meminta seluruh kader PDI-P memilih pemimpin yang berkualitas, bukan hanya mementingkan popularitas atau elektabilitas saja.

Penulis: And | Editor: MGWR
DOK. Humas DPR RI
Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI) Puan Maharani 

TRIBUNJATIM.COM - Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Puan Maharani meminta seluruh kader untuk lebih selektif dalam memilih pemimpin dan tidak terpengaruh hanya lewat hasil survei.

Hal ini disetujui oleh pakar komunikasi politik dari Universitas Pelita Harapan (UPH) Emrus Sihombing. Ia mengatakan survei dalam pemilihan pemimpin menggunakan pendekatan kuantitatif yang hanya menangkap fenomena di permukaan saja.

“Pendekatan kuantitatif yang dipakai untuk mencari pemimpin hanya mencari pemimpin yang popular dan pemimpin yang pencitraan saja. Karena dari sudut pandang komunikasi, di situ terjadi manipulasi persepsi publik,” jelas Emrus dalam keterangan tertulis yang diterima oleh Tribunjatim.com, Kamis, (28/4/2022).

Baca juga: Resmikan The New Gunung Kemukus di Sragen, Puan Maharani Minta Semua Pihak Jaga Kebersihan

Emrus bahkan menegaskan bahwa perbincangan calon pemimpin di media sosial (medsos) termasuk dalam manipulasi persepsi publik. Sosok yang diperbincangkan di medsos seolah-olah tokoh yang baik, berhasil, merakyat, maupun popular.

“Justru yang harus dicari adalah pemimpin yang berkualitas, yang bisa dilihat dari kinerjanya. Pemimpin yang berkualitas itu dapat menyejahterakan rakyatnya di segala bidang,” ungkap Emrus.

Menurutnya, kualitas seorang pemimpin daerah dilihat dari bagus atau tidaknya pelayanan publik, tercapainya standar minimal hidup layak bagi warganya, bahkan mampu mengatasi kemacetan dan pemerataan akses pendidikan, serta aspek penegakan hukum.

“Saya sarankan untuk Lembaga survei ataupun peneliti supaya menerapkan pendekatan kualitatif dalam penelitian kepemimpinan. Kualitatif ini dampak negatifnya adalah menggiring opini publik, seolah hanya itu yang harus dipilih,” katanya.

Lebih lanjut, ia menuturkan, dalam pandangannya terdapat beberapa sosok pemimpin yang dinilai berkualitas, yakni Surya Paloh, Nasaruddin Umar, dan Puan Maharani.

Baca juga: Dihadapan Kader PDIP Solo: Puan: Kalau Ingin PDIP Kembali Menang Pada 2024, Kita Harus Solid

Berpikir strategis

Sementara itu, pakar komunikasi dan pemasaran politik dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Nyarwi Ahmad menyatakan, pernyataan dari Puan Maharani tersebut merupakan pesan terbuka untuk semua kader PDI-P, baik yang mendukung Puan ataupun tidak.

“Saya kira itu bisa menjadi pesan terbuka kepada para kader PDI-P, baik yang mendukung Ganjar ataupun yang mendukung Puan,” ujar Nyarwi.

Nyarwi juga mengungkapkan, pesan terbuka yang dimaksud adalah para kader diminta untuk tidak silau atau patah harapan ketika elektabilitas dan popularitas tokoh yang didukung masih rendah.

Baca juga: Puan Maharani Resmikan Penataan Kawasan Gunung Kemukus di Sragen

“Pesan terbukanya adalh survei yang ada jangan dijadikan sebagai kata puas atau sebaliknya. Misalnya kalau elektabilitas Puan kecil, jangan patah harapan. Masih ada peluang untuk berusaha meningkatkan dukungan pada kader PDI-P, temasuk Puan,” ujarnya.

Menurutnya, hasil survei yang ada selama ini adalah soal elektabilitas dan popularitas seorang kader. Pernyataan Puan bisa dimaknai agar para kader lebih bisa berpikir dan mengambil langkah strategis untuk meningkatkan kinerja.

“Saya kira apa yang disampaikan oleh Puan merupakan hal yang bagus, agar berpikirnya lebih strategis lagi, tidak silau pada aspek popularitas dan elektabilitas saja," ucap Nyarwi.

"Jauh di bawah itu ada banyak hal yang bisa berguna untuk pengembangan partai, memperkuat kinerja partai, atau memperluas daya jangaku partai ke masyarakat,” katanya.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved