Berita Mojokerto

Penyakit Mulut dan Kuku Mewabah di Mojokerto, Khofifah: Penanganan PMK Mirip Pengendalian Covid-19

Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa mengunjungi kelompok ternak sapi (Lembu Makmur) terkait wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK

Penulis: Mohammad Romadoni | Editor: Ndaru Wijayanto
TRIBUNJATIM.COM/Mohammad Romadoni
Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa saat mengunjungi kelompok ternak sapi Lembu Makmur di Dusun Manyarsari, Desa Gunungsari, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto, Rabu (11/5/2022) sore. 

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Mohammad Romadoni

TRIBUNJATIM.COM, MOJOKERTO - Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa mengunjungi kelompok ternak sapi (Lembu Makmur) terkait wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang menyerang hewan ternak sapi di Dusun Manyarsari, Desa Gunungsari, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto, Rabu (11/5/2022) sore.

Setidaknya, ada 75 ekor sapi di kandang komunal milik kelompok ternak Lembu Makmur yang berpotensi terjangkit wabah PMK tersebut.

Pemerintah Daerah telah berupaya menekan angka keterpaparan wabah PMK pada ternak sapi melalui penutupan kegiatan jual beli di pasar hewan, sosialisasi dan pengobatan termasuk penyemprotan desinfektan di kandang komunal milik peternak di Dawarblandong.

Gubernur Khofifah mengatakan, penanggulangan wabah PMK pada ternak sapi ini sangat mirip dengan pengendalian Virus Covid-19.

Namun penanganan wabah PMK yang menyerang ratusan sapi di Mojokerto ini dilakukan dengan karantina ternak di kandang.

"Jadi (Wabah Penyakit PMK) sangat mirip dengan proses pengendalian Covid-19, ketemu kasus isolasi kalau Covid-19 Isoman, kalau ini (Ternak Sapi) isolasi karantina berbasis kandang," jelasnya, Rabu (11/5).

Baca juga: Wabah PMK Tak Pengaruhi Penjualan Daging Sapi di Kota Blitar, Pedagang: Masih Normal dan Aman

Khofifah menegaskan hewan ternak yang terdeteksi positif terpapar penyakit PMK maka seluruhnya harus di karantina. Hewan ternak yang terkena PMK tidak boleh keluar dari daerah tersebut.

Dia juga melarang hewan ternak masuk ke daerah yang terjangkit wabah penyakit PMK.

"Hewan ternak yang positif (Penyakit PMK) tidak boleh keluar yang diluar (Daerah Lain) juga tidak boleh masuk jadi supaya tidak ada transmisi dari PMK," ungkapnya.

Menurut dia, Pemprov Jatim dan Pemerintah Daerah Kabupaten Mojokerto telah berupaya melakukan pengendalian wabah penyakit PMK secara cepat, tepat dan akurat.

Salah satu upaya yakni melakukan pengobatan terhadap ternak sapi yang terkena penyakit PMK dengan pemberian suntikan obat analgesik antipiritik (obat anti demam) antihistamin, vitamin dan antibiotik. Penyemprotan desinfektan di kandang ternak juga dilakukan secara masif.

Baca juga: Mentan Lihat Langsung Kondisi Hewan Terserang PMK di Gresik, Ada Sapi Lemas dan Keluarkan Lendir

"Proses penyemprotan desinfektan tetap kita lakukan secara masif, titik-titik pasar hewan yang sudah ditutup sementara kita pastikan bahwa itu segera disemprot desinfektan diseluruh kawasan pasa hewan. Sehingga ternak tidak terpapar saat pasar hewan sudah mulai aktif," ucap Khofifah.

Terkait ketersediaan obat, lanjut Khofifah, pihaknya memintakan agar dimaksimalkan dari Kementrian Pertanian. 

Halaman
12
Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved