Berita Madura

Kisah di Balik Makam Bujuk Kramat di Sampang, Juru Kunci Ungkap Hal yang Banyak Masyarakat Tak Tahu

Makam Bujuk (Buyut) Kramat menjadi tempat Rokat Makam yang sudah menjadi tradisi oleh warga Desa Plakaran, Kecamatan Jrengik, Kabupaten Sampang, Madur

Penulis: Hanggara Syahputra | Editor: Ndaru Wijayanto
TRIBUNJATIM.COM/Hanggara Pratama
Salah satu warga Desa Plakaran, Kecamatan Jrengik, Kabupaten Sampang, Madura saat duduk di sekitar Makam Bujuk Kramat, Kamis (2/6/2022). 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Hanggara Pratama

TRIBUNJATIM.COM, SAMPANG - Makam Bujuk (Buyut) Kramat menjadi tempat Rokat Makam yang sudah menjadi tradisi oleh warga Desa Plakaran, Kecamatan Jrengik, Kabupaten Sampang, Madura.

Rokat Makam atau warga setempat menyebutnya Rokat Bujuk Kramat dilakukan setiap tanggal satu bulan suro.

Tak hanya itu, kadangkala warga setempat juga melakukan Rokat Bujuk Kramat saat salah satu warga sedang ada hajatan.

Adapun, dalam Rokat Bujuk Makam bacaannya sama dengan ketika tahlilan, di antaranya tawassul, yasinan, tahlil, doa, dan diakhiri makan bersama di makam tersebut.

Makanan yang disuguhkan pada warga oleh penghajat adalah hasil dari bumi seperti singkong.

Baca juga: Kobaran Api Muncul dari Kolong Jembatan Ngujang 1 Tulunggagung, Juru Kunci Makam Ungkap Kecurigaan

Baca juga: Aneh, Maling di Blitar Kembalikan Motor Curian di Tengah Makam, Warga sampai Kaget Bukan Main

Serta nasi yang berbentuk gunung dan diatasnya terdapat nasi hitam, beserta lauknya seperti ayam dan ikan laut.

Juru kunci Bujuk Keramat, Weki mengatakan bahwa, makam Bujuk Kramat terdiri dari dua makam yakni, makam R. Cokronegoro dan ayahhandanya. 

Menurutnya, dalam historinya, dahulu saat penyerangan Mataram pada Madura dari Sumenep hingga Bangkalan, R. Cokronogoro yang dari Sumenep bepergian ke arah barat.

Kemudian dihabisi oleh pasukan Mataram di daerah Sampang, sehingga di makamkan di Desa Plakaran Kecamatan jrengik Kabupaten Sampang.

"Termasuk desa ini, namanya desanya desa Plakaran, itu diambil dari Pangeran Plakaran atau Cokronegoro, hanya saja masyarakat tidak banyak yang mengetahui hal itu," kata Weki, Kamis (2/6/2022).

Pria yang akrab disapa Ba Weki itu melanjutkan jika R. Cokronegoro merupakan keturunan Raja dari Sumenep.

"Cerita ini saya dapat dari embah, tapi saya tidak mengetahui detail silsilah R. Cokronegoro," timpalnya.

Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews TribunJatim.com

Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved