Berita Kediri
Komunitas di Kediri Ajak Ibu-ibu Bikin Produk Kreatif Bernilai Ekonomis dari Sampah Plastik
Sampah plastik kerap kali menjadi permasalahan lingkungan yang sulit terselesaikan. Plastik tak hanya mencemari lingkungan, namun juga berdampak pada
Penulis: Melia Luthfi Husnika | Editor: Ndaru Wijayanto
Laporan Wartawan TribunJatim.com, Luthfi Husnika
TRIBUNJATIM.COM, KEDIRI - Sampah plastik kerap kali menjadi permasalahan lingkungan yang sulit terselesaikan. Plastik tak hanya mencemari lingkungan, namun juga berdampak pada kesehatan.
Sampah ini dapat menyebabkan pencemaran tanah karena plastik sulit terurai, sehingga mengganggu resapan air. Sampah plastik juga bisa menggangu kesuburan tanah karena menghalangi sinar matahari yang masuk ke dalam tanah.
Sampah plastik yang dibakar pun apabila pembakaran tidak sempurna akan berdampak buruk pada pencemaran udara.
Hasil pembakaran itu memunculkan asap beracun yang akan mengurai di udara dan berubah menjadi dioksin, zat berbahaya jika terhirup oleh manusia. Untuk itu, pengolahan sampah plastik harus dilakukan secara tepat guna.
Berangkat dari kompleksitas permasalahan sampah plastik tersebut, komunitas Eks Pramuka Putra Putri Indonesia (EPPI) Kediri melakukan pengolahan sampah menjadi barang bernilai rupiah.
Ditemui di kediamannya, Beny Prasetyo, koordinator EPPI asal Desa Wates, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri menuturkan menuturkan, anggota komunitasnya telah lama fokus dalam hal pengolahan sampah organik dan anorganik.
"Kami sangat memahami bahaya sampah plastik yang tidak terolah dengan baik. Limbah rumah tangga juga sama bahayanya. Maka dari itu kami melakukan penyuluhan ke beberapa tempat terkait pengolahan sampah organik dan anorganik. Untuk sampah anorganik kami ajak untuk mengolah menjadi suatu karya," kata Beny Prasetyo, Kamis (6/10/2022).
Untuk sampah plastik yang diolah, lanjut Beny, pihaknya fokus mengolah sampah dari bekas kemasan makanan maupun minuman. Bungkus kopi, jajanan maupun makanan ia kumpulkan dari kafe ke kafe.
Beny dan timnya sengaja mendatangi tempat-tempat penjual makanan dan minuman untuk mengambil bekas bungkus yang telah dibuang. Tujuannya supaya sampah plastik yang didominasi dari kemasan produk ini bisa berkurang.
"Kami mendatangi kafe dan tempat-tempat yang menjual makanan minuman kemasan. Bahan kami kumpulkan dari sana. Jadi sebelum bungkus dibuang, sudah kami kumpulkan terlebih dahulu. Kalau begini tingkat pembuangan sampah jadi berkurang," tuturnya.
Beny bersama tim mengumpulkan bahan-bahan setiap satu minggu sekali yang mencapai satu karung lebih. Selain itu, kadang kala diambil setiap dua sampai tiga hari sekali.
"Ada juga pemilik kafe yang berikan jadwal tertentu dan memberikan kabar kalau sudah banyak disuruh datang," ungkap Beny.
Dari sampah bekas kemasan tersebut, Beny dan tim mengajari ibu-ibu setempat untuk membuat kerajinan berupa tas. Plastik-plastik kemasan yang didapat akan dicuci bersih untuk kemudian dilakukan pemotongan.
"Setelah dipotong, akan dirangkai sesuai ukuran yang mau dibuat. Plastik-plastik itu kemudian ada yang dianyam ada yang ditempel sehingga membentuk tas. Meski handmade dari bahan bekas, tas plastik ini kokoh dan pantas dipakai pergi," ujarnya.