Tragedi Arema vs Persebaya
Wagir Jadi Kecamatan Tertinggi yang Punya Korban Anak dan Perempuan di Tragedi Kanjuruhan Malang
Berdasarkan data Dinkes Kabupaten Malang, Kecamattan Wagir menjadi kecamatan yang memiliki korban anak dan perempuan tertinggi tragedi Kanjuruhan.
Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: Arie Noer Rachmawati
Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Sylvianita Widyawati
TRIBUNJATIM.COM - Drg Arbani Mukti Wibowo, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Malang menyatakan membutuhkan support dari psikolog untuk keluarga korban Tragedi Kanjuruhan Malang.
Sebab, di dinasnya tidak ada expert-nya.
Sehingga perlu menggandeng pihak lain.
Dikatakan, awalnya pihaknya ingin membantu suporter anak dan perempuan.
Namun kesulitan data pasti karena pada tiket nonton bola tidak ada data khusus anak-anak dan wanita seperti di manivest.
Namun dari data di Dinkes Kabupaten Malang, Kecamatan Wagir merupakan kecamatan tertinggi yang memiliki korban anak dan perempuan.
Baca juga: Dukung Pemulihan, Tim Trauma Support Mobility Siap Bantu Keluarga Korban Tragedi Kanjuruhan
Baca juga: Masih Belum Kuat, Curhat Pilu Ibu Najwa Korban Tragedi Kanjuruhan Malang, Menyesal Izinkan Anak
Ada 12 orang.
Lima orang meninggal dunia, dua dirawat di RS dan sisanya mengalami luka.
Selain Wagir, juga ada korban anak dan perempuan di kecamatan lain di Kabupaten Malang.
Sementara itu, Pemerintah Kota Malang membuka layanan trauma healing bagi korban Tragedi Kanjuruhan Malang yang masih mengalami trauma.
Pada layanan ini, petugas nantinya akan mendampingi para korban yang masih trauma atas insiden yang terjadi di Stadion Kanjuruhan.
Untuk memperbaiki trauma dari korban ini, Dinas Kesehatan Kota Malang bekerjasama dengan Ikatan Psikologi Klinis Indonesia (IPK) Jawa Timur.
Baca juga: Ucapan Duka Raja Charles III atas Tragedi Maut Kanjuruhan, Ratusan Nyawa Hilang, Suami Camilla Sedih
"Kami sudah ada tim trauma healing yang dulu ada sejak dari Covid-19. Mereka nanti yang akan bekerja," ucap Wali Kota Malang, Sutiaji.
Sutiaji mengatakan, perlu sebuah tindakan, untuk memperbaiki pikiran dan kondisi para korban maupun keluarga pasca insiden Tragedi Kanjuruhan Malang.