Tragedi Arema vs Persebaya

Alasan Tim Gabungan Aremania Bersama Federasi KontraS Tolak Hasil Autopsi Korban Tragedi Kanjuruhan

Tim Gabungan Aremania (TGA) bersama dengan Federasi KontraS, resmi menolak hasil autopsi korban Tragedi Kanjuruhan.

Penulis: Kukuh Kurniawan | Editor: Ndaru Wijayanto
istimewa
Tangkapan layar keterangan rilis yang disampaikan di video dalam akun Instagram resmi Tim Gabungan Aremania (TGA) terkait penolakan hasil autopsi korban Tragedi Kanjuruhan. 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Kukuh Kurniawan

TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Ketua Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia (PDFI) Cabang Jawa Timur dr Nabil Bahasuan SpFM telah menyampaikan hasil autopsi korban Tragedi Kanjuruhan, pada Rabu (30/11/2022).

Kedua korban tersebut yaitu Natasya Debi Ramadhani (16) dan Nayla Debi Anggraeni (13).

Dimana secara umum, Nabil memastikan bahwa kematian kedua korban tragedi Kanjuruhan tersebut bukan karena gas air mata, melainkan karena adanya kekerasan benda tumpul.

Selain itu, juga tidak ditemukan residu gas air mata di paru-paru kedua korban tersebut.

Melihat fakta tersebut, Tim Gabungan Aremania (TGA) bersama dengan Federasi KontraS, resmi menolak hasil autopsi tersebut.

Anggota Tim Hukum Gabungan Aremania, Anjar Nawan Yusky mengungkapkan, ada beberapa catatan terkait hasil autopsi itu.

Baca juga: Terungkap Hasil Autopsi 2 Jenazah Aremania Korban Tragedi Kanjuruhan DSebut Dokter Sebut Kekerasan

Yaitu yang pertama, sikap penyidik Polda Jatim yang lamban dan cenderung tidak serius dalam menangani perkara Tragedi Kanjuruhan.

Dimana seharusnya, autopsi bisa dilakukan sejak awal pasca peristiwa Tragedi Kanjuruhan itu serta tidak perlu menunggu persetujuan atau permintaan dari pihak keluarga korban.

"Hal itu sesuai dengan apa yang ada dalam Pasal 133 sampai Pasal 135 KUHAP. Tetapi apa yang terjadi, penegak hukum dalam hal ini penyidik tidak ada inisiatif untuk melakukan autopsi,"

"Dan perlu dicatat, autopsi yang hasilnya diumumkan tersebut merupakan autopsi atas dasar permintaan Devi Athok dan itu pun melalui proses yang berbelit dan panjang. Tentu, proses yang lama ini dapat mempengaruhi, karena semakin lama kondisi jenazah dimakamkan akan mempengaruhi hasil autopsinya seperti yang telah disampaikan yaitu fase pembusukan lanjut," ujarnya dalam keterangan rilis yang disampaikan di video dalam akun Instagram resmi Tim Gabungan Aremania (TGA) @usuthinggatuntas, Kamis (1/12/2022).

Lalu yang kedua, pihaknya memiliki  jurnal ilmiah yang dapat membuktikan serta menjelaskan bahaya gas air mata.

"Bahkan ada jurnal ilmiah yang meneliti, bahwa gas air mata mengakibatkan suatu hal yang fatal yaitu kematian. Dan kalau saat ini penegakan hukum tidak mampu mengungkapkan bahwa gas air mata itu berbahaya, maka kami punya pembanding dan akan kami bagikan di akun media sosial TGA," terangnya.

Lalu yang berikutnya, hasil autopsi yang telah diumumkan itu tidak dapat menjadi kesimpulan untuk keseluruhan korban lainnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved