Sulawesi Utara
Selamat Datang di Superhub PDIP Jatim

Ramadan 2023

Hikmah Ramadan 2023: Puasa yang Membahagiakan Pasca Pandemi Covid-19

Hikmah Ramadan 2023: Puasa yang membahagiakan untuk umat Islam pasca pandemi Covid-19. Syiar Islam tampak lebih menggema.

Editor: Dwi Prastika
Istimewa/TribunJatim.com
Ketua Komisi Pendidikan Majelis Ulama Indonesia Provinsi Jawa Timur dan Direktur LPPM Universitas Negeri Surabaya, Prof Dr H Muhammad Turhan Yani, 2023. 

Oleh: Prof Dr H Muhammad Turhan Yani

(Ketua Komisi Pendidikan Majelis Ulama Indonesia Provinsi Jawa Timur dan Direktur LPPM Universitas Negeri Surabaya)

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Bagaimana masyarakat tidak bahagia? Mengingat semarak Ramadan saat masa pandemi Covid-19 tidak tampak syiar Islam, bahkan suasana kebatinan umat Islam yang berpuasa ikut merasakan prihatin, kini semarak Ramadan 1444 H pasca pandemi, syiar Islam tampak lebih menggema dan membahagiakan bagi semuanya.

Walaupun sesungguhnya puasa adalah urusan personal antara manusia dan Allah, akan tetapi secara sosiologis suasana Ramadan memberikan pengaruh besar terhadap aspek sosial-emosional orang-orang yang berpuasa karena merasakan kebahagiaan.

Di antara kebahagiaan yang dirasakan adalah adanya salat tarawih berjamaah di masjid atau musala, tadarus Alquran bersama, iktikaf bersama, santunan bersama anak-anak yatim, kehidupan sosial yang damai, tenang, gembira, dan lain sebagainya.

Di sisi lain secara sosiokultural, semarak Ramadan oleh masyarakat Muslim Indonesia, di dalamnya juga diadakan tradisi buka bersama, baik di instansi, kampus, sekolah, organisasi, perkumpulan, maupun komunitas lainnya.

Secara psikologi sosial, suasana seperti ini memberikan perasaan bahagia tersendiri dalam pelaksanaan ibadah puasa, dan secara ekonomi juga memberikan dampak positif bagi tumbuh kembang pelaku usaha, baik bagi kalangan Muslim maupun non-Muslim, karena terkait kebutuhan primer yang dibutuhkan saat Ramadan tidak hanya berkaitan dengan orang Muslim saja, akan tetapi saudara-saudara non-Muslim juga ikut merasakan kebahagiaan melalui usaha-usaha yang dimiliki, baik dalam memenuhi kebutuhan sandang, pangan, maupun lainnya, khususnya saat menjelang Hari Raya Idul Fitri.

Kini seiring situasi semakin membaik dan kasus penularan virus Covid-19 telah menurun drastis, kegembiraan dan kebahagian masyarakat Muslim dan bangsa Indonesia pada umumnya dalam menyambut bulan suci Ramadan 1444 H kembali seperti sebelum pandemi.

Bahkan tampak luar biasa gembira dan bahagia, apalagi secara agama telah disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW dalam sabdanya yang berbunyi “Man Fariha bidukhuuli Ramadhan Harramallahu Jasadahu Alanniron.” Artinya, barang siapa yang bahagia menyambut datangnya bulan suci Ramadan maka diharamkan baginya masuk ke dalam api neraka. Motivasi spiritual ini memberikan kegembiraan, kebahagian, kenyamanan, dan kekhusyuan tersendiri dalam beribadah.

Secara kesehatan, di tengah semarak bulan suci Ramadan 1444 H, menjaga protokol kesehatan juga tetap penting dilakukan, khususnya saat berada di tempat keramaian, walaupun kasus penularan Covid-19 mengalami penurunan drastis.

Upaya proteksi kesehatan diri melalui vaksin juga menjadi hal penting karena agama Islam mengajarkan kepada pemeluknya untuk menjaga diri dari berbagai malapetaka, yaitu menjaga dan melindungi keselamatan jiwa (hifdzun nafs) dari berbagai kemungkinan madlarat, termasuk persyaratan vaksin saat mudik Lebaran sesungguhnya pemerintah sedang menjalankan apa yang diperintahkan dalam agama, agar masyarakat memiliki imunitas yang lebih kuat, upaya memberlakukan protokol kesehatan perlu mendapat dukungan dari semua pihak.

Dalam perspektif agama, bagaimanakah menyikapi sebagian masyarakat yang mengabaikan aturan atau kebijakan terkait syarat vaksin dan protokol kesehatan yang tidak dipatuhi? Persoalan ini dapat dilihat dari dalil naqli yang bersumber dari Alquran surat al-Nisa ayat 59, yang artinya ”Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasulullah, dan Ulil Amri (pemerintah atau pemimpin)." Upaya ini sesungguhnya dalam rangka melindungi masyarakat dari ancaman penularan Covid-19, hal tersebut senapas dengan salah satu tujuan agama (maqasidus syariah) yaitu melindungi jiwa, dan juga berbanding lurus dengan perintah ketaatan terhadap aturan Allah dan rasul-Nya.

Baca juga: Makam Mbah Buyut Sidowareg Gresik Ramai Jelang Ramadan, Ada Ziarah hingga Doa Bersama

Puasa 1444 H pasca pandemi ini menjadi anugerah yang luar biasa bagi umat manusia, khususunya bangsa Indonesia setelah sekian lama diuji oleh Allah dalam suasana keprihatinan bersama pada masa pandemi.

Kita wajib bersyukur atas nikmat Allah dengan situasi yang semakin membaik ini. Rasa syukur sangat terasa manakala kita mengingat saat masa pandemi yang begitu terbatas bagi umat manusia dalam melakukan berbagai aktivitas, seperti aktivitas sosial, aktivitas ibadah, dan aktivitas lainnya.

Secara hakiki, puasa yang membahagiakan tidak hanya dilihat dari sisi fisik-lahir, seperti keleluasaan dalam beraktivitas karena pasca pandemi, akan tetapi juga dilihat dari sejauh mana puasa yang dilakukan mampu membentuk jiwa empati dan simpati bagi yang berpuasa, sehingga menumbuhkan kesadaran beragama tingkat tinggi. Kesadaran inilah yang akan memberikan dampak positif bagi tumbuhnya persaudaraan, kasih sayang, dan perhatian kepada sesama, khususnya bagi kaum duafa (orang-orang lemah).

Halaman
12
Sumber: Tribun Jatim
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved