Berita Trenggalek

Peringatkan Bahaya Antraks, Disnak Trenggalek Larang Beli Hewan dari Daerah Endemis

Peringatkan bahaya antraks yang bisa menular ke manusia, Disnak Trenggalek melarang beli hewan dari daerah endemis walau harganya murah.

TribunJatim.com/Sofyan Arif
Dinas Peternakan Trenggalek mengecek kesehatan hewan ternak di Pasar Hewan Trenggalek, Jumat (7/7/2023). 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Sofyan Arif Candra

TRIBUNJATIM.COM, TRENGGALEK - Dinas Peternakan (Disnak) Kabupaten Trenggalek mengantisipasi kasus antraks yang saat ini tengah mewabah di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Kendati belum ditemukan adanya kasus antraks di Bumi Menak Sopal, Disnak gencar melakukan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) dengan pedagang dan peternak terkait bahaya antraks.

Salah satu yang ditekankan oleh Disnak adalah tidak membeli ternak dari daerah endemis antraks, kendati harga ternak dijual lebih murah.

"Gejala paling umum hewan terjangkit antraks adalah demam tinggi sampai 42 derajat celsius, lalu gelisah saat mengunyah, hingga menanduk benda keras di sekitarnya," ucap Kadisnak Trenggalek, Joko Susanto, Jumat (7/7/2023).

Selain itu, pada kulit hewan akan muncul keropeng hingga kesulitan bernapas, bahkan pada puncaknya, darah keluar melalui dubur, mulut, lubang hidung, bahkan urine bercampur darah.

"Kalau peternak atau pedagang menemukan hewan ternak dengan gejala tersebut, harap melapor ke Dinas Peternakan," lanjutnya.

Joko Susanto menyebutkan, kasus antraks di Trenggalek terakhir ditemukan pada tahun 2017.

Hewan ternak tersebut dibeli peternak dari luar Trenggalek, yang saat itu mewabah antraks.

Baca juga: Antisipasi Penyakit Antraks, Perketat Pengawasan Perdagangan Sapi di Pasar Hewan Dimoro Kota Blitar

"Penularan antraks ini bisa dari rumput yang mengandung spora antraks yang termakan ternak, ataupun air minum yang airnya tercemar antraks," lanjut Joko Susanto.

Jika hewan ternak terlanjur tertular antraks, menurut Joko Susanto, sangat sulit disembuhkan.

Namun begitu, ada vaksin antraks yang bisa meminimalisasi penularan antraks jika ditemukan kasus di satu daerah.

"Dulu pas ada kejadian di tahun 2017 radius kilometer sekian sudah kita lakukan vaksinasi antraks selama 2 tahun berturut-turut," ucap Joko Susanto.

Lebih lanjut, Joko Susanto mengingatkan, bakteri antraks bisa menular ke manusia atau zoonosis.

Baca juga: Cerita Perangkat Desa di Tulungagung Terserang Antraks, Tertular Saat Autopsi Bangkai Sapi

Untuk itu, ia menegaskan agar tidak memakan daging atau tubuh bagian manapun dari hewan yang terserang antraks.

"Belilah daging dari pedagang yang memotong daging dari RPH (rumah potong hewan) karena sudah diawasi kesehatannya," ucap Joko Susanto.

"Jika ada ternak sakit dengan gejala antraks, laporkan ke Dinas Peternakan, karena sapi antraks tidak boleh disembelih ataupun dikonsumsi dagingnya," pungkasnya.

Sumber: Tribun Jatim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved