Sulawesi Utara
Selamat Datang di Superhub PDIP Jatim

Berita Terpopuler

JATIM TERPOPULER: Curhat Ortu Siswa Angsur Seragam Rp 2,3 Juta - Gadis Jualan Peyek Sambil Merangkak

4 berita Jatim terpopuler, Jumat 21 Juli 2023: curhat siswa SMAN mau angsur seragam Rp 2,3 Juta hingga gadis jualan peyek sambil merangkak di Surabaya

Editor: Elma Gloria Stevani
TribunJatim.com dan Tiktok @kisahharuhariini
4 berita Jatim terpopuler, Jumat 21 Juli 2023 di TribunJatim.com. 

Salah satu orang tua siswa, Emon (nama samaran), mengatakan, uang seragam wajib lunas di hari Rabu (12/7/2023) kemarin. 

Curhat Emon orang tua siswa yang mengeluh karena mau angsur set paket seragam itu terungkap.

Jika ada orang tua siswa tidak bisa melunasi, wajib mengajukan surat keterangan tidak mampu (SKTM) dari desa. 

“Maunya bisa diangsur, tapi ini wajib lunas hari Rabu minggu lalu. Kalau tidak, pilihannya bawa SKTM,” ucap Emon, saat ditemui, Kamis (20/7/2023). 

Emon pun mengakui harga kain yang dibagikan lebih mahal dibanding harga seragam jadi di pasaran.

Bahkan ongkos jahit satu setel seragam pun harganya hampir sama dengan beli seragam jadi.

Emon mencontohkan, ongkos jahit seragam putih abu-abu bisa mencapai Rp 150.000.

Baca juga: SDN di Ponorogo Hanya Dapat 1 Siswa Baru di PPDB 2023, Ira Tetap Bersemangat Belajar di Sekolah

Padahal harga itu jika ditambah Rp 20.000 saja sudah dapat seragam jadi, tanpa perlu menjahit. 

“Kalau jas almamater, biayanya paling tidak Rp 200.000. Pramuka, putih abu-abu Rp 150.000,” ungkapnya.

Sehingga, lanjut Emon, harga total untuk seragam putih abu-abu saja mencapai Rp 500.000, dengan rincian Rp 359.400 harga kain dan Rp 150.000 ongkos jahit.

Emon pun mempertanyakan kelebihan harga yang sangat mencolok ini. 

Foto hanya ilustrasi. Pegawai Toko Lancar Jaya melayani orang tua siswa yang mencari seragam baru
Foto hanya ilustrasi. Pegawai Toko Lancar Jaya melayani orang tua siswa yang mencari seragam baru (TRIBUNJATIM.COM/David Yohanes)

Tribun Jatim Network sudah mendatangi SMAN 1 Kedungwaru untuk meminta penjelasan. 

Namun tidak ada seorang pun yang ada di ruang resepsionis.

Kepala SMAN 1 Kedungwaru, Nuruddin tidak merespons saat dihubungi lewat telepon maupun WhatsApp (WA).

Demikian juga Humas SMAN 1 Kedungwaru, Agung Cahyadi.

Memasuki tahun ajaran baru memang banyak cerita berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar di sekolah.

Beberapa masalah yang terjadi adalah minimnya siswa di beberapa Sekolah Dasar yang ternyata tak kebagian sistem zonasi.

Misalnya, minimnya siswa itu terjadi di SDN 372 Pulau Bawean Gresik. Setiap tahun hanya memiliki 1 sampai dua murid baru saja.

Desa Pekalongan lokasinya jauh. Dari Kecamatan Tambak kurang lebih 5 kilometer. Medan menuju SDN 372 area perbukitan

Meski tahun ajaran kali ini mendapat dua murid saja, ternyata masih lebih baik. Dibanding PPDB tahun kemarin hanya menerima satu murid saja.

Letak geografis SDN 372 Gresik berada di atas Pegunungan Fukal, juga jauh dari pemukiman. Apalagi area sekolah ini hanya ditinggali 10 rumah warga. Jumlah ini tentu sangat sedikit sekali.

Plt Kepala Sekolah UPT SDN 372 Gresik Zaid menuturkan, total jumlah 9 murid dari kelas I sampai kelas VI.

Baca juga: Nasib Miris SD Negeri di Ponorogo, Sudah Iming-imingi Seragam Gratis Tetap Tak Dapat Siswa Baru

"Total ada sembilan murid. Kelas I hanya ada dua murid. Kelas II hanya tiga murid, kelas III sampai kelas IV masing-masing kelas satu murid saja," ucap Zaid, Kamis (20/7/2023).

Jumlah gurunya hanya ada delapan. Kepala sekolah, satu guru PNS, satu guru honorer, empat guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), dan satu staf pegawai tidak tetap (PTT).

Bisa dibilang, kata Zaid, satu guru bisa mengajar satu siswa di sekolah tersebut.

Dikatakannya, rata-rata jumlah murid baru hanya ada satu sampai tiga saja.

Lebih jauh memang ada wacana sekolah ini akan dilakukan Regrouping SD atau usaha penyatuan dua unit SD atau lebih menjadi satu kelembagaan SD. 

Simak berita selengkapnya

3. Penjelasan Dindik Tuban soal 3 SDN Tak Dapat Murid pada 2023, Cara ini Bikin Guru SDN Bisa Tersenyum

Ruang kelas SDN Kedungrejo 2 Kerek yang kosong karena tidak dapat siswa pada tahun ajaran baru 2023
Ruang kelas SDN Kedungrejo 2 Kerek yang kosong karena tidak dapat siswa pada tahun ajaran baru 2023 (TRIBUNJATIM.COM/M SUDARSONO)

Dinas Pendidikan Kabupaten Tuban, buka suara terkait tiga sekolah dasar (SD) yang tidak mendapat murid saat tahun ajaran baru 2023.

Tiga sekolah tersebut yaitu SDN Kedungrejo 2 Kerek, SDN Dasin 1 Tambakboyo dan SDN Banjar Widang.

Kepala Dinas Pendidikan Tuban, Abdul Rahmat, mengatakan data hasil penerimaan peserta didik baru (PPDB) online beberapa waktu yang lalu, memang ada tiga sekolah belum dapat murid.

"Saat PPDB online memang belum dapat murid," ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis (20/7/2023).

Ia menjelaskan, namun setelah itu diberikan kesempatan untuk penerimaan secara offline, akhirnya tiga sekolah mendapat murid.

Sekarang semua SD sudah mendapatkan siswa, jadi tidak ada sekolah di Tuban yang tidak dapat murid.

"Semua SD sudah dapat murid, awalnya saat online tidak dapat lalu dibuka secara offline akhirnya dapat siswa," pungkasnya.

Baca juga: Dalih Dinas Pendidikan Tuban Soal Tiga SD yang Tidak Dapat Murid Saat Tahun Ajaran Baru

Sebelumnya diberitakan, tahun ajaran baru bagi sekolah dasar di Tuban, tampaknya tidak berjalan mulus.

Beberapa sekolah dikabarkan tidak mendapatkan murid atau peserta didik baru pada tahun ajaran 2023.

Seperti Sekolah Dasar Negeri (SDN) 2 Kedungrejo, Desa Kedungrejo, Kecamatan Kerek.

"Tahun ini kita tidak dapat siswa atau murid baru," kata Guru Kelas IV SDN 2 Kedungrejo, Dina Endrian kepada wartawan, Rabu (19/7/2023).

Ia menjelaskan, tidak adanya siswa baru yang mendaftar, membuat kondisi ruang kelas satu tampak kosong dan tidak terpakai.

Hanya terlihat kursi dan meja guru, sementara untuk kursi siswa ditempatkan di kelas lain.

Baca juga: Diantar Kakek, Ira Semangat Belajar Meski Sendirian di SDN Ponorogo, Ruang SD di Tuban Malah Kosong

Kesulitan mendapatkan murid SD disebut sudah berlangsung sejak 4 tahun yang lalu.

"Selain karena sarana dan prasarana yang kurang memadai, tidak adanya taman kanak-kanak di juga menjadi salah satu penyebab," ungkapnya.

Masih kata Dina, kondisi ini membuat para orang tua lebih memilih mendaftarkan anaknya di sekolah lain.

Agar mendapatkan murid pada tahun ajaran, pihak sekolah berencana akan berkolaborasi dengan desa untuk mengadakan TK dan Paud.

Para guru setempat berharap, agar Pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap infrastruktur serta sarana prasarana belajar di sekolah.

"Harapannya sarana khususnya lantai bisa lebih diperhatikan lagi," pungkasnya.

Simak berita selengkapnya

4. Nasib Gadis 17 Tahun di Surabaya Jualan Rempeyek sambil Merangkak, Ditolak SMA Negeri karena KTP

 

Tangkapan layar video yang menggambarkan anak di Surabaya berjualan rempeyek sambil merangkak viral di media sosial.
Tangkapan layar video yang menggambarkan anak di Surabaya berjualan rempeyek sambil merangkak viral di media sosial. (Tiktok @kisahharuhariini)

 

Inilah nasib gadis 17 tahun di Surabaya.

Gadis itu jualan rempeyek sambil merangkak.

Dia pernah ditolak masuk SMA negeri karena persoalan KTP.

Sebuah video yang menggambarkan anak berjualan rempeyek sambil merangkak viral di media sosial.

Belakangan diketahui bahwa warga dalam video tersebut merupakan warga Surabaya.

Anak tersebut diketahui bernama Cyntya Afrianti Amala. Perempuan berusia 17 tahun diketahui sebagai warga Kendangsari Gang 7 Sekolahan, Surabaya.

Dalam video yang beredar, Cyntya terlihat berjalan merangkak di pinggir jalan raya sembari berjualan peyek yang dikalungkan di lehernya.

Baca juga: Kisah Perjuangan 2 Pelajar Jatim Terpilih Jadi Paskibraka Nasional di Istana Negara

"Sedih banget liat anak itu jual peyek, nyeret badannya, kakinya sampe lecet berdarah," tulis narasi dalam video yang diunggah akun Tiktok @kisahharuhariini dikutip Tribun Jatim Network, Kamis (20/7/2023).

Mengetahui hal ini, Pemkot Surabaya memberikan perhatian serius.

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Erna Purnawati bersama Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) M Fikser mendatangi rumah keluarga Cyntya, Rabu (19/7/2023) malam.

Mewakili Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, mereka menyerahkan sejumlah paket bantuan. Termasuk, intervensi kepada keluarga ini.

Camat Tenggilis Mejoyo Surabaya, Wawan Windarto mengungkap, ibunda dan ayah Cyntya, Sumiyati dan Andi Siswoto belum satu tahun menjadi warga Surabaya.

Sekalipun demikian, mereka tetap mendapat intervensi bantuan dari pemkot.

Ia menjelaskan, bahwa pemkot sebelumnya telah memberikan sejumlah intervensi kepada keluarga Cyntya.

Salah satu intervensi itu berupa bantuan tebus ijazah SMP Cyntya.

"Bantuan tebus ijazah SMP Cyntya kita ajukan ke Baznas Surabaya pada November 2022. Saat kita ajukan itu, KK Cyntya masih ikut budenya di Kendangsari Surabaya," kata Wawan.

Selain pembebasan ijazah, juga intervensi pembebasan iuran BPJS Kesehatan hingga pemberian kursi roda. "Untuk bantuan kursi roda, kita ajukan lewat Baznas Surabaya pada Maret 2023 untuk suami Bu Sumiyati," katanya.

Sumiyati juga pernah ditawari Lurah Kendangsari ikut bekerja di padat karya dan modal usaha berupa rombong. "Dulu pernah ditawari, tapi ibunya (Sumiyati) tidak mau," tandasnya.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Surabaya, M Fikser menjelaskan, Pemkot Surabaya konsisten memberikan intervensi bantuan sosial kepada warganya. Dalam pemberian intervensi, ada beberapa kriteria warga yang mendapat prioritas.

Pemkot memprioritaskan bagi warga miskin yang tercatat KTP Surabaya sebelum 2021. "Jadi yang baru menjadi warga KTP Surabaya setelah 2021 sementara tidak dibantu dulu," kata Fikser.

Hal itu dituangkan dalam surat pernyataan bersedia untuk sementara tidak menerima bantuan dari Pemkot Surabaya. Hal yang sama juga berlaku pada Cyntya Afrianti yang ternyata baru pindah KTP Surabaya pada 2022.

"Jadi kita memiliki regulasi seperti itu. Karena juga kekuatan APBD Surabaya kan terbatas, kita prioritas dulu warga miskin KTP Surabaya yang sudah lama," katanya.

Sekalipun demikian, Wali Kota tetap menginstruksikan jajarannya untuk memberikan bantuan keluarga Cyntya, warga Jalan Kendangsari Surabaya. Di antaranya, memastikan kondisi ekonomi terpenuhi.

Menurutnya, dalam regulasi pindah KK atau KTP Surabaya, pihak pengampu juga memiliki tanggung jawab memastikan kondisi sosial keluarga yang ditampungnya maupun ekonominya. "Ini tanggungjawab yang besar," katanya.

Di sisi lain, Cyntya Afrianti bercerita bahwa video yang viral di medsos dipotret sekitar Maret 2023 di kawasan RSUD dr Soetomo Surabaya. Video itu direkam oleh orang yang mengaku dari komunitas sosial.

"Video itu sudah lama," kata Cyntya saat ditemui di rumahnya.

Menurutnya, komunitas itu menawarkan untuk membantu keluarga Cyntya dengan cara memviralkan Cyntya melalui media sosial sehingga bisa mendapatkan bantuan.

"Awalnya ditawari, katanya biar banyak orang yang donasi, bantu," ujar Cyntya yang memiliki keterbatasan pada kedua kakinya ini.

Sumiyati mengakui tak mengetahui hal itu. "Diberitahu tetangga, saya dan Cyntya sampai sekarang tidak berani melihat videonya, sampai segitunya, nangis saya," katanya.

Menurutnya, pekerjaan tersebut tak lagi dilakukan. Sebaliknya, mereka telah membuat produksi pakaian.

"Memang kalau Hari Raya Idul Fitri, puasa, saya bikin peyek. Awalnya jualan di rumah sakit Nginden, karena Cyntya terapi di RSUD Dr Soetomo, akhirnya coba-coba jualan di sana. Tapi kalau sekarang, saya ikut kerja cabut benang di konveksi," katanya.

Sumiyati bersama suaminya Andi Siswoto (49) sudah 12 tahun tinggal di Surabaya.

Ia bersama suami dan kedua anaknya memilih tinggal indekos di dekat rumah saudaranya kawasan Kendangsari Surabaya.

Meski sudah lama tinggal di Kota Pahlawan, Sumiyati enggan pindah KK Surabaya. "Karena memang tidak punya rumah, di Surabaya ini saya ngekos. Makanya, saya bingung," katanya.

Ketika Cyntya ingin masuk SMA Negeri, ia dimasukkan KK kerabatnya di alamat Jalan Kendangsari Gang Lebar No 102B Surabaya pada Agustus 2022. Sementara Sumiyati bersama suami dan anak nomor tiga, administrasi kependudukannya masih berstatus warga Mojokerto.

"Karena belum satu tahun masuk KK Surabaya, Cyntya tidak diterima SMA Negeri. Akhirnya itu ditawari sama Pak Lurah sekolah PKBM paket C (Januari 2023), tapi Cyntya menolak, tidak mau bersekolah. Kalau sekarang Cyntya sudah mau sekolah kejar Paket C," katanya.

Simak berita selengkapnya

-----

Berita Jatim dan berita viral lainnya.

Informasi seputar berita menarik lainnya di Google News TribunJatim.com

Sumber: Tribun Jatim
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved