Berita Jawa Timur
Kawal Relokasi Pedagang di Sidoarjo, 6 Anggota Ormas Mengaku Dikeroyok, Kini Buat Laporan Polisi
Enam orang anggota Ormas Madura Asli (Madas) menjadi korban represi sejumlah oknum anggota Satpol PP, saat mendampingi para PKL yang sedang direlokasi
Penulis: Luhur Pambudi | Editor: Taufiqur Rohman
Laporan Wartawan TribunJatim.com, Luhur Pambudi
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Enam orang anggota Ormas Madura Asli (Madas) mengaku menjadi korban represi sejumlah oknum anggota Satpol PP, saat mendampingi para PKL yang sedang direlokasi, di ruko Pasar Larangan, Jalan Sunandar Priyo Sudarmo, Larangan, Kabupaten Sidoarjo, Senin (31/7/2023) pagi.
Para korban represi itu, bernama Ismail Marzuki (35), Abdul Latif (50), Hadi Rasyidin (53), Edi Nugroho (33), Jamil (30), dan Nawari (40).
Dua orang diantaranya, Marzuki dan Abdul Latif mengalami luka yang terbilang parah hingga mengeluarkan darah, akibat luka sobek pada bagian sisi kanan kening kepala.
Sedangkan, empat orang lainnya; Hari, Edi, Jamil, dan Nawari, mengalami luka memar pada kedua lengan, bagian dada dan pakaian kaus yang dikenakan mereka robek-robek.
Kuasa hukum Ormas Madas, Taufik mengatakan, enam orang anggota Ormas Madas itu mengalami luka diakibatkan kekerasan yang diduga kuat dilakukan oleh oknum anggota Satpol PP.
Kronologinya, bermula saat massa Ormas Madas yang berjumlah ratusan orang tersebut, memberikan pendampingan hukum dan pengawalan massa terhadap para PKL ruko pasar tersebut, ditengah proses relokasi pedagang.
Di tengah proses relokasi tersebut, terjadilah aksi saling dorong diantara kedua belah pihak yakni antara anggota Satpol PP dan massa Ormas Madas.
Tak dinyana-nyana, eskalasi aksi saling dorong tersebut berbuah menjadi aksi pengeroyokan yang diduga dilakukan oleh oknum anggota Satpol PP, terhadap beberapa orang peserta massa aksi Ormas Madas.
"Teman-teman DPC Sidoarjo, ada tindakan diskriminasi yang diduga dilakukan pemerintah kabupaten Sidoarjo. Dimana ada PKL yang dilakukan relokasi tapi gak maksimal."
"Sehingga kawan Madas iki melakukan pendampingan untuk memperjuangkan hak (para PKL)," ujarnya saat ditemui awak media di Mapolda Jatim.
Mewakili para PKL dan juga pihak korban kekerasan enam orang anggota Madas, Taufik menyayangkan adanya aksi represi yang terjadi ditengah proses relokasi tersebut.
Pihak Ormas Madas dan para PKL masih memiliki keinginan untuk menjalin komunikasi secara baik untuk mendukung kebijakan Pemkab Sidoarjo dalam melakukan penataan kota atau wilayah; salah satunya sektor perdagangan.
"Kawan-kawan ini siap untuk direlokasi yang baik, tapi jangan ada tindakan yang melakukan seperti ini, ada pengeroyokan dan lainnya."
"Dengan represif itu yang kami tidak suka kami ingin bergandengan tangan dengan pemerintah, tetapi, ayo diskusi, bukan cara-cara premanisme," katanya.
Madura Asli (Madas)
Satpol PP
PKL
ruko Pasar Larangan
Sidoarjo
Mapolda Jatim
Tribun Jatim
TribunJatim.com
Ormas
Realisasi investasi di Jawa Timur Semakin Melejit pada tahun 2023, Gubernur Khofifah : Pertama Kali |
![]() |
---|
RSUD Dr. Soetomo Terakreditasi Internasional dari JCI, Gubernur Khofifah Optimis Jadi Role Model |
![]() |
---|
Gubernur Khofifah Raih Gelar Doktor Honoris Causa Bidang Ilmu Ekonomi dari FEB-UNAIR |
![]() |
---|
Hari Jadi Jawa Timur ke-78, Jadi Momentum Jatim Bangkit Terus Melaju |
![]() |
---|
Jelang Hari Jadi Provinsi Jawa Timur ke-78, Gubernur Khofifah Ziarah ke Gubernur Soerjo |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.