Berita Jatim
PLN Kolaborasi Mikrohidro Terangi Pemukiman Lereng Semeru
Tenaga Mikrohidro Sungai Potensial Penuhi Pasokan Listrik Warga di Sepanjang Lereng Semeru
Penulis: Tony Hermawan | Editor: Samsul Arifin
TRIBUNJATIM.COM, LUMAJANG - Sungai-sungai terhampar di kaki Gunung Semeru. Mengalirkan air menuju pemukiman warga di lereng-lereng. Satu sungai merambat menuju pemukiman warga Dusun Kajar Kuning, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang.
Sungai itu disebut warga dusun sebagai Besuk Semut. Besuk Semut menjadi objek vital bagi kehidupan warga setempat. Bukan hanya pemenuhan akan kebutuhan air, melainkan juga listrik.
Selama 10 tahun terakhir desa ini selain teraliri listrik dari pasokan PLN, juga kebutuhan listriknya dipasok dari arus sungai Besuk Semut. Daya lisrik dari sungai itu diungkit melalui sistem pembangkit yang bernama Mikrohidro. Dalam banyak referensi ilmiah, sistem ini disebut pula dengan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH).
Awal Diterapkannya Mikrohidro di Dusun Kajar Kuning
Sebelum tahun 1992 rumah-rumah di lembah Gunung Semeru Lumajang bila malam pasti gelap gulita. Saat itu PLN memang belum masuk. Beberapa warga kemudian berinisiatif membuat kincir air guna mendapatkan pasokan listrik.
Baca juga: Laksanakan Program Srikandi Movement, PLN UIP JBTB Optimalkan Peran KSH dalam Penurunan Stunting
Banyak warga berasumsi semakin besar ukuran kincir air yang dibuat, maka semakin besar daya listrik yang dihasilkan. Sayangnya, tidak demikian rumusnya. Bahkan kincir air malah membuat warga merugi. Sampai-sampai tak sedikit warga yang rela menjual sawahnya demi menyokong pembuatan kincir air.
Melihat persoalan itu seorang anak muda setempat tergerak. Ia memang baru satu tahun kuliah di Teknik Mesin IKIP Malang (sekarang berganti nama menjadi Universitas Malang). Meski demikian, ambisinya untuk mengatasi kebuntuan di desanya kuat. Berbekal buku bacaan dari seorang kawannya di Universitas Brawijaya, ia berani mendesak dosennya untuk membimbingnya membuat mesin Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) .
Anak muda itu dikenal dengan nama Sucipto. Serupa dengan namanya sebuah mesin mikrohidro tercipta dari keterampilan tangannya. Mikrohidro ciptaan Sucipto bekerja dengan cara memanfaatkan air yang mengalir di sungai.
Air sungai Besuk Semut terlebih dahulu akan ditampung di bendungan. Di bendungan itu dipasang semacam besi-besi berongga yang fungsinya menyaring sampah dan kerikil. Air yang sudah bersih dari sampah dan kerikil kemudian masuk ke pipa. Air yang masuk pipa menggerakkan roda turbin. Daya yang dihasilkan terhubung ke generator. Dari generator muncul daya listrik.
"Saat itu ada 100 lebih rumah akhirnya mendapat pasokan listrik dari mikrohidro," ucapnya
Nama Sucipto moncer seiring dengan keberhasilannya membuat mikrohidro. Dia kerap dipanggil memasang hidromikro di pelosok-pelosok desa di Indonesia. Bahkan dia disebut kemudian sebagai Dokter Listrik.
Ikhtiar Sucipto terus berbuah manis. Tahun 2012 dia mendapat penghargaan pelopor energi terbarukan wilayah Jawa Timur.
Dia mendapatkan banyak dana hibah, satu di antaranya dari Pembangkit Listrik Nasional sebesar Rp165juta. Dana tersebut kemudian digunakan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang lebih besar.
Sucipto menyebut PLTA kedua ini dengan sebutan mikrohidro unit II. Daya listrik yang dihasilkan mencapai 30 ribu Kilowatt. Daya sebesar itu bisa digunakan untuk menerangi 400 lebih rumah berdaya listrik 450 Volt Ampere. Hingga sekarang setidaknya ada 116 rumah terpasok listrik dari hasil mikrohidro.
Microhidro Selamatkan Lingkungan dan Mesti terus Diupayakan
Prigi Arisandi merupakan seorang aktivis lingkungan yang berpuluh-puluh tahun menyoroti masalah sungai. Setahunnya dalam mengolah mikro hidro sungai harus bebas dari sampah. Dia membayangkan andai saja banyak daerah yang membuat mikrohidro, pasti banyak ekosistem sungai yang terjaga.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/listrik-dari-mikrohidro.jpg)