Sulawesi Utara
Selamat Datang di Superhub PDIP Jatim

Pilpres 2024

Respons Ahok Dituding Kuda Putih Jokowi: Ga Mungkin Nama Saya Disusupi, Kuak Hubungan dengan Bu Mega

Narasi kuda putih Jokowi dibantah oleh Ahok. Basuki Tjahaja Purnama sebut dirinya adalah orang yang terbuka dan tak suka bermain sandiwara.

|
Editor: Elma Gloria Stevani
KOMPAS/RIZA FATHONI
Presiden Joko Widodo bersama Basuki Tjahja Purnama alias Ahok yang disebut kuda putih Jokowi. 

TRIBUNJATIM.COM - Narasi yang menyebutkan politikus PDIP Basuki Tjahaja Purnama (BTP) atau Ahok sebagai kuda putih Jokowi kini ramai dicuitkan di media sosial X Twitter.

Narasi kuda putih Jokowi itu dibalas capres nomor urut 3 Ganjar Pranowo dengan menyatakan 'semua bisa berasumsi'.

Ahok pun memberikan respons terkait narasi kuda putih Jokowi yang diarahkan kepadanya.

Tepat pada hari Rabu (7/2/2024), Ahok telah mengundurkan diri sebagai komisaris utama PT Pertamina (Persero).

Ahok mengatakan dirinya akan ikut mengkampanyekan paslon nomor urut 3 Ganjar-Mahfud.

Adapun Ahok mengaku akan fokus memenangkan Ganjar-Mahfud di wilayah DKI Jakarta.

Hal itu disampaikan Ahok usai menghadiri acara kampanye akbar Ganjar-Mahfud bertajuk 'Salam Metal' di Gelora Bung Karno beberapa waktu lalu

Entah apa penyebabnya, mantan Gubernur DKI Jakarta itu disebut sebagai kuda putih Jokowi.

 

Namun yang jelas banyak pihak meyakini Ahok adalah kuda putih yang sengaja dimainkan Jokowi untuk mengacau PDI Perjuangan dari dalam melalui media sosial.

Pengguna medsos atau netizen menyampaikan pandangan ini karena beberapa hal.

Ahok disebut akan menghambat pembentukan koalisi paslon nomor 3 dan paslon nomor 1 Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar, jika Pilpres 2024 berlangsung dua putaran.

Apabila, paslon 3, Ganjar-Mahfud lolos ke putaran kedua Pilpres 2024, kemungkinan tidak akan berkoalisi dengan paslon nomor 1.

Terkait hal itu, Ganjar Pranowo tak mau ambil pusing apabila dukungan Ahok kepadanya menutup pintu dukungan dari pendukung AMIN bila lolos ke putaran kedua Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.

Ganjar berharap, orang-orang mendukungnya atas nilai mereka yang percayai dan dia tak masalah bila ditinggalkan karena nilai tersebut.

"Kalau orang nanti mau bergabung atau tidak bergabung, kami punya nilai dan nilai itu secara universal bisa dipertanggung jawabkan. Take it or leave it, itu saja," kata Ganjar di Balikpapan, Selasa (6/2/2024).

Menurut Ganjar, semua pihak bisa mempertimbangkan pilihannya masing-masing serta berasumsi mengenai dampak kehadiran Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok terhadap peta politik.

Namun, Ganjar menilai Ahok merupakan seseorang yang memegang teguh sebuah nilai.

"Dia sudah lama bersama saya dan tentu saja dia punya nilai-nilai, nilai-nilai itu dia tunjukkan waktu jadi anggota DPR, waktu jadi wakil gubernur, kemudian menjadi gubernur sebentar," ujar Ganjar.

Ganjar meyakini bahwa Ahok masih punya nilai yang sama ketika terjerat kasus penodaan agama hingga keluar penjara, menjadi komisaris utama PT Pertamina (Persero), hingga akhirnya mundur untuk mendukung dirinya.

"Ingat semua kasusnya? Orang jualan ayat, dan kemudian dia masuk penjara, dan dia ikhlas itu, lalu dia menjadi seorang profesional dengan bayaran yang cukup, dan dia memilih keluar untuk membantu saya karena sebuah nilai," kata Ganjar

Oleh sebab itu, Ganjar berharap agar orang mendukung dirinya karena nilai yang diperjuangkan, seperti yang dilakukan Ahok.

Narasi kuda putih Jokowi kemudian dibantah oleh Ahok dengan mengatakan bahwa dirinya adalah orang yang terbuka dan tak suka bermain sandiwara. Sehingga narasi yang beredar adalah tidak benar.

"Jadi nggak mungkin namanya saya disusupi Pak Jokowi. Saya di PDI Perjuangan itu sebelum saya kenal Pak Jokowi. Hubungan saya dengan Bu Mega ini sudah seperti keluarga. Jadi nggak ada (kuda putih)," kata Ahok pada hari Rabu (7/2/2024).

Mantan Gubernur DKI Jakarta ini kemudian menjelaskan bahwa Jokowi seharusnya bisa mengikuti sistem meritokrasi seperti yang dilakukan PDIP.

"Kenapa tiba-tiba bilang anakku nggak bisa, tiba-tiba anakku ikut (cawapres)," lanjut Ahok.

Ia pun menyinggung mengenai perjuangannya memenangkan Jokowi dua putaran yang juga melawan Prabowo.

Adapun di lain kesempatan, Ahok mengatakan bahwa dirinya memiliki sikap loyal atas perjuangan.

Hal ini disampaikannya di rumah aspirasi relawan Ganjar-Mahfud, Jakarta Pusat, Minggu (4/2/2024).

Sehingga meskipun memiliki hubungan baik dengan Jokowi, Ahok tidak meninggalkan PDIP.

"Makanya saya sangat menghargai Ibu Mega. Beliau tidak pernah ngajak saya menyerang Pak Jokowi," katanya.

Sejalan dengan itu, PDIP juga buka suara mengenai narasi "Kuda Putih Jokowi" yang diberikan kepada Ahok.

Sekjen PDIP Hasto Kristianto dengan tegas menepis isu tersebut dan mengatakan bahwa apa yang dilakukan Ahok saat ini adalah panggilan nurani untuk bangsa.

"Nggak ada kuda putih, tapi itu kemungkinan besar mengejutkan Pak Jokowi. Bagaimana pun Pak Ahok ini adalah one of the person terhadap keberhasilan dari Pak Jokowi saat itu," kata Hasto di depan wartawan pada Senin (5/2/2024).

Hasto Kristiyanto berharap dukungan Ahok untuk Ganjar Pranowo-Mahfud MD diikuti oleh Jokowi.

Hal ini disampaikan menjawab adanya pertanyaan bahwa munculnya Ahok mendeklarasikan dukungan pada Ganjar-Mahfud sebagai kuda putih Jokowi guna mencegah terjadinya koalisi dengan kubu Anies-Muhaimin.

Ahok cerita kedekatannya dengan Jokowi

Dikutip dari Kompas.com, Ahok bercerita tentang kedekatannya dengan Presiden Joko Widodo. Ahok mengaku selalu menganggap Jokowi sebagai teman.

Bahkan, ketika sejumlah pihak mengajaknya berpaling mendukung Prabowo Subianto yang pada Pemilu Presiden (Pilpres) 2019 bersaing dengan Jokowi, Ahok menolak.

Kisah ini disampaikan Ahok usai acara Deklarasi Relawan Ahokers di Jakarta Pusat, Minggu (4/2/2024).

“2019, ketika adik perempuan saya yang kandung meminta saya mendukung Pak Prabowo (dan) meninggalkan Pak Jokowi, yang telah istilahnya, bagi dia, meninggalkan saya masuk ke tahanan, padahal polisi jaksa di tangan kuasa beliau (Jokowi), para Ahokers datang pada saya mau meninggalkan Pak Jokowi, saya tulis di secarik kertas, mungkin Ahokers masih ingat, ‘A friend is always loyal’,” kata Ahok

Ahok mengatakan, dirinya bukan loyal kepada Jokowi secara individu, melainkan setia kepada perjuangan.

"Bagaimana mungkin kita membiarkan Pak Jokowi dia mau lanjutkan periode kedua, menyerahkan pada pak Prabowo untuk memimpin. Maka saya tidak rela," ujarnya.

Meski telah menolak, sejumlah pihak terus berusaha membujuk Ahok untuk meninggalkan Jokowi dan mendukung Prabowo.

Sampai-sampai, adik perempuan Ahok menyinggung soal kemungkinan kakaknya dijebloskan ke penjara lagi jika Jokowi menang Pemilu 2019.

“Adik saya bilang, ‘Nanti kamu bisa dipenjara lagi lho kalau itu menang lho’,” kata Ahok mengingat ucapan adiknya.

“Kalau penguasa mau zalim apa juga bisa. Emangnya Pak Jokowi enggak bisa? Oh, Pak Jokowi orang baik,“ ucap Ahok, masih menirukan sindiran sang adik.

“(Adik Ahok bilang) ‘Kalau dia menang pun enggak mungkin penjarakan kamu, kan teman. Lagi pula teman aja biarin kamu masuk penjara kok,’ dia bilang. Dia sampai segitunya ke saya,” lanjut Ahok.

Namun, kala itu, Ahok tetap bersikukuh menolak berpaling dari Jokowi karena memegang prinsip bahwa seorang teman selalu loyal ke temannya.

Mendapati dinamika politik terkini di mana Jokowi terkesan condong ke pasangan capres-cawapres nomor urut 2 Pilpres 2024, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, Ahok mengaku disentil oleh rekan-rekannya.

“Makanya hari ini mereka tanya, ada yang telepon saya, teman-teman dekat juga, 'Kenapa kamu nggak menggunakan a friend is always loyal? Friend-mu kan sudah ke 02?’,” tutur Ahok.

jokowi ahok kompas

Ahok mengatakan bahwa dirinya bakal meninggalkan siapa pun yang berbeda secara prinsip kebenaran dan keadilan.

Oleh karenanya, ia tidak mengikuti Jokowi yang dekat dengan kubu Prabowo-Gibran, melainkan menyatakan dukungan untuk capres-cawapres nomor urut 3, Ganjar Pranowo-Mahfud MD.

“Siapa pun yang telah berbeda secara kebenaran, keadilan, peri kemanusiaan, dan kejujuran, maka saya pasti tinggalkan dengan segala risiko,” kata Ahok.

Ahok bahkan rela meninggalkan jabatannya sebagai Komisaris Utama PT Pertamina untuk fokus memenangkan Ganjar-Mahfud. 

Dirinya mengaku, manuvernya sempat dilarang oleh Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri.

Namun, Ahok tetap berkukuh lantaran keputusannya sudah bulat.

“Akhirnya saya bilang (ke Megawati) ‘Ibu, kalau saya enggak mau berjuang untuk Pak Ganjar dan Pak Mahfud sekarang, saya akan menyesal seumur hidup saya. Izinkan saya keluar untuk melawan,” tutur Ahok.

Untuk diketahui, Ahok telah memutuskan mundur dari jabatan Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) untuk fokus mengampanyekan Ganjar-Mahfud pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.

Ia memilih mundur agar tidak ada kebingungan di masyarakat terkait arah politik dirinya.

“Karena tanggung jawab untuk tidak menggunakan fasilitas negara, tanggung jawab untuk mengedepankan totalitas sebagai pemimpin dari rakyat dan kemudian diikuti pergerakan dari perguruan tinggi yang mendorong agar demokrasi dari kedaulatan rakyat ini bisa diselamatkan," kata Ahok.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com

---

Berita Artis dan Berita Jatim lainnya

Informasi lengkap dan menarik lainnya di GoogleNews TribunJatim.com

Sumber: Tribunnews.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved