Berita Jember

Ada 1.141 Pasien di Jember Terpapar TBC, 352 di Antaranya Balita

SSR Yayasan Bhanu Yasa Sejahtera (Yabhysa) menggelar pertemuan bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jember, Selasa (25/6/2024)

Penulis: Imam Nawawi | Editor: Ndaru Wijayanto
TRIBUNJATIM.COM/IMAM NAWAWI
Manajer Kasus Komunitas Yabhysa Jember Yulanda Irma Tiara (kiri) dan Kabid P2P Dinkes Jember dr Rita Wahyuningsih (kanan) 

Sementara, Manajer Kasus Komunitas Yabhysa Jember, Yulanda Irma Tiara mengatakan anak – anak merupakan kelompok yang rentan terhadap penyakit ini, dan penanganannya memerlukan pendekatan khusus secara intensif. 

"Kegiatan pekan skrining tuberkulosis serentak ini dilaksanakan di 30 Kecamatan di Kabupaten Jember oleh Yabhysa Jember. Jumlah capaian Terapi Pencegahan Tuberkulosis pada tahun 2023 sebanyak 365 Balita. Dan data IK Terapi Pencegahan Tuberkulosis tahun 2024 mencapai 352 Balita," katanya.

Gejalanya terhadap pasien anak-anak  ditandai batuk lebih dari dua minggu.  Selain itu, kata dia, mereka berkeringat saat malam hari tanpa gejala dan sesak nafas.

Yulan menjelaskan dalam upaya pencegahan penyakit menular ini, Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) ini memiliki 150 kader yang tersebar di Kabupaten Jember.

"Jadi per desa ada satu kader. Selain ditugaskan menemukan kasus TBC mereka juga diminta melakukan pendampingan terhadap pasien pasien TBC," paparnya.

Ia mengatakan ini unjung tombak program Eliminasi TBC 2030 di Kabupaten Jember adalah para kader Yabhysa di desa-desa itu. Sebab mereka yang berkunjung ke rumah penderita.

"Kader-kader yang melakukan kunjungan ke rumah dan memberikan edukasi ke masyarakat bersama penanggung jawab program TBC di Puskesmas," ulas Yulan.

Yulan mengatakan beberapa kendala kader Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) ini saat melakukan investigasi kontak penularan TBC di rumah pasien. Mereka tidak disambut hangat oleh keluarga penyintas.

"Ada yang benar-benar tidak mau dikunjungi oleh kader, ada yang mau dikunjungi tapi kami tidak boleh berkeliling ke rumah tetangganya," ungkapnya.

Mengingat, katanya, sebagian pasien itu malu ketika diketahui lingkungannya kalau terpapar penyakit TBC. Sehingga mereka melarang kader Yabhysa berkunjung di tetangga mereka.

"Mereka takut kami akan memerintahkan pasien ini sakit ini sakit itu. Jadi masih ada yang seperti itu," kata Yulan.

Kendala lain saat melakukan investigasi, Yulan mengutarakan ketika melakukan tes dahak terhadap pasien saat di Puskesmas. Hal itu juga menyulitkan proses diagnosa penyakit.

"Ada yang di kasih, ada yang dahaknya sedikit akhirnya sulit dites. Padahal sudah terlanjur dibawa ke Puskesmas. Sementara kalau penderitanya adalah balita kendalanya orang tuanya mencoba menutupi dari kami, dengan alasan anaknya baru batuk kemarin tidak apa-apa," ulasnya.

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved