Berita Jember

Ada 1.141 Pasien di Jember Terpapar TBC, 352 di Antaranya Balita

SSR Yayasan Bhanu Yasa Sejahtera (Yabhysa) menggelar pertemuan bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jember, Selasa (25/6/2024)

Tayang:
Penulis: Imam Nawawi | Editor: Ndaru Wijayanto
TRIBUNJATIM.COM/IMAM NAWAWI
Manajer Kasus Komunitas Yabhysa Jember Yulanda Irma Tiara (kiri) dan Kabid P2P Dinkes Jember dr Rita Wahyuningsih (kanan) 

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Imam Nawawi

TRIBUNJATIM.COM, JEMBER- SSR Yayasan Bhanu Yasa Sejahtera (Yabhysa) menggelar pertemuan bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jember, Selasa (25/6/2024)

Kegiatan tersebut untuk pertemuan validasi data layanan masyarakat dan kesehatan tiap triwulan untuk program Tuberkulosis (TBS) di Kabupaten Jember pada 2024.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Jember dr. Rita Wahyuningsih mengatakan, selama 2024 ini terdapat 7600 an pasien yang diduga terpapar TBC.

"Namun dari 7600 an itu, yang dinyatakan ada 1141 pasien yang positif terpapar TBC," ujarnya.

Menurutnya, tidak semua pasien yang positif TBC itu menjalani pengobatan di fasilitas kesehatan pemerintah. Sebab berdasarkan data di atas , hanya 913 pasien yang memperoleh perawatan medis.

"Jadi masih kisaran 80 pasien positif TBC yang menjalani pengobatan. Ini yang jadi tantangan bagi bidang pengendalian penyakit di Kabupaten Jember," kata dr Rita.

Baca juga: Pindahan dari Rutan Medaeng, Puluhan Napi Baru Lapas Madiun Langsung Tes TBC dan HIV, ini Hasilnya

dr Rita menguraikan,rata-rata yang terpapar virus Mycobacterium Tuberculosis adalah pasien usia dewasa. Sebab mereka mobilitasnya tinggi di luar rumah.

"Karena usia produktif, ada yang kerja di kantor ada yang kerja di luaran. Akhirnya ketemu orang-orang yang berisiko TBC tinggi, tapi tidak terdiagnosa akhirnya tertular," urainya.

Sementara untuk pasien anak yang terpapar TBS, dr Rita menduga mereka tertular anggota keluarga dalam satu rumah.

"Anak itu berinteraksi dengan penderita tinggi dari orang dewasa. Seperti itu," ucapnya.

dr Rita mengatakan kalau gejala penyakit ini, paling mudah dideteksi pasien dewasa. Sebab hal itu ditandai dengan batuk berkepanjangan lebih dari dua minggu.

"Serta penurunan berat badan dan berkurangnya nafsu makan itu untuk dewasa. Sementara untuk anak ini agak sulit dideteksi, karena anak yang terpapar TBC gejalanya itu batuk, sehingga diperlukan pemeriksaan penunjang, dengan memeriksa bagian kulit," ulasnya.

Sebarkan kasus itu, kata dia, berada di tiga kecamatan Kota di Kabupaten Jember. Bahkan lokasi ini masuk zona merah.

Baca juga: Ratusan Anak dan Balita Terinfeksi TBC di Gresik, ini Penanganan dari Pemkab

"Kenapa bisa merah, ada banyak faktor. Bisa karena penularannya atau bisa kemudahan aksesnya di fasilitas kesehatan dan pemahaman masyarakatnya mau berobat sehingga ditemukan dengan cepat," ucap dr Rita.

Sementara, Manajer Kasus Komunitas Yabhysa Jember, Yulanda Irma Tiara mengatakan anak – anak merupakan kelompok yang rentan terhadap penyakit ini, dan penanganannya memerlukan pendekatan khusus secara intensif. 

"Kegiatan pekan skrining tuberkulosis serentak ini dilaksanakan di 30 Kecamatan di Kabupaten Jember oleh Yabhysa Jember. Jumlah capaian Terapi Pencegahan Tuberkulosis pada tahun 2023 sebanyak 365 Balita. Dan data IK Terapi Pencegahan Tuberkulosis tahun 2024 mencapai 352 Balita," katanya.

Gejalanya terhadap pasien anak-anak  ditandai batuk lebih dari dua minggu.  Selain itu, kata dia, mereka berkeringat saat malam hari tanpa gejala dan sesak nafas.

Yulan menjelaskan dalam upaya pencegahan penyakit menular ini, Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) ini memiliki 150 kader yang tersebar di Kabupaten Jember.

"Jadi per desa ada satu kader. Selain ditugaskan menemukan kasus TBC mereka juga diminta melakukan pendampingan terhadap pasien pasien TBC," paparnya.

Ia mengatakan ini unjung tombak program Eliminasi TBC 2030 di Kabupaten Jember adalah para kader Yabhysa di desa-desa itu. Sebab mereka yang berkunjung ke rumah penderita.

"Kader-kader yang melakukan kunjungan ke rumah dan memberikan edukasi ke masyarakat bersama penanggung jawab program TBC di Puskesmas," ulas Yulan.

Yulan mengatakan beberapa kendala kader Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) ini saat melakukan investigasi kontak penularan TBC di rumah pasien. Mereka tidak disambut hangat oleh keluarga penyintas.

"Ada yang benar-benar tidak mau dikunjungi oleh kader, ada yang mau dikunjungi tapi kami tidak boleh berkeliling ke rumah tetangganya," ungkapnya.

Mengingat, katanya, sebagian pasien itu malu ketika diketahui lingkungannya kalau terpapar penyakit TBC. Sehingga mereka melarang kader Yabhysa berkunjung di tetangga mereka.

"Mereka takut kami akan memerintahkan pasien ini sakit ini sakit itu. Jadi masih ada yang seperti itu," kata Yulan.

Kendala lain saat melakukan investigasi, Yulan mengutarakan ketika melakukan tes dahak terhadap pasien saat di Puskesmas. Hal itu juga menyulitkan proses diagnosa penyakit.

"Ada yang di kasih, ada yang dahaknya sedikit akhirnya sulit dites. Padahal sudah terlanjur dibawa ke Puskesmas. Sementara kalau penderitanya adalah balita kendalanya orang tuanya mencoba menutupi dari kami, dengan alasan anaknya baru batuk kemarin tidak apa-apa," ulasnya.

Sumber: Tribun Jatim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved