Sulawesi Utara
Selamat Datang di Superhub PDIP Jatim

Berita Viral

Nasib Nenek Sarti Seharian Jaga WC Umum Demi Suami yang Sakit, Diupah Rp 10 Ribu, Tak Bisa Mendengar

Nasib Nenek Sarti, penjaga WC umum yang hanya diupah Rp 10 ribu per hari. Nenek Sarti ternyata sudah tak bisa mendengar.

Editor: Torik Aqua
Instagram
Mbah Sarti penjaga WC umum yang diupah Rp 10 ribu per hari, kerja demi suaminya yang sedang sakit 

Sehari-hari Udin bekerja sebagai kuli bangunan.

Melansir dari Kompas.com, Udin mengaku memilih tinggal di toilet umum karena tidak memiliki rumah.

“Tinggal di sini karena tidak ada rumah, tinggal sama orangtua juga susah, jadi ingin mandiri saja tinggal di sini,” kata Udin saat ditemui di tempat tinggalnya, Selasa (4/6/2024). 

Bila dilihat sepintas dari luar, toilet umum yang dibangun sekitar 2014 tersebut terlihat masih seperti bangunan yang dibangun pertama kali. 

Dalam toilet itu terdapat tiga ruangan

Namun saat masuk ke dalam ruangan, dua ruang di toilet diubah dan dindingnya dijebol dijadikan satu sehingga menjadi kamar. 

Baca juga: Dulu Main Judi Pakai Uang Pensiunan, Kakek Abe Kini Hidup Gelandangan 15 Tahun, Tinggal di Gubuk

Ukuran kamarnya pun sangat kecil dengan panjang 3 meter dan lebar hanya 1,5 meter tanpa jendela.
Kemudian di bagian atas pembatas toilet ditutup dengan tripleks sehingga dijadikan ruang utama. 

“Anak-anak tidurnya di ruang utama ini. Kalau saya dan istri di dalam kamar,” katanya lagi.

Udin menjelaskan, sebelumnya, ia bersama anak dan istrinya tinggal di gubuk di tepi laut milik keluarganya.

Namun karena rumahnya sudah mau roboh diterjang angin kencang, Udin yang saban harinya hanya bekerja sebagai buruh bangunan ini akhirnya memilih tinggal di toilet umum. 

Apalagi toilet umum tersebut sudah lama tidak digunakan warga, karena semua warga sudah mempunyai toilet masing-masing dalam rumahnya. 

Baca juga: Tinggal di Rumah Dinding Bolong, Cecep Sisihkan Uang Buat Bersihkan Masjid: Ketenangannya Beda

“Jadi saya minta izin sama kepala desa untuk tinggal di sini (toilet), dan diizinkan dan lahan ini juga milik mertua,” ucapnya. 

Selain sudah tinggal selama 5 tahun di toilet umum tersebut, Udin juga mengaku kesulitan karena ruangannya yang sempit.

Kini Udin hanya berharap agar pemerintah dapat memberikan bantuan untuk tempat tinggal yang layak. 

Udin, warga Desa Kancinaa, Kecamatan Pasarwajo, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, sudah lima tahun tinggal di water closed atau toilet umum bersama anak dan istrinya. Ia mengaku memilih tinggal di toilet umum karena tidak memiliki rumah
Udin, warga Desa Kancinaa, Kecamatan Pasarwajo, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, sudah lima tahun tinggal di water closed atau toilet umum bersama anak dan istrinya. Ia mengaku memilih tinggal di toilet umum karena tidak memiliki rumah (DEFRIATNO NEKE)

Sementara itu, sebuah video seorang kakek renta penjual pisang menawarkan dagangannya ke rumah-rumah warga juga viral di media sosial.

Penjual pisang tersebut merupakan sudah lansia namun tetap semangat mencari nafkah.

Ternyata di balik usahanya itu ada kisah pilu yang ditanggungnya.

Ia terpaksa masih mencari nafkah dengan kondisinya yang sudah renta karena hidup sebatang kara.

Kini, kisah pilu kakek renta itu viral setelah dibagikan akun Instagram @adiefwafi, dikutip dari Tribunjabar.id, Selasa (4/6/2024).

Baca juga: Kisah Pria 5 Tahun Tinggal di Toilet Umum Bersama Istri & Anaknya, Rela Tidur di Kloset Sempit

Dalam video tersebut memperlihatkan kakek renta yang disebut Mbah itu terduduk di depan rumah warga.

Ia membawa buah pisang yang dia tanggung untuk dijual.

Dari sekilas kondisi kakek penjual pisang tersebut tampak sudah tidak lagi dalam keadaan bugar.

 Tubuhnya yang mungil gemetar seperti tak kuat lagi menopang beban badannya dan beban lainnya.

Namun, ia harus membawa buang pisang dagangannya yang dipikul menggunakan kayu di pundaknya.

Dalam keterangan pengunggah menceritakan kakek renta tersebut berjualan menawarkan pisang ke rumah-rumah warga.

Ia merasa iba melihat keadaan kakek penjual pisang tersebut tampak sudah tidak layak lagi berjualan.

Ia kagum karena di usianya yang sudah berumur masih tetap semangat.

Baca juga: Kini Tinggal di Gubuk, Pinkan Mambo Sadar Sudah Tak Terkenal, Ungkit Perlakuan Maia: Aku Merasa Kaya

Pengunggah menyebut kakek renta tersebut menjual pisangnya seharga Rp 15 ribu per sisir.

Harga tersebut berbeda-beda tergantung jenis pisangnya.

Diceritakan bahwa kakek renta penjual pisang berjualan setiap hari dari pagi sampai sore.

Hal yang memilukannya ternyata ia membantu menjualkan pisang tersebut milik orang lain.

Dari hasil penjualan pisang tersebut sang kakek hanya mendapat upah jika laku 1 sisir mendapatkan Rp 5 ribu.

Meski hanya mendapat upah yang tak seberapa, kakek terpaksa melakukan pekerjaan tersebut.

Ternyata alasan ia masih tetap semangat berjualan karena ia hidup sebatang kara.

Diungkap pengunggah, kakek renta tersebut berjualan pisang untuk bertahan hidup.

“Mbah pisang sebatang kara tinggal sendirian dirumah , beliau jualan hanya untuk menyelamatkan perutnya sendiri demi untuk bertahan hidup,” tulis pengunggah.

Karena merasa iba dan prihatin, pengunggah tergerak untuk memberikan bantuan kepada kakek renta tersebut dengan membuka donasi.

Kini, video kisah pilu kakek renta penjual pisang tersebut viral dan mendapat perhatian dari warganet.

Tak sedikit warganet ikut merasakan kesedihan atas nasib kakek penjual pisang tersebut.

Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews TribunJatim.com

Artikel ini telah tayang di Tribun Jabar

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved