Berita Tulungagung
Wanita di Tulungagung Ubah Talas Jadi Keripik dan Nasi Thiwul Instan, Bukan lagi Tanaman Murahan
Wanita di Tulungagung ubah tanaman talas menjadi keripik dan nasi thiwul instan, bukan lagi hanya tanaman murahan, berawal dari ketidaksengajaan.
Penulis: David Yohanes | Editor: Dwi Prastika
Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, David Yohanes
TRIBUNJATIM.COM, TULUNGAGUNG - Talas sebelumnya menjadi tanaman liar yang tumbuh di pekarangan atau kebun milik warga.
Tanaman ini kurang diminati, biasanya hanya direbus untuk dimakan langsung tanpa diolah.
Namun kini, tanaman ini harganya meroket karena dianggap mempunyai nilai ekonomis tinggi.
“Dulu tumbuh begitu saja tidak ada yang melirik. Tapi sekarang sering kesulitan pasokan,” ujar Melisa Susanti (32), warga Dusun Perkebunan, Desa Kresikan, Kecamatan Tanggunggunung, Tulungagung, Jawa Timur, Sabtu (10/8/2024).
Di wilayah pegunungan seperti Kecamatan Tanggunggunung, talas kalah populer dibanding ketela.
Bahkan dulu sering kali dibuang-buang karena dianggap tidak menarik.
Namun kini talas telah berubah menjadi komoditas yang menarik, setelah diolah menjadi keripik.
Harganya yang dulu hanya Rp 2.000 per kilogram, sekarang melonjak Rp 5.000 per kilogram
Melisa adalah salah satu warga yang menekuni usaha keripik talas atau enthik di bahasa lokal.
Ia mulai merintis usaha ini sejak tahun 2022 karena melihat ketersediaan talas di kampungnya.
“Saat itu mulai mencoba, ternyata pasarnya bagus. Sekarang 1 bulan bisa menghasilkan sekitar Rp 100 kg keripik talas,” ucapnya.
Dalam proses produksi, 1 kg talas rata-rata akan menjadi 0,5 kg keripik.
Baca juga: Kerajinan Patchwork Milik Ibu di Ponorogo Tembus Amerika dan Malaysia, Manfaatkan Kain Perca
Melisa menjual keripik produksinya Rp 60.000 per kilogram dalam bentuk curah.
Produksinya sudah diambil oleh para reseller, atau dijual sendiri dalam kemasan dengan label Keripik Ubi dan Enthik Makmur.
Sedangkan untuk yang premium dijual Rp 27.500 per 50 gram.
Keripik enthik premium ini yang sebelumnya sudah sempat ikut kurasi untuk ekspor.
Sayangnya Melisa tidak meneruskan penjajakan proses ekspor ini dengan alasan ketersediaan bahan baku.
“Sempat ikut proses kurasi, tapi saat akan presentasi akhirnya saya mundur. Saya justru takut kalau lolos malah kesulitan bahan baku,” tegasnya.
Nasi Thiwul
Produk dari talas lainnya yang dimiliki Melisa adalah nasi thiwul instan.
Produk ini ditemukan secara tidak sengaja karena Melisa salah membeli bahan baku.
Satu karung berisi 100 kg talas yang dibeli dari Pasar Ngemplak Tulungagung, ternyata berisi talas gatal.
“Kalau dibuat keripik di lidah masih terasa gatalnya. Mau dibuang juga sayang karena banyak sekali,” kenang Melisa.
Melisa lalu mendapat inspirasi untuk mengolah talas gatal itu menjadi thiwul.
Sebelumnya, Kecamatan Tanggunggunung adalah salah satu produsen gaplek atau ketela pohon kering, bahan baku untuk thiwul.
Melisa mengolah talas gatal ini layaknya membuat thiwul dari ketela pohon.
Talas lebih dulu dikupas, dicuci bersih dan potong-potong lalu dijemur hingga kering dan menjadi gaplek.
Setelah kering, gaplek talas ini lalu direndam lagi untuk memudahkan penumbukan.
Gaplek kemudian ditumbuk dan diambil tepungnya.
“Tepungnya ini diolah seperti mengolah thiwul seperti biasa. Dikasih air kemudian dikukus seperti menanak nasi,” paparnya.
Hasil masakan ini kemudian dikeringkan secara sempurna menjadi produk thiwul instan.
Produk yang sudah dikeringkan lalu dikemas untuk dipasarkan.
Dengan cara ini, rasa gatal dalam talas bisa dihilangkan.
Untuk memasak thiwul instan cukup direndam dalam air sampai melunak, lalu dikukus seperti biasa.
Thiwul talas instan ini ternyata banyak diminati, karena tinggi serat dan aneka nutrisi lain.
Produknya dipakai untuk mereka yang sedang dalam program penurunan berat badan.
“Karena bahan bakunya sulit, sebulan paling hanya bisa buat 10 kg. Ini sudah ada pesanan masuk tapi belum bisa melayani,” ucap Melisa.
Sayangnya saat TribunJatim.com datang ke rumahnya, produk thiwul talas instan ini sudah habis dikirim ke pembeli.
Melisa menjual thiwul talas ini dalam kemasan 80 gram seharga Rp 5.000.
Peminatnya tidak hanya lokal Tulungagung, namun sampai di Kalimantan dan Lombok NTB.
Thiwul talas instan ini menjadi terobosan karena memanfaatkan talas gatal menjadi produk berharga.
“Awalnya karena salah beli bahan baku, tapi ternyata malah jadi terobosan produk baru,” pungkasnya.
tanaman liar
Desa Kresikan
Kecamatan Tanggunggunung
Tulungagung
keripik talas
thiwul instan
TribunJatim.com
berita Tulungagung terkini
Tribun Jatim
berita Jatim terkini
cenderaloka
Menyusul Kades Suratman, Pemilik Apotek Jadi Tersangka Dugaan Korupsi di Desa Tambakrejo Tulungagung |
![]() |
---|
Gerakan Cabut Paku Warnai Peringatan HUT ke-57 SMA Katolik Tulungagung |
![]() |
---|
Damri Buka Suara Terkait Pengurangan Armada Trayek Tulungagung-Ponorogo dan Potensi Trayek Baru |
![]() |
---|
Pohon Kawasan Hutan di Selatan Tulungagung Sengaja Dimatikan untuk Pertanian, Lahan Diperjualbelikan |
![]() |
---|
Rencana Pembangunan TPST Tulungagung di Dekat Pasar Hewan Terkendala Anggaran |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.