Berita Surabaya

Eri Cahyadi Persembahkan Karangan Bunga Unik, Berupa Bibit Tanaman saat Dies Natalies ITS ke-64

Eri Cahyadi mengirimkan karangan bunga unik pada peringatan Dies Natalis Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) ke-64.

Istimewa
Eri Cahyadi mengirimkan karangan bunga unik pada peringatan Dies Natalis Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) ke-64. Ketua Ikatan Keluarga Alumni (IKA) ITS Jawa Timur mengirimkan bibit tanaman yang dirangkai menjadi karangan bunga. 

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Bobby Constantine Koloway

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Eri Cahyadi mengirimkan karangan bunga unik pada peringatan Dies Natalis Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) ke-64.

Ketua Ikatan Keluarga Alumni (IKA) ITS Jawa Timur mengirimkan bibit tanaman yang dirangkai menjadi karangan bunga

Berada di sisi kanan sebelum pintu masuk utama Graha ITS, karangan bunga menarik perhatian ketika bersanding dengan ratusan karangan bunga yang memadati sekitar Gedung Graha Sepuluh Nopember ITS.

Melalui simbol bibit tanaman, Cak ingin menyampaikan pesan terkait kepedulian lingkungan. Serta, juga mengingatkan masyarakat tentang rencananya untuk menciptakan ruang hijau baru di tengah kota.

"Bibit tanaman ini adalah untuk menciptakan penghijauan di Kota Surabaya. Karena saya lagi mencari, ada tidak tanahnya Pemkot Surabaya di tengah kota, yang ditempatnya macet, itu saya ingin buat hutan kota," kata Eri.

Baca juga: Punya Dedikasi Tinggi untuk Surabaya, Risma dan Eri Cahyadi Terima Penghargaan ITS 

Eri menekankan, hutan kota yang baru bukanlah sekadar taman. Namun, hutan yang disiapkan menjadi ruang hijau.

Bukan hanya mampu menyerap karbondioksida dan menurunkan emisi di area perkotaan yang padat, namun juga membantu kita dalam menyegarkan udara. "Hutan kota itu bisa menurunkan emisi, menyerap karbondioksida. Nah, ini yang kita butuhkan hari ini," tutur dia.

Wali Kota Surabaya yang tengah cuti tersebut menjelaskan, ide hutan kota ini muncul dari kebutuhan Kota Pahlawan akan ruang hijau yang luas di tengah kota. Terutama, di wilayah-wilayah yang padat dan rawan kemacetan. 

Baca juga: Tim Lamusa ITS Buat Inovasi Lampu LED Permukaan Hemat Energi, Bantu Penerangan Nelayan

“Hutan kota itu harus minimal 10 hektar, dan harus berada di tengah kota. Karena kalau di daerah pinggiran atau di kawasan mangrove itu sudah biasa,” imbuhnya.

Menurutnya, keberadaan hutan kota penting untuk menghadapi tantangan emisi dan polusi udara yang semakin tinggi. Terutama, di kota besar seperti Surabaya.

"Karena kota besar seperti Surabaya, mau tidak mau banyak yang datang ke Kota Surabaya. Apakah dari kota-kota penunjang seperti Gresik, Sidoarjo, Lamongan, Mojokerto, akan semakin banyak masuk ke Kota Surabaya," sebutnya.

Baca juga: Eri Cahyadi Resmi Nonaktif dari Wali Kota, Pjs Restu Novi Siap Lanjutkan Proyek Strategis Surabaya

Maka dari itu, Eri menyebut, dengan jumlah penduduk dan mobilitas warga dari daerah penyangga yang terus meningkat, Surabaya harus siap menjadi kota yang ramah lingkungan dengan sistem penyerapan emisi yang memadai.

"Maka dengan bibit-bibit inilah yang menjadi dasar ayo kita menanam pohon untuk Kota Surabaya, kita cintai lingkungan kita. Karena tadi seperti yang disampaikan, pengaruh iklim itu sangat berbahaya untuk Kota Surabaya," kata Eri. 

Sumber: Tribun Jatim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved